Pro Kontra Daftar Mubaligh Kemenag

    0

    PolitikToday – Ketua PBNU Marsudi Syuhud meminta Kementrian Agama (Kemenag) untuk transparan dalam menyeleksi nama mubaligh. Hal ini supaya tidak terjadi pro kontra di tengah masyarakat terkait penceramah yang tidak masuk dalam daftar yang dikeluarkan Kemenag.

    “Mungkin, dibuat SOP-nya (Standard Operating Procedures). Supaya nanti tidak bingung sendiri, tidak juga timbul pertanyaan di masyarakat,” ujarnya, Sabtu (19/5).

    Selain itu, menurut Marsudi 200 nama mubalig yang dirilis Kemenag baru-baru ini disebut bersifat temporer.

    Nah, nanti kan bisa muncul pertanyaan, misalnya penilaiannya apa, kriteria seperti apa, ustad ini masuk, kok yang ini tidak masuk, yang begitu harus dipersiapkan,” imbuh dia.

    Kemenag juga diminta membuka nama-nama panitia seleksi yang memiliki wewenang merekomendasikan nama-nama ustad yang aman saat memberikan ceramah.

    “Ya pokoknya, jangan sampai memunculkan kegaduhan baru,” terang dia.

    Hal yang sama juga disampaikan Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Yunahar Ilyas menilai rekomendasi nama mubalig oleh Kementerian Agama (Kemenag) berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan ulama.

    “Rekomendasi itu dipahami publik sebagai isyarat, ‘ini ulama rekomendasi dan lainnya enggak’, kan gitu. Nanti terjadi pengotakan. Ada mubalig dianggap dari golongan pemerintah dan mubalig lainnya merasa tidak dari pemerintah,” kata Yunahar.

    Sementara itu, pencermah Yusuf Mansur yang namanya masuk dalam 200 nama mubaligh yang direkomendasikan Kemenag menuturkan, dirinya tak ingin daftar nama itu menimbulkan perpecahan dan keterbelahan di kalangan ustad maupun masyarakat.

    “Saya berdoa dan berharap enggak ada kegaduhan sebab daftar nama itu,” tulis Yusuf Mansur seperti dikutif dari akun media sosial instagram pribadinya, Sabtu (19/5).

    Dia pun mengaku lebih senang jika namanya tak masuk dalam daftar nama itu. Yusuf memaparkan dirinya ingin lebih banyak banyak belajar dari para pendahulunya yang justru tak masuk dalam daftar 200 nama itu.

    “Saya lebih senang dan lebih tentram, tidak ada di daftar nama. Bukan karena enggak suka dan tidak berterima kasih. Tapi lebih karena saya, masih santri, masih belajar, dan begitu banyak salah dan ketidakmampuannya,” tegasnya.

    (bs)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here