Papua Tanah Air Beta

0

Bicara soal kericuhan Papua di beberapa tempat yang lalu banyak menimbulkan komentar-komentar dari masyarakat tanah air soal masa depan tanah papua. Banyak dari mereka memprediksi provinsi paling Timur Indonesia tersebut bakal menyusul Timur Leste untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini dikarenakan rentetan permasalahan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Hingga peristiwa rasis yang menimpa mahasiswa papua di Surabaya, dan Malang. Hanya persoalan sepele seperti enggan memasang bendera merah putih jelang hari kemerdekaan 17 Agustus lalu.

Permasalahan yang menimbulak ricuh tersebut terjadi atas satu kesatuan dari permasalahan masa lalu yang kemudian kembali tersulut yang akhirnya keinginan membebaskan diri dari Indonesia semakin tinggi.

Jika dikaji dari segi historis-politis. Papua merupakan bagian terakhir dari daerah yang ikut masuk ke dalam pemerintahan Indonesia kala itu.  

Etnonasionalisme Papua Barat yang tinggi ini tak serta merta tumbuh, ada banyak faktor yang menyebabkan Papua ingin berdiri sendiri. Pertama, karena proses integrasi Papua ke dalam NKRI yang melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1961–1963, dianggap tidak pernah melibatkan rakyat Papua secara keseluruhan. Jadi lumrah jika sampai saat ini masih ada tuntutan dari berbagai kalangan untuk mengkaji kembali “aspek historis” dari proses integrasi Papua ke dalam NKRI.

Kedua, masyarakat Papua merasa terpinggirkan, akibat adanya faktor internal dan eksternal. Secara internal, kualitas sumber daya manusia yang masih rendah dan budaya lokal Papua yang eksklusif menyulitkan mereka untuk dapat segera berdikari. Sementara di Papua sendiri kehadiran faktor eksternal, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama dalam persaingan ekonomi, fenomena migrasi, dan disparitas pembangunan desa dan kota, sudah mulai banyak terjadi.

Baca juga  Demokrat S14P Bukan Hanya Slogan, Sebuah Tinjauan Strategis

Ketiga, Papua masih menyimpan masalah terkait hubungannya dengan pemerintah pusat. Masyarakat Papua menilai pemerintah masih belum peka dengan keadaan di Papua, terutama mengenai kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang hingga kini belum tuntas. Ketiga faktor inilah yang diduga memicu konflik, namun apakah Papua bisa melepaskan diri dari Indonesia?

Jawabannya hanya waktu yang bisa menjawab. Pemerintahan pusat dalam hal ini Presiden dan Menkopolhukam paling bertanggung jawab untuk mereda emosi yang sudah menggunung dari warga papua. Sehingga, keinginan untuk merdeka dari NKRI bisa tidak terjadi masa yang akan datang.  

Irwan Malik

Pemerhati Sosial Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here