Inkonsistensi Oposisi yang Tergiur Jabatan Menteri

0
Foto kebersaman Andre Rosiade bersama dengan Presiden Terpilih Jokowi (Instagram)

Konsistensi rupanya sedang mendapat ujian serius akhir-akhir ini. Para elite politik oposisi yang dulu garang mengkritik teman sekoalisi, menuduh mereka pengkhianat, hanya karena menyuarakan rekonsiliasi, tiba-tiba berubah 180 derajat. Orang-orang itu kini mengalami kesulitan hebat mempertahankan konsistensinya.

Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade, adalah contoh nyata. Publik belum lupa bagaimana ia mem-bully Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi), usai pelaksanaan Pilpres 2019. Komandan Kogasma Partai Demokrat itu dituding berkhianat terhadap koalisi pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Tak puas dengan itu, calon wakil rakyat dari Sumatera Barat itu bahkan menghina putra sulung Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dengan sebutan ‘bangsawan politik’. Sementara ia membanggakan diri dengan klaim menjalani karir politisi dengan merangkak dari bawah.

Sayang, tak sampai sebulan, Andre menjilat ludahnya sendiri. Keberanian Andre dalam memaki dan berbangga diri itu, menjadi bumerang bagi dirinya. Jika dulu ia mencaci sikap AHY, kini bully-an yang lebih hina ia terima dari mayoritas pendukung oposisi.

Pokok soal, lantaran Andre mulai menyuarakan rekonsiliasi antara prabowo dengan Jokowi. Memang, ia mengadopsi pemikiran AHY soal rekonsiliasi ini. Namun bedanya, AHY menginisiasi rekonsiliasi untuk perdamaian dan kebaikan negeri. Sementara Andre punya maksud agar Gerindra bergabung ke dalam pemerintahan dengan mendapat ‘imbalan’ kursi menteri.

Rumor soal permintaan jabatan menteri oleh Gerindra ini sudah bertiup sejak perkara sengketa hasil Pilpres 2019 masih bersidang di Mahkamah Konstitusi (MK). Pemicunya adalah pertemuan Prabowo dengan Jusuf Kalla (JK) secara diam-diam di Istana Wakil Presiden. Dalam pertemuan itu konon Prabowo menerima permintaan JK agar legowo, tapi dengan syarat diberi lima kursi menteri.

Baca juga  JK Belum Tahu Pratikno Jadi Ketua Tim Internal Cawapres Jokowi

Kabar itu kian berhembus kencang setelah putusan MK yang menolak semua gugatan Prabowo-Sandi. Terlebih, setelah publik mengetahui ada lagi pertemuan diam-diam Prabowo dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan, yang merupakan orang dekat Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Lalu ada pula rumor pertemuan Jokowi dan Prabowo di Thailand, meski yang terakhir ini dibantah.

Banyak yang curiga, ‘pengkhianatan’ Andre terhadap perjuangan pendukung oposisi ini, karena membuka peluang untuk bergabung dengan penguasa, merupakan sikap asli dari Gerindra. Indikasinya cukup kuat. Selain sikap Andre dan manuver Prabowo, akun Twitter resmi Gerindra juga terus-terusan menyuarakan hal senada; rekonsiliasi dengan penguasa dan peluang berbagi kekuasaan di pemerintahan.

Beginilah jika para politikus telah tergadai iming-iming jabatan yang menggiurkan, maka tidak akan ada lagi kebenaran yang konsisten keluar dari mulutnya. Juga tidak ada aib yang dikutuk secara konsisten pula. Kita sudah lama digerogoti oleh korupsi. Kini, kita juga telah menjadi bangkrut soal komitmen dan konsistensi. Kita muncul sebagai bangsa yang keropos. Para elite politik yang seharusnya menyuarakan jeritan rakyat, telah terjerumus ke dalam ambisi rakus kekuasaan.

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here