Duel Jokowi vs Megawati di 2019

    0
    Duel Jokowi vs Megawati di 2019

    Pengamat politik Rafatar Abdul Gani dalam tulisannya “Robohnya Sang Banteng dan Strategi Lepas Jerat Jokowi” di kolom opini politiktoday.com mengatakan, salah satu analisa kekalahan PDIP di Pulau Jawa adalah karena fakor Jokowi. Bukan karena faktor figur Jokowi yang lemah, melainkan strategi Jokowi yang bermain dua kaki untuk melepas jerat dari PDIP.

    Contohnya Pilgub Jawa Timur, Jokowi memberi arahan kepada Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto untuk memenangkan Khofifah-Emil. Padahal PDIP sendiri mengusung Gus Ipul-Puti. Seruan Jokowi ke Airlangga berbuah manis. PDIP tumbang dikandangnya sendiri.

    Secara kultural, Jawa Timur merupakan salah satu basis masa terbesar PDIP. Selain itu, kelompok Soerkanoisme juga begitu dominan di provinsi ini. Artinya, ketokohan Jokowi saat ini jauh lebih diterima masyarakat Jawa Timur ketimbang PDIP dan Megawati yang hanya menjual isu Soekarnoisme.

    Tidak jauh bebeda dengan Jawa Barat. Sebagai salah satu provinsi yang menjadi lumbung suara PDIP di Pemilu 2014, PDIP kalah secara memalukan dengan berada diposisi paling buncit. Padahal pada Pilgub Jawa Barat 2013, calon yang diusung PDIP saat itu mampu menempel ketat Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang keluar sebagai pemenang.

    Lagi-lagi menurut analisa Rafatar Abdul Gani, anomali Pilgub Jawa Barat ini juga tidak lepas dari skenario Jokowi membantu memenangkan Ridwan Kamil. Secara hasil survei terdahulu dan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei tidak begitu berbeda. Pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mentok diangka 30 persen.

    Penunjukan Komjen Pol Iriawan menjadi Pj Gubernur oleh Jokowi menjadi penentu kemenangan Ridwan Kamil di Jawa Barat. Dibeberapa hari menjelang hari pemungutan tiba-tiba Iriawan melakukan sidak kerumah dinas wakil gubernur Deddy Mizwar. Isu ini dianggap berhasil menggerus suara pemilih pasangan Deddy-Dedi yang merupakan kompetitor terkuat RK-Uu.

    Artinya di Jawa Timur Jokowi bermain dengan Golkar, sedangkan di Jawa Barat ia bermain dengan Nasdem. Tidak berlebihan jika Jokowi bermain dengan dua partai ini. Hal ini disebabkan dua partai tersebutlah yang dari awal mencalonkan Jokowi untuk maju di 2019. Sedangkan PDIP mendukung diakhir-akhir ini, ketika Jokowi telah berjibaku sendirian meraih dukungan dari patai lain.

    Jika jauh ditengok kebelakang, arogansi Megawati yang hampir dalam setiap kesempatan merendahkan Jokowi sebagai kepala negara bisa jadi membuat Jokowi berpikir dua kali untuk bergandengan dengan PDIP di 2019. Sebutan Megawati kepada Jokowi sebagai “petugas partai”, menurut saya agak kasar. Megawati sebagai Ketua Umum PDIP seakan belum move on dengan dorongan rakyat yang menginginkan Jokowi di 2014 ketimbang dirinya.

    Selain itu, isu dorongan Megawati yang menyodorkan nama Puan Maharani atau Budi Gunawan sebagai  calon wakil presiden pendamping Jokowi membuat mantan Walikota Solo ini gerah. Sebagai seorang tokoh politik nasional, Jokowi tentunya mengerti dengan konstalasi politik yang terjadi. Jokowi tidak ingin karena faktor ambisius Megawati, maka kemenangan di 2019 yang sudah di depan mata menjadi buyar.

    Belum lagi wacana yang muncul baru-baru ini. Ada kabar yang mengatakan PDIP akan kembali bersama Gerindra di 2019. Kabarnya Ketua Umum Gerindra Parabowo Subianto akan diduetkan dengan Puan Maharani atau Budi Gunawan. Spekulasi ini dalam politik sangatlah wajar, karena PDIP tentunya tidak ingin kehilangan momentum di Pemilu 2024. Jika hari ini PDIP dan Megawati sukses menyorongkan calon wakil presiden, tentu di Pemilu 2024 PDIP mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjadi penguasa.

    Jadi, apakah Jokowi akan meninggalkan PDIP di 2019, atau sebaliknya PDIP yang meninggalkan Jokowi dan berlabuh bersama Gerindra? Atau Jokowi dan Megawati akan saling sandera dalam duel 2019?

    Jhony Pantau, Aktifis Pelita Demokrasi

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here