Memahami Sikap Abstain Partai Demokrat

0
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono

Putaran Kedua Pilkada DKI barus aja dimulai, pasangan pemenang sementara di putaran pertama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat akan kembali ditantang pesaingnya pasangan Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno. Ahok – Djarot  akan kembali beradu kesaktian menghadapi tantangan Anies – Sandi

Di putaran pertama, Ahok-Djarot hanya mampu meraup 42, 96% suara sementara pasangan Anies-Sandi meraih dukungan 39,77%.  Jelas angka ini tidak terpaut jauh bagi keduanya untuk saling mempertahankan diri atau mengejar suara pesaingnya.

Berkaca pada hasil diatas, maka, mendekati kebenaranlah bahwa kedua pasangan yang saat ini bersaing di putaran kedua ini berharap pada dukungan pasangan calon AHY-Sylvi. Agus dan Sylviana yang diusung koalisi Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Tapi, masalahnya hingga saat ini, kecuali Partai Amanat Nasional yang sudah menebar sinyal akan medukung Anies-Sandi dua anggota koalisi lainnya seperti PPP dan PKB terlihat masih galau dan belum menentukan sikap kemana akan mengarahkan dukungan konstituennya. Sementara Partai Demokrat, yang menjadi motor koalisi justru bersikap berbeda. Seperti disebutkan Sekjend Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, bagi mereka, Pilkada DKI sudah selesai.

BACA JUGA:

Pertemuan SBY-Prabowo, Buka Semua Kemungkinan di Pilkada dan Pilpres

Masihkah Ada Keadilan di Negeri Ini?

Wajarkah Ani Yudhoyono Tanggapi Para Haters?

Kalimat Hinca tentu dapat dimaklumi, sebab sebagai motor koalisi, partai yang didirikan oleh Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono itu memang tidak lagi punya kepentingan apa apa di Pilkada DKI. Jadi sikap PD sangat dapat dimaklumi meski banyak juga yang mengernyitkan dahi karenanya.

Bagi Partai Demokrat pula, abstain di Pilkada DKI putaran kedua dapat dimaklumi bahwa mereka punya agenda yang lebih besar dan strategis. Apa?, yaitu agenda Pilkada serentak gelombang ketiga dimana kader kader partai tersebut akan bersaing merebut kursi 17 kursi gubernur termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta beberapa popinsi besar lainnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Baca juga  Kebebasan Berpendapat; Ah, Seandainya SBY Masih Menjabat

Lebih dari itu, dekatnya waktu pelaksanaan Pilkada serentak edisi ketiga pada tahun 2018 dengan Pileg dan Pilpres 2019 jelas memerlukan energi yang tidak kecil. Patut diingat, Partai Demokrat hari ini bukan lagi The Rulling Party seperti yang pernah mereka lakoni pada tahun 2009 lalu. Demokrat hari ini adalah kelompok oposisi murni.  Jelas dengan posisi demikian, PD butuh lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Dan meski belum punya pengalaman sebagai oposisi, namun sejauh ini, langkah mereka patut diberi kredit. Demokrat mampu memposisikan diri sebagai anti tesis dari pemerintah. Hal ini juga disebabkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pernah bersaing dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dalam dua kali pelaksanaan Pilpres dan sejarah mencatat, kedua kali itu pula, Megawati harus menelan pil pahit dikalahkan mantan menterinya itu sendiri.

Kembali ke soal Pilkada, meski “dikalahkan” di Pilkada putaran pertama, namun raupan 17,06% bukan angka yang kecil dan dapat diabaikan begitu saja. Itulah sebabnya hari ini partai partai pendukung kedua koalisi di putaran kedua berupaya keras merayu PD, PPP, PAN dan PKB. Namun jika berkaca pada hasil perolehan suara, tanpa menafikan suara PAN, PPP dan PKB, sepertinya penyumbang voter terbesar untuk AHY-Sylvi adalah Partai Demokrat.

Kredit lain juga patut diberikan kepada Partai Demokrat yang dengan cepat berhasil memutar arah sikap mereka. Jika tadinya partai yang didirikan pad atahun 2001 itu memimpin koalisi, kini mereka berpisah di persimpangan jalan dari tiga kompatriotnya. Demokrat telah memutuskan berjalan sendiri, melanjutkan perjalanan menuju Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Energi mereka telah dimaksimalkan untuk itu, sementara PDI-P, Hanura, Nasdem, Golkar, bahkan Gerindra dan PKS masih harus menyelesaikan perang politik di Jakarta. Demokrat juga memberikan keleluasaan kepada Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni untuk menentukan sendiri kemana dukungan akan mereka berikan. Maklum, keduanya meski diusung oleh Partai Demokrat, namun mereka bukan kader partai tersebut. Agus Harimurti meski ayahnya menjabat sebagai Ketua Umum PD, namun Ia bukan kader partai tersebut. Agus adalah pensiunan tentara sementara Sylvi adalah mantan birokrat senior di Balaikota DKI.

Baca juga  Indahnya Langkah Negarawan, Demi Negara Bukan Pilkada

Jadi kalau kita membaca kalimat Sekjend Partai Demokrat Dr. Hinca Pandjaitan yang menegaskan sikap partainya tidak akan ikut campur di Pilkada DKI, itu bukan karena kecewa pada hasil pilkada, namun karena mereka punya sikap bahwa melanjutkan perjalanan jauh lebih baik daripada sekedar ikut ikutan. Ibarat kata pepatah, lebih baik mendayung perahu menjauhi gelombang tinggi daripada ikut terseret arus dalam yang mereka juga belum tentu selamat.

Oleh – Hanifa Farida Dewi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here