Rezim Bermasalah, Selesaikan Masalah Dengan Masalah

    0
    Rezim Bermasalah, Selesaikan Masalah Dengan Masalah

    Jokowi sedang tidak menjalankan pemerintahan dengan baik. Ia lebih cenderung membangun rezim dengan konsep Revolusi Mentalnya. Semua program yang baik dari pemerintahan sebelumnya dan dibutuhkan rakyat, dihapus begitu saja, atau dijiplak diganti nama seolah-olah ini new programme.

    Pemerintahan di bawah kelola Jokowi sangat bermasalah. Mulai dari ekonomi, sosial, dan politik kita yang sudah mengalami kemajuan diporak-porandakan. Setiap permasalahan bukannya diselesaikan dengan baik, malah dihimpit dengan masalah baru agar masalah lama tenggelam.

    Kemana penyelesaian polemik tenaga kerja asing (TKA) Tiongkok? Semuanya hilang begitu saja bagai ditelan bumi. Tidak ada penyelesaian dan penjelasan yang nyata dari rezim Jokowi. Padahal di luaran sana jutaan anak negeri tengah menanti dalam antrian panjang mencari kerja.

    Belum selesai polemik TKA, muncul kabar KKN Menteri BUMN dengan Dirut PLN. Percakapan mereka berdua dalam kongkalingkong proyek BUMN tersebar kemedia sosial. Semua geram. Bukannya ditindak, Menteri dan Dirut PLN malah ikut-ikutan geram dengan penyebar rekaman tersebut. Apa ini hasil dari Revolusi Mental?

    Di tengah kegeraman semua pihak tersebut muncul lagi polemik negara memfasilitasi dan mengahamburkan uang untuk menjamu IMF dan Bank Dunia. Tidak jelas apa alasan rezim Jokowi menghamburkan uang negara yang dikabarkan menghabiskan uang sebesara 1 Triliun rupiah. Padahal secara struktur ekonomi, Indonesia pada saat ini sedang lampu kuning.

    Hutang negara sedang menggunung. Ekonomi masyarakatpun juga sedang goncang. Nilai tukar rupiah pun gagal move on.

    Permasalahan tidak hanya berhenti disitu. Masalah kembali muncul saat muncul kabar EKTP Djarot yang palsu. Petugas partai dari PDIP itu saat ini mencoba peruntungan di Sumatera Utara setelah gagal di DKI Jakarta.

    Masalah berganti masalah seakan menjadi sesuatu yang lumrah dalam rezim ini. Penyelesaian akan suatu masalah menjadi nomor dua. Terpenting dan utama sekali adalah masyarakat dikacaukan dengan masalah dan masalah.

    Masalah terbaru yang diciptakan pemerintah adalah dengan melantik Pj Gubernur Jabar dari Polri. Keputusan pemerintah ini seakan menantang akal sehat semua orang. Pemerintah cuek bebek dengan segala kritikan yang datang.

    Pelantikan Komjen Iriawan bisa dikatakan skenario jahat dari rezim ini. alasannya adalah persiapan langkah untuk memuluskan (skenario) sampai dengan sikap inkonsistensi pemerintah atas kata-katanya.

    Komjen Iriawan sudah dipersiapkan sejak lama untuk mengisi posisi Pj Gubernur Jabar. Sejak bulan januari namanya sudah disebut-sebut. Namun saat itu, wacana pemerintah mendapat banyak pertentangan. Sampai-sampai Menkopolhukam, Wiranto menyatakan tidak akan mengaminkan wacana Mendagri untuk mengangkat Komjen Iriawan.

    Namun siasat tidak berhenti disitu. Komjen Iriawan dipindahkan ke Lemhanas sebagai ganti posisi yang ditawarkan sebelumnya. Siasat dibiarkan berjalan sampai semua diam. Saat semua tidak menyadarinya, tetiba Mendagri dengan mendadak menyampaikan akan melantik Komjen Iriawan sebagai Pj Gubernur Jabar. Duar, semua kembali menjadi heboh.

    Itulah masalah yang diselesaikan dengan masalah baru ala rezim Jokowi. Semua serba heboh. Bukan heboh karena prestasi tapi heboh karena sensasi. Bisa dikatakan setiap minggunya ada masalah baru untuk menutup masalah lama. Sungguh Rezim yang Bermasalah.

    Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here