Tolak Ridwan Kamil, PDI P dan Golkar Sedang Bersandiwara?

0

Tidak mungkin rasanya “kue” suara besar seperti Jabar akan dilepaskan koalisi partai pendukung pemerintah.

——————-

Secara tiba-tiba, PDI Perjuangan dan Golkar disaat bersamaan menolak untuk mengusung Ridwan Kamil maju di Pilgub Jabar. Entah apa dosa Ridwan Kamil yang biasa dipanggil Kang Emil terhadap dua partai tersebut. Padahal sebenarnya hubungan Kang Emil dengan kedua partai besar tersebut terbilang baik, begitu juga dengan komunikasi keduanya. Selama ini hampir tidak terdengar riak perselisihan antara mereka.

PDI P dan Golkar merupakan partai terbesar di Jabar. PDI P bahkan bisa mengusung sendiri pasangan calon tanpa harus berkoalisi, karena mereka mempunya 20 kursi di DPRD Jabar dan itu sudah memenuhi syarat. Sedangkan Golkar punya 17 kursi, hanya kurang tiga lagi untuk mencalonkan kandidat yang mereka inginkan.

Tahun lalu, Kang Emil dihadirkan menjadi pembicara di sekolah calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang digelar PDI Perjuangan di Wisma Kinasih, Depok, Sabtu 10 September 2016. Kehadiran Kang Emil dalam acara internal PDI P tersebut menunjukkan betapa dekatnya hubungan keduanya. Dengan menggunakan baju berwarna merah, Kang Emil juga menunjukkan rasa hormatnya pada PDI P. Dengan kehadirannya, spekulasi bakal dicalonkannya Emil di Pilgub DKI juga terbantahkan.

Sedangkan Golkar pada pertengahan bulan Juni lalu, menyebutkan Emil menjadi salah satu kandidat yang berpeluang diusung. Kemungkinan untuk diduetkan dengan Dedi Mulyadi (Ketua DPD I Golkar Jabar) juga telah mengapung di internal partai berlambang beringin tersebut. Golkar juga tidak menutup kemungkinan tersebut, dimedia mereka juga mengatakan nama Emil sebagai salah satu kandidat yang dipertimbangkan.

Berdasarkan catatan tersebut, rasanya aneh kenapa tiba-tiba kedua partai yang menjadi pendukung utama Ahok-Djarot di Pilkada DKI itu seperti menutup pintu untuk Emil. Padahal saat ini Emil sedang dalam posisi unggul dalam berbagai survei, dan paling besar menang dibandingkan kandidat lainnya.

Baca juga  Pemenangan Khofifah-Emil Jadi Pertaruhan Nasional Golkar

Berdasarkan rilis lembaga survei Median, menetapkan elektabilitas Emil diposisi pertama dengan 23,7 persen diikuti Deddy Mizwar dengan 15,3 dan Dedi Mulyadi 7,8 persen. Survei digelar pada 15-18 Juli 2017 dengan melibatkan 600 responden warga Jabar yang sudah memiliki hak pilih. Margin of error +/- 4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih secara random.

Artinya sangat jelas kalau saat ini Emil memimpin balapan menuju kursi Jabar 1. Tidak mengherankan Nasdem bergerak cepat mendeklarasikan Emil sebagai kandidat yang akan mereka usung, walaupun mereka hanya punya modal 5 kursi. Emil dan Nasdem harus mencari 15 kursi lagi dari partai-partai lain.

—————–

Golkar juga tidak menutup kemungkinan tersebut (mencalonkan Ridwan Kamil), dimedia mereka juga mengatakan nama Emil sebagai salah satu kandidat yang dipertimbangkan.

—————–

PDI P dan Golkar Bersandiwara?

Jika berkaca dengan sikap PDI P dan Golkar pada Pilgub DKI Jakarta yang lalu, memunculkan keraguan apakah kedua partai tersebut akan konsisten dengan ucapannya atau tidak. Karena pada Pilgub DKI lalu, PDI P awalnya sempat berselisih paham dengan Ahok. Keduanya tidak jarang mempertontonkan aksi saling serang didepan publik. Kader PDI P juga terbilang getol mendegradasikan Ahok, termasuk Prasetyo Edi yang saat itu menjadi Ketua DPRD DKI. Tapi pada akhirnya PDI P mengusung Ahok dan Prasetyo Edi menjadi Ketua Tim Pemenangan.

