Refleksi Koalisi Oposisi, Manuver ‘Jenderal Kardus’ hingga Kemunculan ‘Setan Gundul’ (Bagian 2)

0
Kata Pengamat, PKS dan Gerindra Semakin Terpuruk Paska Pemilu 2019
Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (tengah) bersama Cawapres Sandiaga Uno dan petinggi partai pendukung mengangkat tangan saat mendeklarasikan kemenangannya pada Pilpres 2019 kepada awak media di kediaman Kertanegara, Jakarta, Kamis (18/4/2019). Prabowo kembali mendekalarasikan kemenangannya versi real count internal BPN sebesar 62 persen. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pd.

Sambungan…

Di tengah kebuntuan penentuan cawapres bagi Prabowo, masuklah Sandiaga Uno ke gelanggang. Ia mengamini permintaan PAN dan PKS, bahkan bersedia memberi lebih. Wakil Sekjen Demokrat, Andi Arief, mengungkapkan, Sandi membayar Rp 500 miliar untuk masing-masing parpol. Seketika, kengototan kedua parpol itu, yang awalnya memaksakan kader mereka maju di pilpres, lenyap begitu saja. Mereka benar-benar melunak. Padahal sebelumnya berkoar-koar bahwa mengusung kader sendiri adalah sebuah harga mati!

Tentu saja Demokrat geram kepada Prabowo. Ia yang sejak semula mengajak bekerjasama, dengan meminang AHY sebagai calon wakilnya, tiba-tiba di tengah jalan melakukan manuver. Dengan cara sepihak memutuskan untuk mengganti AHY dengan Sandi. Kadernya di Gerindra yang bersedia mengeluarkan dana untuk membayar mahar politik. Demokrat berang, dan Andi Arief menggelari Prabowo sebagai ‘jenderal kardus’. Mungkin karena plin-plan dan tidak memegang teguh komitmen.

Memang, setelah kejadian itu, Prabowo bolak-balik mendatangi rumah SBY di Mega Kuningan. Kabarnya ia menawarkan hal yang sama kepada Demokrat, sebagaimana yang diterima PAN dan PKS. Namun, SBY bersikukuh menolak. Untuk mencari titik terang, SBY lantas mengusulkan agar sosok cawapres dicari bersama. Bukan AHY apalagi Sandi. Tapi orang yang benar-benar berpotensi mendongkrak elektabilitas Prabowo yang mangkrak. Sebagai informasi, saat itu tingkat keterpilihan Sandi juga sangat rendah, hanya nol koma.

Prabowo mengamini usulan itu. Ia berjanji akan membicarakannya dengan PAN dan PKS. Bahkan ia menyanggupi untuk mengganti nama Sandi. Tapi yang terjadi, malahan mereka menggelar deklarasi. Tiga parpol itu menyepakati Prabowo-Sandi untuk didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) esok harinya. Meski begitu, pada akhirnya SBY tetap menunaikan janji untuk mendukung Prabowo tanpa syarat. Inilah sebuah kedewasaan dalam berpolitik. Semua dinamika terjadi, semata-mata karena alasan etika dan hitung-hitungan untuk meraih kemenangan.

Baca juga  HAM dan Janji Mr. Presiden

Tak Ada Jatah Menteri untuk Demokrat

Jika sejak awal koalisi ini sudah retak, tentu dalam perjalannya juga akan mengalami banyak persoalan. Salah satunya sikap Demokrat yang dianggap setengah hati mendukung Prabowo-Sandi. SBY menjawab ringan tudingan ini. Ia mengakui parpol besutannya main ‘dua kaki’. Yakni dalam artian misi pertama memenangkan pemilihan legislatif, dan misi kedua memenangkan pilpres. Bagi parpol yang tak memiliki kader dalam kontestasi, strategi ini lumrah dijalankan.

Toh, mereka juga tidak bakal mendapat efek ekor jas (coat-tail effect) dari pencalonan Prabowo-Sandi. Jadi buat apa hanya menang pilpres jika kursi di DPR hancur berantakan. Ibarat lilin yang menerangi seisi ruangan, sementara tubuhnya habis terbakar dilahap api. Apalagi bagi Demokrat, yang tidak mendapat keuntungan secara signifikan dari kompetisi pilpres ini. Kader mereka tidak terlibat, “kardus” juga tak didapat.

Namun, Gerindra memiliki anggapan berbeda. Mereka menilai parpol yang pernah menang pilpres dua kali ini tidak serius dalam memberikan dukungan. Karenanya, ketika adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, berandai-andai soal pembagian kursi menteri jelang pilpres, ia enggan memberi jatah untuk Demokrat. “Kita kan sudah sepakat dengan PAN, ada 7 menteri untuk PAN, 6 untuk PKS, partai lain masih diskusi. Demokrat belum definitif. AHY salah satu dipertimbangkan. Masih dipertimbangkan,” kata Hashim di Jakarta, Senin (1/4/2019).

Munculnya ‘Setan Gundul’

Di hari pencoblosan, pasangan Prabowo-Sandi ternyata kalah. Itu berdasarkan semua hasil exit poll dan quick count (hitung cepat) semua lembaga survei yang terdaftar dalam pemilu. Tak ada satupun yang memenangkan kandidat oposisi ini. Lucunya, Prabowo-Sandi justru mengklaim menang, dengan hasil signifikan pula. Sekjen Demokrat, Andi Arief, mengomentari klaim tak berdasar ini. Menurutnya, ada kelompok ‘setan gundul’ di koalisi yang selalu memberikan bisikan sesat kepada Prabowo-Sandi.

Baca juga  Komisi III Desak Polri Jelaskan Soal Import Senjata

“Dalam koalisi adil makmur ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen. Partai Demokrat hanya ingin melanjutkan koalisi dengan Gerindra, PAN, PKS, Berkarya dan Rakyat. jika Pak Prabowo lebih memilih mensubordinasikan koalisi dengan kelompok setan gundul, Partai Demokrat akan memilih jalan sendiri yg tidak khianati rakyat,” kata Andi.

Pada akhirnya, kebenaran terkuak juga. Klaim kemenangan dan tuduhan kecurangan pilpres yang didalilkan Prabowo-Sandi tak satupun yang terbukti di pengadilan. Bisikan ‘setan gundul’ rupanya hanya fatamorgana angin surga yang tak pernah nyata. Andai dulu Prabowo berkenan mendengar usulan SBY untuk mencari cawapres yang bisa mendongkrak suara, bukan calon yang elektabilitas rendah, dari parpol yang sama pula, mungkin hasilnya bakal berbeda.

Tapi apa hendak dikata, semua sudah terjadi. Setiap perkara selalu ada hikmahnya. Jika dalam memimpin koalisi kecil saja sudah amburadul dan sering terjadi pertikaian, bagaimana nanti mengelola sebuah negara. Mungkin itu penyebabnya, Prabowo tidak kunjung bisa menjadi seorang pemimpin besar di Indonesia.

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here