01 Curang, Dubes Jadi Dalang?

0
50 Ribu Surat Suara Tercoblos di Malaysia, Untuk Jokowi-Ma’ruf dan Anak Dubes

Semua kekhawatiran yang dulu disuarakan mayoritas rakyat negeri ini, rupanya menjadi kenyataan. Ketakutan publik akan terjadinya kecurangan dalam pemilihan umum (pemilu), akhirnya terbukti. Puluhan ribu surat suara, sudah dicoblos sebelum sampai ke tangan pemilih. Kandidat yang diuntungkan, tentu saja capres petahana beserta caleg dari partai politik sekutunya.

Publik Tanah Air gempar dengan kabar terbongkarnya kecurangan jelang pemungutan suara Pemilu 2019 di Malaysia. Seorang kader Partai Demokrat bernama Brem, menemukan karung-karung berisi surat suara yang sudah dicoblos, di dua lokasi di Selangor, Malaysia.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kuala Lumpur, Yaza Azzahara, memastikan semua surat suara itu asli dan valid. Bahkan karungnya masih memakai label diplomatik. Ada sekitar 50 ribu lembar surat suara yang sudah dicoblos untuk kandidat capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin, dan untuk caleg dari Partai Nasdem, Davin Kirana.

Di sini mulai telihat titik terangnya. Davin merupakan putra dari Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana. Rusdi yang merupakan bos maskapai penerbangan Lion Air, adalah orang dekat Jokowi. Ia pernah ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Selain itu, ia juga menjabat wakil ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), parpol yang mengusung Jokowi-Ma’ruf.

Sementara anak buah Rusdi, Wakil Dubes RI untuk Malaysia, Andreano Erwin, saat ini rangkap jabatan sebagai anggota Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (PPLN) di Negeri Jiran. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku pernah memperingati Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan hal ini. Takut terjadi konflik kepentingan. Namun KPU membantah pernah menerima rekomendasi soal PPLN Malaysia.

Dari informasi ini bisa tergambar bagaimana kecurangan itu bisa terjadi. Rusdi sebagai Dubes RI dan wakilnya yang menjabat PPLN, tentu memiliki akses ke surat suara. Dengan semua kepentingannya, memenangkan petahana dan meloloskan sang putra ke Senayan, tak sulit bagi mereka untuk membayar orang mencoblos surat suara yang belum dibagikan ke tangan pemilih.

Baca juga  Kenapa Begitu Takut pada AHY?

Tapi tetap saja, ini baru sebatas dugaan. Biarlah pihak berwenang yang menuntaskan skandal ini agar menjadi terang-benderang. Namun, pemikiran publik tidak bisa dibungkam. Setiap kecurangan yang terjadi, pelakunya pasti orang yang paling diuntungkan. Bukan menuduh si dubes adalah dalang, tapi coba dipikir, siapa lagi paling mungkin bisa melakukan, sekaligus sangat diuntungkan?

Skandal kecurangan ini baru terungkap di satu tempat. Bagaimana dengan negara-negara lain yang juga dihuni oleh WNI. Tidak tertutup kemungkinan bisa terjadi peristiwa serupa. Belum lagi dengan pemilu yang akan digelar di dalam negeri. Kecurangan pasti akan terjadi lagi, sebab, berkaca dari kejadian di Malaysia, penguasa hendak melakukan segala cara untuk mempertahankan singgasananya.

Wajar jika beberapa waktu lalu, rakyat meminta pengawas pemilu luar negeri untuk memantau pesta demokrasi Tanah Air. Melalui media sosial Twitter, sejumlah tagar berkumandang, bahkan sempat menjadi trending topic dunia, seperti #INAelectionObserverSOS dan #IndonesiaCallsCarterCenter. Upaya ini semata untuk menyelamatkan pesta demokrasi yang sudah terlihat tanda-tanda akan dicurangi.

Inilah alasan kuat kenapa rezim ini mesti diakhiri. Demi ambisi berkuasa, Jokowi tak peduli dengan runtuhnya demokrasi. Ia ingin tetap bertahta dengan menghalalkan segala cara. Karenanya, ancaman terbesar terhadap pemerintahan ini bukanlah kudeta, melainkan pada kemerosotan public trust, akibat tabiat buruk pemimpinnya.

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here