PKPU Resmi Diundangkan Kemenkumham, Eks Koruptor Tetap Dilarang Nyaleg

    0
    PKPU Resmi Diundangkan Kemenkumham, Eks Koruptor Tetap Dilarang Nyaleg
    Sejumlah bakal calon (balon) anggota legislatif (caleg) Pemilu 2019 mempersiapkan berkas untuk pengurusan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di Polres Lhokseumawe, Aceh, Selasa (3/7). Pengurusan SKCK dan keterangan bebas narkoba di setiap Polres sesuai keputusan Mabes Polri dan KPU itu sebagai kelengkapan administrasi sejumlah balon legislator anggota DPD RI, DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, yang akan mencalonkan diri dari 14 partai politik peserta pemilu 2019, jelang masa pendaftaran bakal caleg pada 4-17 Juli 2018. (ANTARA FOTO/Rahmad)

    PolitikToday – Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018 tentang pemilihan anggota legislatif resmi diundangkan oleh Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) pada Selasa, 3 Juli 2018, kemarin. Meski sebelumnya sempat ditolak, namun substansi PKPU ini masih sama, yakni eks koruptor dilarang untuk menjadi calon legislatif (caleg).

    “Substansinya sama (dengan PKPU tanggal 30 Juni 2018). Mantan napi korupsi, pelaku kejahatan seksual terhadap anak dan bandar narkoba tidak boleh nyaleg,” terang Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Rabu (4/7/2018).

    Menurut dia, letak perbedaan dari kedua PKPU itu hanya di persoalan redaksional. Pada PKPU yang dikeluarkan pada tanggal 30 Juni 2018 memuat larangan ketiga model mantan napi tersebut menjadi caleg dalam pasal 7 ayat (1) huruf h.

    “Bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah Warga Negara Indonesia dan harus memenuhi persyaratan bukan mantan terpidana bandar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak, atau korupsi,” demikian bunyi pasal itu.

    Kemudian, setelah PKPU diteken oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Widodo Ekatjahjana, isi peraturan tersebut tercantum dalam pasal 4. Berikut isi pasal tersebut:

    “Dalam seleksi bakal calon secara demokratis dan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat(2), tidak menyertakan mantan terpidana narkoba, kejahatan seksual terhadap anak, dan korupsi.”

    Konsekuensinya, kini, partai politiklah yang harus memastikan bakal calon anggota legislatif bersih dari riwayat mantan terpidana korupsi. Begitu juga dengan larangan lainnya, yakni mantan terpidana kejahatan seksual terhadap anak dan bandar narkoba.

    Namun hal ini tidaklah baru. Sebelumnya, KPU memang menyiapkan 2 opsi untuk pengimplementasian aturan tersebut. Pertama, akan sesuai dengan draft Peraturan KPU (PKPU), yang mana aturan tidak diserahkan kepada partai politik.

    Opsi kedua, kata Wahyu, akan diimplementasikan kepada partai politik, yakni sebagai syarat rekrutmen parpol yang mewajibkan para caleg tak boleh mantan terpidana korupsi.

    “Lalu kedua, parpol dalam mekanisme rekrutmen pencarian caleg, akan menetapkan aturan larangan mantan napi korupsi,” katanya.

    Wahyu menjelaskan, dua opsi itu memiliki tingkatan yang sama. Tidak dapat kemudian diartikan sebagai opsi pertama lebih tinggi atau lebih kuat daripada opsi kedua, ataupun sebaliknya.

    “Sebenarnya dua opsi ini bukanlah dua opsi yang beda. Jadi bukan berarti opsi A lebih keras dari opsi B, atau tingkatan satu, tingkatan dua, tidak begitu. Hanya nanti implementasinya nya saja (yang berbeda). Jadi dua opsi ini tidak menggambarkan gradasi ya,” ujar Wahyu.
    (raf)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here