Filosofi Layang-layang dan Ketawa Lepas Jokowi

    0

    Hampir semua kita pernah merasakan bermain laying-layang sewaktu kecil. Bahkan tidak sedikit dari kita yang hingga dewasa ini masih sering bermain layangan ketika musimnya tiba. Apalagi jika bermain layangan disaat ada perlombaan.

    Ada kebanggan tersendiri jika nantinya layangan yang kita mainkan tersebut didapuk oleh juri menjadi juara. Terbayar lunas jerih payah serasa. Namun tidak sedikit juga yang menelan kecewa saat perlombaan layangan. Sudahlah kalah, terkadang layangan yang sudah dipersiapkan putus dan bahkan hilang.

    Bagi seorang yang hobi layangan, permainan ini tidak hanya sekedar menerbangkan dan memperhatikan liukan si layang di angkasa. Lebih dari itu, bermain layangan bagi mereka adalah sebuah proses yang sangat filosofis. Mulai dari pemilihan batang bamboo yang berkualitas, perautan bamboo agar mendapatkan keseimbangan yang diinginkan, perakitan, hingga pemilihan kertas yang sedap dipandang mata.

    Tidak sedikit dari kita yang pernah merasakan masuk hutan untuk sekedar mencari bilah bamboo terbaik untuk membuat layangan. Atau setidaknya memilih dan memilah batang bamboo yang akan digunakan. Jika tidak mampu mencari minimal hal yang dilakukan adalah membeli bilah bamboo tersebut.

    Kita juga terbiasa menghabiskan waktu untuk sekedar meraut batang bamboo tersebut untuk mendapatkan keseimbangan yang diinginkan. Tidak jarang juga sesekali tangan harus terluka karena rautan tersebut. Akan tetapi karena keinginan yang kuat untuk mendapatkan hasil terbaik, hal terus terus dilanjutkan dengan kesabaran yang ekstra.

    Dalam merangkai dan memasangkan kertasnya juga bukan perkara yang gampang. Rata-rata layangan tradisonal di Indonesia, untuk menyambungkan satu sisi dengan sisi yang lainnya disambung dengan menggunakan benang. Lilitan benang yang ada pun harus diperhatikan. Jika tidak, hal tersebut dapat mengganggu keseimbangan yang sudah ada.

    Dalam pemilihan warna, kreatifitas juga sangat dibutuhkan. Kreatifitas dalam memadupadankan kertas menjadi suatu keharusan untuk memperlihatkan layangan kita berbeda dengan yang lainnya. Jika semuanya sudah berjalan dengan semestinya, tidak jarang pujian pun mengalir.

    Seorang Jokowi pun saya yakin masa kecilnya juga diisi dengan permainan rakyat seperti ini. Apalagi klaim Jokowi bahwa latar belakangnya juga berasal dari orang biasa-biasa saja. Tentu keseruan tersebut tidak lepas dari masa lalu Jokowi.

    Hal itu dapat kita lihat dari kegirangan Jokowi saat memainkan layangan di Monumen Nasional bersama Perdana Menteri India Sri Narendra Modi pada Rabu (30/5). Jokowi terlihat tertawa lepas bersama PM India tersebut saat pembukaan Pameran Layang-layang Bersama Indonesia dan India.

    Dengan momentum tersebut, semoga Jokowi dapat merefleksikan kembali bagaimana sebuah proses filososfis dalam membangun sebuah layangan dapat diimplementasikan dalam tata kelola sebuah negara. Tidak hanya menerbangkan visi yang ada dengan mimpi yang jauh di angkasa, tapi juga bagaimana memilih keputusan yang tepat, meraut kebijakan demi keseimbangan ekonomi, sosial, dan politik nasional, serta membingkai warna keberagaman tanpa ada keberpihakan.

    Bukan malah sebaliknya, memainkan layangan yang sudah jadi dan menyalahkan pihak lain jikalau ada apa-apa dengan layangan tersebut. Layangan bukan sebuah mekanik yang dijalankan dengan program auto pilot. Ia dimainkan dengan sentuhan hati dan dedikasi. Semoga layangan Jokowi tidak putus dan disapu angin.

    Pramudya Dhananjaya Noor

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here