Lembaga Survei Pilkada Ditantang Jujur Buka Hasil Kerja

    0
    Awak media melihat langsung hasil survei yang di gelar oleh pusat penghitungan suara Cyrus Network di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (27/6). (ANTARA FOTO/Ardiansyah)

    PolitikToday – Direktur pusat studi sosial politik Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyarankan agar lembaga survei di Pilkada bisa lebih transparan terhadap data yang mereka peroleh. Hal itu guna menghindari gejolak publik dalam mengikuti kontestasi demokrasi.

    “Ada peran krusial dari lembaga survei terhadap pemilihan kepala daerah tahun ini. Tidak dipungkiri menurutnya, lembaga survei justru berperan sebagai lembaga konsultan bagi para calon kepala daerah atau partai politik,” kata Ubedillah, Sabtu (30/6/2018).

    Perubahan itu dianggap Ubedillah merupakan pencemaran demokrasi dalam melakukan pemilihan umum dikarenakan hasil survei berpotensi menggiring opini pemilih.

    “Sebetulnya kontestasi yang seperti ini menimbulkan gejolak. Bangsa kita dengan keragaman yang besar ini tidak hanya berpotensi gejolak politik tapi juga sosial. Di sini bagaimana seharusnya lembaga survei gejolak politik tapi tidak bergejolak di sosial,” ujarnya.

    Oleh sebab itu, dia menyarankan agar lembaga survei harus lebih transparan terhadap data yang mereka peroleh dalam melakukan survei. Dia menyarankan agar lembaga survei berani membuka data dari hasil survei mereka, meski diakuinya hal itu sulit dilakukan dengan pertimbangan dana besar.

    Selain itu, Ubedilah juga menuturkan, lembaga survei harus berani menyatakan dirinya sebagai lembaga konsultan atau bukan dikarenakan hal itu juga akan berdampak dengan transparansi anggaran yang selama ini digunakan oleh lembaga survei.

    “Pentingnya lembaga survei mengatakan mereka konsultan atau tidak dan penting juga ada transpransi anggaran oleh lembaga survei,” ujarnya.

    Kritik terhadap lembaga survei juga disuarakan oleh Usep S Ahyar, Direktur Populi Center, yang mengatakan bahwa lembaga survei kebanyakan tidak menjelaskan masyarakat lebih jauh dari hasil rilis mereka.

    “Tidak dijelaskan hasil rilis ini penjelasan ilmiahnya gimana. Yang ada kan selalu elektabilitas, popularitas, itu kayak menggiring pemilih jadinya,” ujar Asep.
    (raf)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here