Dewan Masjid dan MUI Bantah Kabar 40 Masjid di Jakarta Terpapar Radikalisme

    0

    PolitikToday – Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Polisi Syafruddin angkat bicara terkait isu 40 masjid di DKI Jakarta yang dikabarkan terpapar radikalisme. Menurutnya isu tersebut tidak benar.

    Menurutnya, konteks terpapar radikalisme tidak bisa disematkan pada Masjid. Kerena, masjid adalah benda.

    “Yang terpapar itu pasti bukan masjid, karena masjid adalah benda bukan orang,” katanya.

    Seharusnya, konteks terpapar radikalisme itu disematkan pada orang. Ia juga membantah bila pengurus masjid sudah terpapar radikalisme.

    “Saya bantah itu tidak benar,” kata pria yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini.

    Hal senada disampaikan Ketua MUI DKI Jakarta Syarifuddin Abdul Gani. Menurutnya, seharusnya dalam kabar 40 masjid terpapar radikal yang perlu disoroti adalah penceramahnya. Para pengkhutbah dan penceramah di masjid tersebut, menurutnya, harus dipahamkan menyampaikan materi yang jauh dari unsur radikalisme, intoleran dan ujaran kebencian.

    “Jadi bukan masjidnya yang dicap radikal, namun penceramahnya yang harus diawasi dan dipahamkan. Karena mungkin banyak penceramah yang datang dari mana-mana,” katanya, Kamis (7/6/2018).

    Karena itu, menurut dia, jangan mengaitkan seolah masjidlah yang menjadi sumber radikalisme. Kalau menyebut 40 masjid yang terpapar, ia memandang terkesan masjidnyalah yang menjadi sumber paham radikal atau intoleran tersebut. Padahal masjid hanya sebagai tempat ibadah tidak lebih daripada itu.

    Syarifuddin pun meminta pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk berhati-hati menyebut masjid sebagai tempat bersemainya radikalisme. Dan hingga saat ini pun diakui dia, Pemda DKI belum ada koordinasi dengan MUI DKI soal masjid-masjid yang perlu mendapat perhatian karena diindikasi penceramah berpaham radikal tersebut.

    Untuk langkah selanjutnya, ia menyebut MUI DKI akan memberi himbauan kepada masyarakat khususnya takmir masjid untuk memberi pemahaman kepada penceramah.

    “Jangan menyampaikan dakwah yang membenturkan NKRI, mengumbar kebencian dan intoleransi,” terangnya.

    Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno membenarkan dugaan puluhan masjid di Jakarta disebut telah menyebarkan paham radikal. Ia bahkan mengaku telah mengantongi daftar masjid yang diduga menjadi tempat penyebaran paham radikalisme. Daftar itu ada di Biro Pendidikan, Mental, dan Spiritual (Dikmental) dan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (BAZIS) DKI.

    Informasi tentang adanya masjid-masjid yang menjadi tempat penyebaran paham radikal datang dari Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra.

    Hal itu disampaikan dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan para cendekiawan Muslim di Istana Negara, Senin (4/6/2018). Ia mengatakan, terdapat sekitar 40 masjid di wilayah DKI yang memberikan ceramah mendekati radikalisme. Penceramah justru mengajarkan paham radikal dan intoleran.

    Azyumardi mengungkapkan, para cendekiawan mengusulkan untuk menghadapi intoleransi memang harus komprehensif. Pemerintah harus memperkuat kembali koalisi sosial melalui, misalnya, pemantapan kembali semangat kebangsaan, kemudian juga kearifan lokal dan penguatan Islam wasatiyah.

    (rt)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here