KPAI dan PB DJarum Korban Politisasi Penguasa kah?

0

Indonesia memiliki segudang prestasi di cabang olah raga bulutangkis. Hal ini dikarenakan pemerintah dibantu pihak swasta (PT Djarum) menelurkan atlet-atlet baru melalui beasiswa Persatuan Bulutangkis Djarum.

Dengan adanya beasiswa tersebut, anak-anak hingga remaja berkesempatan untuk dilatih dan dibina menjadi atlet profesional. Tak jarang, para lulusan beasiswa tersebut meraih juara dunia di tiap kompetisi yang diselenggarakan oleh Djarum maupun pihak lain. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganggap pihak penyelenggara menyalahi aturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang kegiatan-kegiatan yang disponsori oleh rokok. Sehingga, komisi ini pun sempat melarang beasiswa PB Djarum untuk diselenggarakan. Meski akhirnya, larangan tersebut dicabut.

Keputusan KPAI tersebut mendapat reaksi keras dari masyarakat. Dianggap, keputusan penghentian dapat menghambat prestasi anak-anak usia dini untuk berprestasi. Sementara, permasalahan krusial lainya seperti kekerasan terhadap anak anak tidak diusut tuntas oleh KPAI. Masih banyak kasus gelandangan anak di bawah umur tidak terselesaikan, anak-anak terlantar pun masih banyak ditemui di pinggiran jalan protokol.

Sejak awal berdiri pada 1969 hingga sekarang, kita semua tahu program beasiswa PB Djarum telah mencetak puluhan bahkan ratusan atlet bulutangkis berprestasi dunia. Malahan Indonesia dianggap sebagai musuh terberat bagi negara maju khususnya Eropa dalam dunia bulutangkis.

Tercatat, beberapa nama atlet muda berprestasi berhasil  mengharumkan nama bangsa dan negara dikancah dunia pada olah raga ini. Karena, misi dan visi dari PB Djarum sendiri yaitu menghasilkan bibit atlet bulutangkis usia dini menjadi pemain bulutangkis professional baik tingkat nasional maupun internasional.

Jadi tak heran jika larangan adanya jalur prestasi lewat beasiswa PB Djarum menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat hari ini. Karena peluang bagi anak-anak mereka menjadi seorang atlet dunia terhenti karena alasan yang tidak tepat.

Baca juga  Daftar Iuran BPJS Kesehatan yang Naik 100 Persen

Beruntung, permasalah tersebut tidak jadi diberlakukan. Setelah pihak KPAI, PB Djarum, PBSI, dan Kemenpora melakukan pertemuan guna menghasilkan kesepakatan untuk kegiatan beasiswa PB Djarum tetap berlanjut dengan syarat penggantian nama pada Audisi PB Djarum. Yang semula ‘Audisi Umum Beasiswa PB Djarum 2019’ menjadi ‘Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis’ tanpa menggunakan logo, merek dan brand image Djarum.

Yang jadi persoalannya sekarang ialah, kenapa lembaga independen perlindungan Anak ini baru mempermasalahkan regulasi yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang kegiatan-kegiatan yang disponsori oleh rokok tidak boleh disiarkan secara langsung oleh media? Apa ‘setoran’ dari pihak penyelenggara kurang banyak, atau tidak lancar?

Dengan adanya jalan tengah untuk mengakhiri perdebatan di tengah masyarakat tersebut, dituangkan lah ke dalam nota kesepahaman antara pihak yang bersangkutan (Ketua KPAI Susanto, Sekjen PBSI Achmad Budiharto, Pengurus PB Djarum Lius Pongoh, dan Menpora RI Imam Nahrawi).

Tak lain adanya keinginan dari pemerintah mempertimbangkan ketersediaan atlet bulutangkis usia muda secara selektif dan berjenjang dalam berkontribusi bagi proses pembibitan atlet

PB Djarum sepakat untuk mengubah nama. Kemudian, KPAI setuju untuk mencabut surat KPAI tanggal 29 Juli 2019 tentang permintaan pemberhentian Audisi Umum Beasiswa Djarum.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Imam Nahrawi menyampaikan, pertemuan itu melahirkan beberapa kesimpulan yang disepakati sebagai solusi terkait audisi bulu tangkis. Seluruh pihak ingin, proses pengembangan atlet muda dapat terus berkesinambungan dengan catatan penting yang sudah dipahami. 

Jadi sangat disayangkan apabila KPAI menghentikan dengan alasan yang tidak masuk akal dan diterima dengan akal sehat. Jangan sampai gegara kurang setoran menghambat bibit berprestasi anak muda tanah air jadi korban. Karena Indonesia sangat minim akan prestasi.

Baca juga  SBY Bertemu dan Berdialog Dengan Kelompok Tani di Batang

Indonesia sangat tertinggal dalam berbagai kompetisi. Baru baru ini tim nasional sepak bola kita juga gagal melangkah menuju piala dunia 2022. Dua kali bermain, dua kali jua harus menelan kekalahan dari negara tetangga Malyasia dan Thailand.

Oleh sebab itu, kita harus mendukung anak-anak usia dini berbakat untuk mewujudkan cita-cita mereka melalui beasiswa yang ditanggung pihak swasta seperti PB Djarum ini.

Oleh: Ainur Wardiah Syaputra

Pemerhati Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here