Ketika People Power Menjadi Pilihan Akhir

0
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama. (ant)

“Apa yang ditakuti? Kita terus menerus hidup dalam ketakutan. Apa kalian terbiasa hidup dalam ketakutan? Kalau revolusi menang, tidak seorangpun akan ketakutan lagi.”

Sepenggal kalimat itu pernah diucapkan oleh Pramudya Ananta Toer puluhan tahun silam dan ternyata menjadi sangat relevan saat ini. Publik dibuat takut, karena selalu ditakut-takuti sehinga ketika publik sudah takut maka tiranilah yang tumbuh subur.

Rezim berkuasa sekarang sudah menjadi rezim tirani. Rezim yang menindas publik dengan arogansi kekuasaan dan otoriterisme serta represifme bahkan menggunakan lembaga penegak hukum.

Lembaga-lembaga negara yang seharusnya hanya bekerja untuk negara dan untuk menjaga negara tiba-tiba dipaksa bekerja untuk menjaga kekuasaan rezim dan bekerja untuk menyukseskan keinginan rezim yang padahal sangat tidak diinginkan oleh mayoritas publik.

Coba kita lihat penanganan perkara dugaan makar yang dituduhkan pada awal bulan Desember 2016 lalu, hinga sekarang tidak jelas arah perkaranya. Bahkan berkas perkara Sri Bintang Pamungkas harus bolak balik kejaksaan karena tidak memenuhi syarat. Hal ini menunjukkan bahwa kepolisian hanya sekedar bertindak represif untuk melindungi kekuasaan presiden yang merasa terusik oleh Sri Bintang Pamungkas.

Polisi harus jujur dan kembali ke jalan yang benar. Kekuasaan kepolisian sebagai lembaga penegak hukum tidak boleh digunakan untuk menghabisi pihak-pihak yang berseberangan politik.  Andaikan tuduhan makar itu benar adanya, saya yakin 4 minggu berkas perkara sudah pasti P21 dan masuk ke pengadilan. Ini sudah hampir 2 bulan tapi polisi tidak mampu menyajikan fakta dan bukti sehingga kejaksaan mengembalikan berkasnya.

Permasalahan bangsa ini tampaknya akan semakin rumit dan semakin menuju arah kekacauan. Rezim berkuasa memerintah seenak hatinya tanpa memandang kehormatan bangsa dan meninggalkan revolusi yang dibangun oleh para pendiri bangsa. Soekarno pernah berkata, revolusi belum selesai. Jokowi bicara revolusi mental tapi malah menjadikan Istana sebagai panggung bagi orang yang bermasalah secara moral dan hukum.

Rezim berkuasa semakin hari semakin tidak ada yang mengontrol. Lembaga DPR yang seharusnya menjadi kontrol utama bagi pemerintah tidak menjalankan fungsinya secara benar. Bahkan lembaga DPR saat ini hanya menjadi lembaga tukang stempel pemerintah dan mengamini rezim ini menjadi rezim tirani dan penindas.

Kondisi politik Jakarta yang terus memanas juga tidak lepas dari sikap pemerintah yang memaksakan kehendaknya kepada rakyat. Sikap otoriter dikedepankan dan rezim ini merasa akan mampu mengendalikan pikiran dan hati seluruh masyarakat dengan bertindak represif dan menindas.

Mungkin Presiden Jokowi merasa bahwa dia akan bisa mengendalikan segalanya dengan mengerahkan lembaga-lembaga negara seperti Polri, BIN dan TNI. Presiden Jokowi mungkin lupa bahwa dia jadi Presiden adalah atas kekuatan rakyat bukan atas kekuatan Polri, BIN maupun TNI. Lantas kenapa Presiden Jokowi merasa kuat berhadapan dengan kekuatan rakyat?

Upaya memaksakan kehendak di Jakarta sangat kasat mata dengan kondisi yang terjadi saat ini. Upaya keras untuk memenangkan salah satu paslon gubernur jelas terlihat tak terbantahkan. Bahkan dengan satu-satunya cara yaitu kecurangan dalam demokrasi.

Tidak ada cara lain bagi rezim untuk memaksakan keinginannya kecuali dengan jalan kecurangan. Memanipulasi suara rakyat dan mencederai nilai-nilai luhur demokrasi serta kejujuran. Rezim merasa akan mampu melakukan itu meskipun pada akhirnya akan berhadapan dengan masyarakat yang sudah tidak bisa dibodoh-bodohi oleh media-media partisan yang memihak dan tidak lagi memberitakan kebenaran faktual tapi memberitakan opini rekayasa dan persepsi.

Sepertinya kita tidak bisa lagi hanya mengeluh. Tidak cukup lagi hanya menggerutu dan memprotes semata, karena ternyata keluhan itu tidak menghasilkan apa-apa. Sudah saatnya seluruh kaum muda dan tua yang masih mencintai tegaknya negara ini menjadi negara yang dimerdekakan untuk menyejahterakan rakyat bangkit berdiri melawan rezim tirani ini.

Kita ingatkan pemerintah untuk tidak semena-mena dan tidak menjadikan dirinya rezim tirani dan penindas. Biarkan demokrasi berlangsung adil tanpa rekayasa kecurangan. Biarkan Jakarta memilih pemimpinnya tanpa rekayasa kecurangan, karena rakyat pasti akan bangkit melawan jika terus menurus dicurangi dan dimanipulasi dan people power akan menjadi pilihan utama dan pilihan akhir kami.

Ingat… Indonesia untuk orang Indonesia…!!!

Oleh: Ferdinand Hutahaean

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here