Bernegara Jangan ‘Gimmick’ & Kemarahan Joker

0

Melihat sajian berita politik akhir-akhir ini sungguh bikin geleng-geleng kepala. Coba saja perhatikan, ada partai pendukung calon tertentu yang katanya mendukung tanpa syarat, saat ini malah ngotot minta ini dan itu. Ada juga parpol yang katanya oposisi sejati, lah sekarang dikabarkan minta jatah 3 menteri. Ini kan ajaib.

Partai politik yang sejatinya penyambung lidah rakyat, seakan hari ini hanya sekedar pendulang suara demi kepentingan kuasa semata. Tingkah dan polah mereka seakan-akan mengolok amanat yang telah diberikan rakyat. Panggung politik hari ini seakan ‘gimmick’ yang tidak akan mungkin ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Realita dari ‘gimmick’ panggung politik tanah air terbaru adalah berita tentang Prabowo yang ‘ingin’ jadi Menteri Pertahanan (Menhan). Hal ini tentunya sangat berbeda 180 derajat dari sikap Prabowo yang diketahui publik semasa kampanye ingin presiden. Prabowo yang dikenal berapi-api ingin menjungkalkan Jokowi untuk periode keduanya, kini seolah lembek demi kuasa dan bintang empat di pundak.

Gimmick vulgar demi kekuasaan yang ditunjukkan para elite politik ini sangat membahayakan stabilitas sosial maupun politik. Pertama, kedepan masyarakat bisa menjadi apatis terhadap proses politik dan itu membahayakan demokrasi. Kedua, kondisi ini bisa membuat kemarahan yang sangat liar karena tidak adanya saluran politik yang bisa dipercaya lagi oleh masyarakat.

Agaknya, tidak ada salahnya para elite politik tanah air meluangkan waktu untuk menonton Film Joker yang saat ini tengah ramai diperbincangkan. Tidak hanya ramai diperbincangkan oleh penikmat film, tapi juga ramai diperbincangkan oleh beberapa lembaga pertahanan negara di luar negeri. Bahkan di Amerika, FBI sampai ditugasi khusus untuk memantau reaksi orang-orang di media sosial pasca menonton film itu.

Baca juga  Politik Seruduk Pertanda Belum Dewasa Berdemokrasi

Dari film yang dibintangi Joaquin Phoenix ini kita dapat belajar, bahwa kondisi chaos di tengah masyarakat itu bisa meletus karena beberapa faktor. Ada faktor pengabaian, rasa tidak dihargai/tidak dianggap, dan manipulasi keadaan/sosial oleh penguasa dan pemegang modal. Jika kita menyimak tragedi sosial di film tersebut, peran Joker yang besar di film itu sebenarnya hanyalah pemicu ledakan sosial yang terjadi.

Dalam film ini juga diceritakan betapa tipisnya antara komedi dan tragedi. Jadi, bagi elite yang tengah ber-’gimmick’ atau berkomedi untuk mendapat tepuk tangan riuh dari rakyat, berhati-hatilah. Jangan sampai ‘gimmick’ itu malah berujung pada tragedi yang merugikan keutuhan bangsa kita.

Oleh sebab itu, para elite janganlah ber-bergimick dalam bernegara. Harus ada pertanggungjawaban moral yang ditunjukkan kepada basis suara yang telah mendukung. Jika ini diabaikan, bersiaplah kita akan dikepung oleh Joker-Joker yang selama ini hanya dianggap badut yang dapat dibodoh-bodohi oleh janji politik.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here