Kerusuhan di Papua, Salah Siapa?

0

Tepat satu hari setelah merayakan Hari Ulang Tahun kemerdekaan ke 74 (17 Agustus) kemarin, tanah air diramaikan dengan isu politik dari arah Timur Indonesia. Ribuan masyarakat yang tergabung dalam mahasiswa dan bersama warga di Manokwari mengadakan aksi turun ke jalan.

Aksi protes yang diduga dipicu oleh pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang tersebut berakhir ricuh. Banyak kita lihat di media sosial dan tivi nasional meliput di daerah Manokwari, Papua Barat. Kerusuhan juga diduga dipicu pernyataan Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko berupa rasis terhadap mahasiswa asal Papua.

Selain itu, intimidasi lainya, sang Wali Kota turut mengancam bakal memulangkan mahasiswa asal Papua ke daerah asalnya kepada Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia for West Papua di Malang pada Kamis (15/8) lalu.

Hal ini tidak seharusnya terjadi apabila pejabat daerah bisa menggunakan komunikasi yang baik dalam memberikan pernyataan. Terlebih disaat berhadapan dengan masyarakat (potensi konflik tinggi) yang hendak menyampaikan aspirasi.

Karena statement sekecil apapun kalau emosional tanpa terkendali itu bisa menimbulkan opini yang berbeda dan bisa menimbulkan kesalahpahaman dan bisa menimbulkan seperti yang terjadi di Manokwari dan Jayapura

Sangat disayangkan, sebagai pejabat negara atau daerah, tidak bijak menghadapi rakyat dikala menyampaikan pendapat. Jika dilogikakan, seperti kertas tersambar api yang berasal dari putung rokok. Tersundut sedikit, maka kertas tersebut langsung terbakar meski dari bunga api korek.

Kita semua tahu, dari dulu provinsi paling Timur ini sudah sangat ingin lepas dan merdeka dari Indonesia. Karena, tokoh setempat merasa dianak tirikan oleh pemerintah pusat. Sebagai daerah kaya dengan sumber daya alam, Papua mendeklarasikan mampu untuk mengelola tanpa bantuan dari pusat. Peristiwa ini bisa saja memicu konflik, bahkan perang antar saudara bagi tanah air jika pemerintah pusat tidak bergerak cepat meredam aksi Papua yang begitu hangat untuk dibicarakan.

Baca juga  Luka dan Duka Bangsa Atas Retaknya Kemanusiaan

Dari peristiwa tersebut, banyak pihak menginginkan para intelijen, baik TNI dan Polri, bersama Pemda, untuk lebih aktif dalam memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Jangan sampai, provinsi Papua lepas dari Indonesia seperti Timor-Timor. Karena, dengan lepasnya Papua dari Indonesia, menandakan NKRI lagi dilanda sakit sehingga tidak bisa mempertahankan kesatuan dan persatuan selama ini yang terjaga paska timur leste lepas dari Indonesia.

Oleh: Yoyo Tuna

Pengamat politik Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here