Klaim Menang Pilkada, Cara Nasdem Tutupi Elektabilitas Jeblok

    0
    Klaim Menang Pilkada, Cara Nasdem Tutupi Elektabilitas Jeblok
    Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh

    PolitikToday – Klaim besar-besaran Partai Nasdem soal menang Pilkada 2018 dinilai hanyalah upaya menutupi jebloknya elektabilitas parpol besutan Surya Paloh ini. Sebab, dari hasil survei, parpol ini hanya mendapat 2,5 persen atau di bawah ambang batas parlemen 4 persen.

    Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago. Karena itu menurut dia, klaim besar-berasan lewat jejaring media yang berafiliasi dengan parpol tersebut tidaklah mengherankan.

    “Survei Litbang Kompas April 2018 menunjukkan elektabilitas Nasdem hanya 2,5 persen atau di bawah ambang batas parlemen 4 persen. Jadi wajar klaim kemenangan di pilkada dipublikasikan besar-besaran agar mempengaruhi pemilih,” kata Pangi Syarwi, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (2/7).

    Ia menjelaskan, memang banyak faktor yang memengaruhi keterpilihan pasangan calon (paslon) dalam Pilkada. Misalnya branding, isu dan program, mesin parpol dan figur.

    “Tapi kebanyakan itu utamanya karena figur,” ujarnya.

    Secara khusus, Pangi menyoroti sejumlah parpol menengah seperti Nasdem, yang langsung mengklaim kemenangan paslon yang diusung. Meski yang terpilih itu menurut hasil hitung cepat bukanlah kadernya.

    “Problemnya parpol papan tengah ini sudah main klaim langsung saja kalau menang. Oke, ada parpol yang kerja, tapi figur dominan lebih kuat,” kata Pangi.

    “Yang berbahaya, parpol papan tengah hanya disewa perahunya oleh calon yang populis. Jadi itu bukan prestasi parpol tengah,” ujarnya.

    Jika kemenangan dilihat dari banyaknya kader yang menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah, kata Pangi, parpol-parpol papan atas seperti PDIP dan Golkar masih berada di posisi teratas.

    “Parpol atas seperti PDIP dan Golkar dibilang seakan sudah keok karena paslon yang didukung tidak banyak menang, itu kurang tepat. Karena yang harusnya dilihat, yang terpilih itu kader partai mana?” ujarnya.

    Pangi secara khusus menyoroti paslon yang diklaim parpol menengah di sejumlah pilkada provinsi.

    “Apa kader yang menang itu sudah mereka Nasdem-kan? Atau Hanura-kan? Misal di Sumut, Edy dan Musa itu bukan parpol siapapun. Begitupun di Jatim, Khofifah tak bisa diklaim kader Nasdem. Begitupun di Jabar, RK tak bisa diklaim Nasdem, Hanura, atau PKB,” kata dia.

    Pangi melanjutkan, hal yang berbeda tentunya terjadi di Pilgub Jateng yang dimenangkan oleh Ganjar Pranowo dan Taj Yasin. “Ganjar memang PDIP. Itu konkret. Jadi parpol papan tengah dan bawah jangan jumawa,” tandasnya.

    Diketahui, Nasdem memenangkan 11 provinsi dari 17 provinsi yang menggelar Pilkada versi hitung cepat sejumlah lembaga survei. Ketua Umum Surya Paloh mengatakan pencapaian ini melampaui target yang telah ditentukan oleh DPP.
    (raf)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here