Provokasi ala Jokowi

0

Akhir-akhir ini Presiden Jokowi bertingkah tidak seperti seorang negarawan. Hadir di depan rakyatnya, ia menampilkan gestur-gestur provokatif.

Memang tidak ada pihak yang bereaksi dengan sikap itu, tapi tetap saja, tingkah laku seperti itu tidak elok. Karena yang berkelakuan adalah seorang presiden, baiklah kita katakan, cara-cara serupa demikian merusak keteladanan.

Hal ini bermula saat Jokowi mengundang mantan narapidana kasus pembunuhan, Antasari Azhar, ke Istana Merdeka. Keduanya berbicara empat mata. Namun di tengah pembicaraan, pintu sengaja sedikit dibuka agar fotografer Istana bisa mengabadikan momen. Foto yang dibuat agar mengesankan pertemuan tersebut maha penting, kemudian disebar ke publik.

Usai bertemu, keduanya kompak tidak mau memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait isi pembicaraan. Anehnya, baik Jokowi maupun Antasari sama-sama menampilkan gestur yang meminta orang yang bertanya untuk diam. Mereka menempelkan jari telunjuk di bibir, dan enggan menjelaskan maksudnya.

Tentu saja rakyat bisa menilai, apa yang dilakukan Jokowi dan Antasari itu sengaja untuk memprovokasi kubu Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Pasalnya, sejak Antasari keluar dari penjara, para pendukung pemerintah memang bersuara kencang di media sosial. Mereka mengait-kaitkan adanya keterlibatan pemerintahan SBY dalam kasus Antasari. Fitnah itu semakin gencar setelah jamuan di Istana.

Entah mereka amnesia atau memang tidak melek berita, para penuduh ini seperti menafikan fakta-fakta yang sudah terungkap dalam sidang. Antasari sudah terbukti secara sah dan meyakinkan sebagai otak pelaku pembunuhan di setiap tingkatan persidangan. Ia bahkan sudah dua kali mengajukan peninjauan kembali (PK), tapi selalu kandas karena ditolak Mahkamah Agung.

Otak Pembunuhan

Jika kita tengok sekilas ke belakang, pada setiap jenjang persidangan yang ditempuh Antasari, ia selalu dinyatakan bersalah. Mulai dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung, hingga peninjauan kembali, Antasari terbukti menjadi otak pelaku pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen dan dihukum 18 tahun kurungan.

Di persidangan yang berlangsung pada 2009 itu, terungkap motif pembunuhan adalah cinta segi tiga antara Antasari-Rani Juliani-Nasrudin. Antasari curhat ke Sigit Haryo Wibisono dan kemudian Sigit meminta bantuan perwira menengah Kombes Wiliardi Wizard. Setelah itu, Williardi mencari tim eksekutor yaitu Edo dan kawan-kawan.

Sidang Antasari digelar secara transparan. Tidak ada satu bukti pun yang mengindikasikan kasus ini telah direkayasa. Antasari dinilai bersalah di semua tingkatan hukum. Dari 3 hakim tingkat pertama, 3 hakim tingkat banding dan 8 hakim agung. Hanya satu hakim agung yang berpendapat Antasari tidak terlibat kasus pembunuhan tersebut.

Meski begitu, Antasari tetap bersikeras ia tidak bersalah. Kasusnya direkayasa. Sejumlah pihak ikut “menggoreng” kasus ini dengan mengaitkannya dengan ranah politik, dengan menyerang tokoh-tokoh tertentu, termasuk SBY. Satu-satunya dalih untuk menfitnah SBY adalah opini yang mengatakan ketua umum Partai Demokrat itu marah karena besannya, Aulia Pohan, terkena kasus korupsi dana Bank Indonesia.

Tuduhan ini tentu sangat tidak beralasan. Sebab, Aulia tetap menjalani masa hukuman di penjara dan SBY tidak pernah mengintervensi proses hukumnya. Jika SBY melindungi besannya dengan berusaha menghalang-halangi penegakan hukum, tentu Istana Negara bakal dikepung ribuan atau bahkan jutaan rakyat Indonesia yang menuntut presiden menegakkan keadilan dan memberikan perlakuan hukum yang setara bagi setiap warga. Seperti peristiwa yang baru-baru ini dialami oleh presiden yang sekarang.

Ajang Politik

Setelah menjalani dua pertiga masa hukumannya, Antasari akhirnya menghirup udara bebas. Karena pemerintahan sudah berganti, ia semakin berani menuduh pihak-pihak tertentu merekayasa kasusnya. Hal itu sepertinya dimanfaatkan penguasa saat ini, lantaran pihak yang dituduh Antasari juga dianggap lawan politik pemerintah. Alhasil, diampunilah sisa hukuman Antasari dengan pemberian grasi.

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tampaknya juga ingin membalas jasa. Ia langsung menyatakan dukungan kepada pasangan peserta Pilkada DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat. Kandidat yang memiliki kedekatan dengan Jokowi dan juga didukung PDIP, partai politik pendukung pemerintah.

Tidak itu saja, Antasari juga bergabung dengan PDIP untuk menjadi politikus. Bahkan di tengah kekecewaan umat Islam, Antasari tak sungkan-sungkan memuji Ahok, calon gubernur yang berstatus terdakwa penista agama.

Banyak yang kecewa dengan sikap Antasari itu, terutama mereka yang dulu percaya mantan jaksa itu tidak bersalah. Ternyata semuanya hanya untuk kepentingan politik. Pemberian grasi juga diyakini bukan demi alasan kemanusiaan semata.

Menurut mereka, Antasari memang telah lepas dari jeratan penjara, namun kini kembali terbelenggu dalam pusaran kepentingan politik. Dalam ungkapan yang lebih sinis, ada pula yang menyebut, Buya Hamka di penjara melahirkan Tafsir Al Azhar, Habib Rizieq menjadi doktor, tapi Antasari keluar cuma untuk mendukung terdakwa penista agama.

Oleh: Patrick Wilson (pemerhati politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here