Sekjen PBB Ngeri Anak-Anak Dilibatkan di Bom Gereja Surabaya

    0

    PolitikToday – Sekjen PBB Antonio Gutteres mengutuk peristiwa pengeboman di tiga gereja Surabaya pada Minggu (13/5/2018) kemarin, karena melibatkan anak-anak.

    “Dia (Gutteres) merasa ngeri atas laporan bahwa anak-anak turut dimanfaatkan dalam penyerangan,” ungkap jubir Sekjen PBB, Stéphane Dujarric seperti disampaikan Perwakilan Tetap RI (PTRI) untuk PBB kepada detikcom, Senin (14/5/2018).

    Menurut Dujarric, sekjen PBB menyampaikan rasa dukanya kepada para korban. Dia juga berharap korban luka dapat segera sembuh.

    “Dia menegaskan kembali dukungan PBB kepada rakyat dan pemerintahan Indonesia atas upaya melawan dan mencegah terorisme serta kekerasan ekstremis,” tulis Dujarric.

    PBB mendukung upaya-upaya kampanye keberagaman, moderat dan toleransi. Menurut mereka, kampanye ini bisa menangkal terorisme dan ekstremisme.

    Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras aksi teror bom Surabaya, lantaran melibatkan anak-anak di bawah umur.

    “Kami mengecam keras penyerangan bom yang tidak berperikemanusiaan dimaksud. Ini pelanggaran serius dan tidak seharusnya terjadi,” kata Ketua KPAI Susanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/5/2018).

    Aksi teror bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja itu terjadi pada Minggu (13/5). Kedua orang tua bernama Dita Oepriarto dan Puji Kuswati melibatkan empat orang anaknya untuk melakukan aksi di tiga gereja: Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna, GKI Diponegoro, dan Gereja Santa Maria Tak Bercela.

    Atas peristiwa itu, juga ada sejumlah anak lain yang ikut tewas karena berada di sekitar lokasi gereja. Karena itu, KPAI akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan jumlah anak yang menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan itu.

    “Saat ini serangan bom menimpa 3 Gereja di Surabaya, mengakibatkan 6 orang meninggal, 33 korban masuk rumah sakit. Anak juga menjadi korban atas keganasan teror tersebut,” ucap Susanto.

    “KPAI menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya sejumlah korban, termasuk anak. Untuk memastikan jumlah korban anak, kami terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” imbuhnya.

    Kasus bom bunuh di tiga gereja ini diketahui melibatkan satu keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu beserta empat orang anak. Sang ayah, Dita Oepriarto meledakkan diri di GPPS Jalan Arjuna. Sementara itu, si ibu, Puji Kuswati meledakkan diri bersama kedua orang putrinya berinisial FS dan PR di GKI Jalan Diponegoro.

    Kemudian, dua orang anak laki-laki Dita dan Puji meledakkan diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. YF dan FH bergerak terpisah dengan kedua orang tuanya naik sepeda motor dan meledakkan diri.
    (raf)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here