Prabowo Pesimis, Indonesia Butuh Pemimpinan Muda yang Dapat Merubah Paradigma

0

Kembali beredar video pidato Prabowo Subianto tentang Kajian Indonesia Bubar 2030. Video ini menjadi kontroversi di tengah tahun politik saat ini. Pro kontra pun tidak terhindarkan dari kubu yang mendukung Prabowo dan kubu pendukung pemerintahan saat ini.

Terlepas dari itu, hal-hal seperti ini tidak harus keluar dari mulut seorang Prabowo Subianto. Harusnya sebagai tokoh maupun sebagai seorang negarawan, Prabowo hendaknya memunculkan rasa optimisme dalam membangun Indonesia kedepan. Bukan malah memaparkan ketakutan-ketakutan ketengah masyarakat.

Jika Prabowo hendak kembali maju menjadi capres di 2019, ia harusnya menawarkan sesuatu yang dapat membangun Indonesia jadi lebih baik. Jika pun sisa umur tidak memungkinkan dirinya untuk maju, harusnya Prabowo dapat menawarkan solusi untuk kepemimpinan nasional kedepannya agar Indonesia tidak sampai terjerumus dalam prediksi tersebut. Inilah sosok negarawan yang harusnya ditampilkan Prabowo.

Sebagai seorang mantan perwira militer tentunya Prabowo paham akan hal itu. Memberi ketakutan kepada pasukan yang akan berperang tentunya akan melemahkan semangat prajurit. Jika semangat tidak ada lagi di dada, maka mustahil pertempuran akan dimenangkan.

Atau mungkin saja Prabowo sedang berspekulasi untuk menaikkan “NJOP”-nya. Dengan menabar ketakutan tersebut, Prabowo seakan-akan menyalahkan kepemimpinan saat ini yang dikuasi lawan politiknya. Jika hal ini yang menjadi motifnya, tentu sangat kerdil sekali pemikiran seorang Prabowo.

Mungkin inilah bedanya kepemimpinan muda dan tua. Sejarah juga mencatat, perjuangan Indonesia merdeka tidak lepas dari sikap optimisme kaum muda yang mendesak kelompok tua pada waktu itu. Kelompok tua saat itu merasa pesimis dengan kemerdekaan Indonesia. Mereka merasa kemerdekaan Indonesia baru bisa tercapai jika terjadi penyerahan kekuasaan Jepang kepada Indonesia. Sebaliknya, kaum muda yang optimis berkeyakinan kemerdekaan itu harus direbut dan diperjuangkan, bukan pemberian.

Baca juga  Dilema Ridwan Kamil, Gabung Koalisi Ikut Pilkada atau Takut Nasdem Punya Jaksa?

Satu-satunya saat ini sosok pemimpin muda yang muncul dengan optimisme dan mempunyai visi yang jelas adalah Agus Harimurti Yudhoyono. Ia tampil bukan untuk melindas atau pun menjatuhkan lawan politiknya. AHY mengapresiasi semua orang, termasuk lawan politiknya.

AHY berkeyakinan, dalam kepemimpinan bukan bercerita saya lebih hebat dan lebih paham. Kepemimpinan baginya adalah bagaimana bisa meramu sinergisitas antara kepemimpinan terdahulu dengan visi kepemimpinan mendatang dengan merekatkan kepentingan di atas nama rakyat. Artinya, apa yang baik dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya dapat diambil dana apa yang belum sesuai dijadikan pelajaran yang harus dievaluasi.

Hal itu tercermin dalam pidato AHY saat Rapimnas Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu. Satu per satu prestasi mantan presiden Republik Indonesia disebutnya. Mulai dari Soekarno sampai Jokowi. Bukan berarti dalam setiap kepemimpinan pada masanya itu tidak ada kekurangan. Namun ia tidak mau terjebak dengan mengutuk kegelapan, ia lebih memilih menerangi dengan cara tidak memadamkan cahaya yang lainnya.

Sudah saatnya Indonesia dipimpin oleh orang muda seperti AHY. Orang muda yang mempunyai optimisme tentang Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Pemimpin muda yang peka dengan penderitaan rakyat dan tidak canggung untuk mencium bau keringat rakyatnya.

Perubahan hanya akan terjadi jika optimisme terus digelorakan. Tentunya sikap optimis itu juga harus diimbangi oleh intelegensi dan kepekaan sosial. Semua itu hari ini terlihat dari seorang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Semoga rakyat bersepakat dengan semangat optimis perubahan Indonesia yang lebih baik, bukan malah terjerambat dalam ketakutan yang membuat kita berpasrah diri.

Dadang Sudjana, Masyarakat Anti Hoaks

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here