Pancasila Sudah Lulus Ujian, Kenapa Masih Teriak Ujian

0

Presiden RI ke 3, BJ Habibie pernah mengatakan kalau Pancasila itu sudah lulus ujian sejarah. Berbagai tantangan telah dilewati dengan gemilang, hingga menjelang 72
tahun Indonesia merdeka dasar negara tersebut tetap jadi pemersatu dari kebhinnekaan.

Contoh terakhir dari lulusnya Pancasila dalam perjalanan sejarah adalah aksi damai umat Islam beberapa waktu lalu, seperti aksi 411, 212, 211 dan 505. Dengan jutaan
massa yang berkumpul di Jakarta dan jutaan lainnya diseluruh Indonesia, suasana kedamaian tetap terjaga. Meski hati mereka tersakiti karena ulah satu orang, tapi tidak
berbuat anarkis.

Bayangkan saja, jika tidak terpatron dalam hati massa sebanyak itu nilai dari sila ketiga yaitu tentang persatuan, mungkin akan terjadi kerusuhan yang besar. Mereka
turun kejalan juga karena memahami tentang adanya nilai dalam sila pertama yaitu Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama, serta penganut-penganut
kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.

Ahok yang seharusnya jadi panutan, malah mengeluarkan pernyataan yang melenceng dari nilai Pancasila, terutama sila pertama. Dia tidak menghormati kepercayaan orang
lain, dan membawa keranah politik.

Jika saja tidak terpatron nilai Pancasila dalam sanubari peserta aksi, mungkin tidak akan kita lihat pemandangan luarbiasa dimana penganten beragama kristen dikawal
dan dilindungi dari hujan saat menuju gereja katedral. Nilai Pancasila yang paling diaplikasikan secara langsung tanpa harus teriak paling Pancasila.

Jika memang ada organisasi yang disebut tidak mengakui Pancasila sebagai landasannya organisasinya, silahkan diusulkan pembubaran sesuai dengan aturan yang berlaku.
Tentunya pembubaran harus dilakukan dengan pembuktian terhadap tuduhan yang dilayangkan.

Berkaca pada kondisi saat ini, ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato tanggal 1 Juni 2011, sebenarnya dapat menjadi solusi. SBY menyebutkan
bagaimana kita bersama melangkah ke depan, mengaktualisasikan dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

Baca juga  Agama (Tidak) Bisa Terpisah dari Jagat Politik

Jika nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ditanamkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka tujuan bersama dalam keanekaragaman dapat
terwujud. Perbedaan yang ada membuat kita saling melengkapi, menghormati dan menjaga.

Pada pidato tahun 2010, SBY juga pernah mengatakan Indonesia di abad 21 bisa menjadi negara yang maju, dengan syarat kita bisa meningkatkan kemandirian, daya saing dan peradaban yang unggul. Dan itu bisa dicapai hanya kalau bangsa ini terus meningkatkan persatuan, kebersamaan, dan kerja keras. Kalau bicara persatuan, kebersamaan, dan kerja keras, maka tiada lain konsep gotong-royong yang disampaikan oleh presiden pertama kita, Bung Karno tadi adalah semua buat semua, all for all, bekerja keras bersama. Beliau menyebut keringat begitu, dan saling membantu satu sama lain.

Sedangkan Presiden Jokowi dalam pidatonya 1 Juni 2017 menyebutkan kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman. Takdir Tuhan untuk Indonesia adalah keberagaman. Dari Sabang
sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman.

Disebutkan Jokowi, berbagai etnis berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan, serta golongan, bersatu padu membentuk Indonesia, itulah
Bhineka Tunggal Ika, Indonesia. Namun, perkembangan zaman yang semakin modern membuat masyarakat, khususnya anak muda lupa dengan makna penting Pancasila.

Terkhusus untuk Presiden Jokowi, bertepatan dengan hari Pancasila, mari kita kembali bersama ke nilai-nilai luhur Pancasila itu. Sebagai pucuk pimpinan sebaiknya
memberikan contoh kongkrit, tidak sekedar bicara tapi praktenya berbeda. Jika itu sudah terlaksana, maka yakinlah rakyat yang dipimpin dapat mengikutinya.

Jika Pancasila sudah lulus ujian, kenapa kita masih teriak ini ujian. Mari kita sama-sama laksanakan nilai pancasila itu. Bukan teriak saya pancasila tapi sambil
melototkan mata, teriak pancasila tapi sambil menginjak orang lain.

Baca juga  Masihkah Pantas Jokowi Disebut Pemimpin Merakyat?

Kita ingat kembali perkataan Soekarno pada tanggal 5 Juni 1958 yang mengatakan “Sulit sekali saudara-saudara mempersatukan rakyat Indonesia itu jikalau tidak didasarkan atas Pancasila.”.

Oleh – Aliando Ibrahim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here