Penangkapan Penuding ‘Perekayasa Terorisme’, Beda Era SBY dan Jokowi

    0

    Polri sudah bertegas-tegas. Polri minta bukti mereka yang menuduh serangkaian aksi teror sebagai rekayasa. Bahkan polisi sudah menindak mereka yang melontarkan tuduhan tersebut. Sampai hari ini diketahui Polri telah menangkap tiga orang yang menuding aksi terorisme yang terjadi belakangan ini sebagai suatu rekayasa. Alasannnya untuk jadi pelajaran bagi para pengunggah.

    Kita sepakat bahwa terorisme harus berantas. Pelakunya harus dikutuk dan ditindak tegas. Tetapi menangkap orang-orang yang meragukan kebenaran aksi terorisme bukan tidakan bijak. Apalagi yang ditangkap terbilang kalangan awam. Tengok saja latar belakang mereka: seorang dosen, kepsek SMP, dan satpam. Dahulu seorang karyawan di sebuah ponpes di Padang Panjang Barat, Sumbar juga ditangkap gara-gara menyebut bom Kampung Melayu rekayasa.

    Besar kemungkinan, tudingan mereka ini berasal dari pemikiran “polos” dalam menerima informasi digital. Mereka gagal menganalisi informasi, dan akhirnya terjebak dengan kesimpulan yang salah tersebut.

    Pertanyaannya, apakah mereka lantas perlu ditangkap?

    Perlu dipahami hampir setiap kasus terorisme dianggap hasil rekayasa. Tak hanya di era Jokowi, tapi juga di Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Rentetan teror buku dan acaman pembunuhan SBY oleh teroris misalnya dituding sebagai rekayasa. Yang menudingnya bukan orang-orang sembarangan.

    Ada Politikus PDIP Trimedya Panjaitan yang menuding teror buku sebagai pengalihan isu reshuffle kabinet SBY. Ada juga pengamat intelejen Suripto, bahkan Yusril Ihza Mahendra pun meragukan. Tetapi, apakah mereka kemudian ditangkap? Tidak! Bisa dibayangkan betapa hebohnya negeri ini apabila orang-orang top ini digelandang ke penjara gara-gara menuding ada rekayasa terorisme seperti hari ini?

    Pemerintah SBY kala itu hanya menjawab semua tudingan tersebut dengan jernih dan transparan. Tetapi tak ada seorang pun yang ditangkap. Mengapa, karena SBY memandang tudingan tersebut dalam kerangka hak menyatakan pendapat. Sah-sah saja.

    Ada dua solusi yang kemudian diambil SBY. Pertama, mendorong aparat untuk bekerja lebih giat dalam membongkar aksi terorisme ini. Unjuk gigi intinya. Mengapa? Karena tudingan rekayasa itu sejatinya lahir dari distrust, ada ketidakpercayaan kepada institusi yang menangani pemberantas terorisme. Karena sifatnya ketidakpercayaan, maka harus dijawab dengan kinerja yang lebih baik lagi.

    Kalau dikaji-kaji, prestasi pemerintahan SBY dalam menangani tindak terorisme cukup bagus. Kita tahu jaringan Noordin M Top dan Azhari yang skalanya Asia Tenggara digulung habis di masa pemerintahan SBY. Agak berbeda memang dengan kinerja penanganan terorisme di era Jokowi ini. Ambil contoh, mantan Kepala BIN Sutiyoso pernah memperingatkan adanya ancaman bom di Mapolresta Solo dan juga bom Sarinah. Sayangnya informasi ini tidak digunakan dengan baik, dan peristiwa ledakan bom itu pun terjadi.

    Kedua, terkait orang-orang awam ini, ya dibereskan dari akar masalahnya: kekurangan literasi. Ini yang dibenahi. Aparat harus memberikan informasi yang bernas, cepat, dan menjangkau ke pelosok masayarakat. Bisa saja dimainkan logika begini. Mungkinkan membikin skandal dengan korbankan banyak nyawa manusia? Resiko bocor kelewat besar. Siapapun yang terlibat bisa hancur baik karir maupun hidupnya, bahkan institusinya. Kedua solusi jauh lebih demokratis ketimbang main tangkap.

    Terakhir, pola main tangkap ini juga bisa berdampak pada pembangunan demokrasi di Indonesia. Seolah-olah hanya narasi polisi yang benar. Narasi selain yang dibikin polisi itu salah. Bukankah ini malah membikin suasa mencekam? Mirip-mirip Orde Baru jadinya.

    Karena itu, saya amat mendukung polisi menantang publik untuk memberikan bukti kalau aksi terorisme itu adalah rekayasa. Sudah sampai di sini saja. Tak perlu pakai tangan besi main tangkap untuk membungkam narasi yang berbeda dengan yang diinginkan polisi. Ada cara-cara lain yang lebih demokratis.

    Oleh: Ridwan Sugianto, warganet

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here