Gus Nur: Membuka Keburukan Rezim Jokowi itu Nahi Mungkar

    0

    PolitikToday – Mengungkap keburukan pemerintah bukan bagian dari ghibah, melainkan bagian dari perbuatan nahi mungkar atau memerangi kemungkaran. Demikian disampaikan Ustaz Sugi Nur Raharja atau yang akrab disapa Gus Nur, saat mengisi tausyiah di Kantor DPP PBB, Jakarta, Senin (4/6/2018).

    “Perhatikan ya saudara-saudara, yang saya omongkan ke rezim itu bukan ghibah. Tapi saya melakukan nahi munkar,” kata Gus Nur.

    Gus Nur kemudian menukil hadist nabi Muhammad SAW. Jika ada orang yang melakukan zina, maka masyarakat wajib menutupinya. Jika ada yang membuka aib itu ke publik, maka dia tergolong berbuat ghibah. Barangsiapa yang melakukan ghibah atau membuka aib seseorang, kata Gus Nur, sama saja memakan bangkai saudara sendiri.

    “Tapi kalau aibnya atau kebijakannya (pemerintah, red) menyangkut permasalahan rakyat, itu bukan ghibah. Misalnya menaikan BBM diam-diam,” bebernya.

    Gus Nur bahkan mengaku siap menerima segala konsekuensi demi menyebar upaya nahi mungkar tersebut.

    Sebelumnya diketahui banyak lembaga survey merilis bahwa kelemahan pemerintahan Jokowi ada pada aspek ekonomi. Salah satunya Alvara Research Center yang merilis hasil surveinya awal Mei 2018 kemarin.

    “Titik lemah kinerja Jokowi-JK masih pada aspek ekonomi. Meliputi penyediaan lapangan kerja, kondisi ekonomi tenaga kerja dan isu-isu ekonomi, ketenagakerjaan lainnya,” terang CEO Alvara  Hasanudin Ali Hasanudin dalam konferensi pers hasil survei nasional, di Jalan Wahud Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (27/5/2018).

    Penyediaan lapangan kerja masih menjadi aspek khusus titik lemah pemerintahan Jokowi – JK. Sementara penurunan tingkat kepuasan di bidang ekonomi didasari atas beberapa aspek yaitu dukungan bagi kewirausahaan, peningkatan ekonomi keluarga, kondisi ekonomis secara nasional, serta kesejahteraan tenaga kerja.

    Pada aspek kesejahteraan tenaga kerja penurunan tingkat kepuasan publik mencapai 7,9 persen dan kemudahan lapangan kerja 6,1 persen.

    Hasanuddin menuturkan, penurunan tingkat kepuasan publik tersebut juga berpengaruh pada menurunnya tingkat keinginan publik terhadap terpilihnya kembali Presiden Jokowi pada Pilpres 2019. Hal ini membuat harapan rakyat untuk memililih Jokowi kembali menjadi presiden sedikit menurun.

    (rt)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here