Salah satu pentolan PDI P, Masinton Pasaribu bahkan menyebutkan meski kambing yang dibedaki sekalipun diusung PDI P bakal menang menghadapi Ahok. Kata-kata tersebut sangat jelas menunjukkan betapa panasnya hubungan antara PDI P dan Ahok dalam Pilgub yang lalu. Plt Ketua PDI P Jakarta yang saat itu masih dijabat Bambang DH juga tidak henti-hentinya menyerang Ahok. Bahkan video yang ada lagu Ahok tumbang juga viral dimedia sosial.

Baca juga  Ditahan KPK, Zumi Zola Dipecat Sebagai Anggota PAN

BACA JUGA

Rekonsiliasi Nasional Demi Politik Tanpa Kebencian

Tapi setelah diberi jatah Wakil untuk PDI P, keputusan partai tersebut berubah dan mengusung Ahok bersama Djarot. Seketika setelah resmi mengusung Ahok, kader PDI P yang selama ini mengkritik Ahok berbalik arah menyampaikan puja puji. Mereka menjilat ludah sendiri, dan berakibat mundurnya Boy Sadikin dari partai tersebut. Padahal Boy Sadikin menjadi panglima perang dalam memenangkan Jokowi di Pilkada DKI 2012, Pileg 2014 dan Pilpres 2014.

Sementara itu, Golkar pada akhir 2015 juga telah merancang strategi untuk mempersiapkan calon penantang Ahok. Dalam beberapa kesempatan, petinggi Golkar menyampaikan mereka akan mencari sosok yang berpeluang menumbangkan Ahok sebagai calon petahana. Tapi Golkar tidak sekeras PDI P dalam mengkritik Ahok. Mereka terkesan lebih memilih santai, dan tidak mempertontonkan ke media.

Kondisi berbeda saat Setnov terpilih menjadi Ketum Golkar. Salah satu keputusan pertamanya adalah mengusung Ahok di Pilgub DKI, sosok yang pernah mengkhinati Golkar pada tahun 2012 lalu. Saat itu Ahok memilih mundur dari Golkar dan menyeberang ke Gerindra untuk menghadapi calon yang diusung Golkar saat itu. Jadi, meski telah dikhinati tapi Golkar menjadi partai ketiga yang mengusung Ahok. Mereka bersama Nasdem dan Hanura bahkan telah mempersiapkan tim pemenangan sebelum PDI P bergabung.

Dari catatan kedua partai dalam mengusung kandidat, rasanya keputusan mereka menolak Ridwan Kamil belum final. Selain karena sikap yang bisa berubah seiring dengan kompromi, waktu untuk pendaftaran kandidat juga masih panjang. Sehingga segala kemungkinan masih terbuka, termasuk menjilat ludah sendiri.

Bisa juga keputusan PDI P dan Golkar untuk menaikkan posisi tawar terhadap Ridwan Kamil. Apakah itu terkait dengan siapa kandidat pendamping Emil, ataupun terkait dengan tetek bengek jika Walikota Bandung tersebut menang nanti. Keputusan kedua partai besar itu tentu membuat Emil berfikir keras, karena posisinya terjepit. Apalagi jika PKB dan PPP juga menyatakan sikap yang sama, karena PPP mempunyai 9 kursi sedangkan PKB punya 7 kursi.

Baca juga  Gaduh-Gaduh Jokowi di Gaduh

Kita tentu ingat bagaimana ucapan Ketum PDI P Megawati Soekarnoputri terkait dengan dukungan partai pendukung pemerintah dalam Pilkada. Megawati menyebutkan seharusnya partai pendukung satu suara dalam mengusung kandidat di PIlkada. Dengan kondisi tersebut sangat jelas kalau kemungkinan PKB dan PPP serta Hanura akan ikut bergabung bersama Golkar dan PDI P.

Jika tidak mengusung Emil, siapa lagi yang akan diusung koalisi pro pemerintah?. Dari catatan survei, peluang terbesar ada di Dedi Mulyadi. Tapi dengan kondisi saat ini, rasanya Bupati Purwakarta akan sulit menandingi Wagub Deddy Mizwar. Tidak mungkinkan partai koalisi besar itu akan melepaskan kemenangan di Jabar.

Kita mengetahui Jabar merupakan daerah paling besar jumlah pemilihnya di Indonesia. DPT Jabar mencapai angka 32 juta, dan ini akan menjadi penentu dalam Pileg ataupun Pilpres 2019 mendatang. Tidak mungkin rasanya “kue” suara besar seperti Jabar akan dilepaskan koalisi partai pendukung pemerintah.

Oleh: Asep Supriatna (Pemerhati Sosial dan Politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here