Ekonomi Double Digit Prabowo & BPJS Naik Dua Kali Lipat

0
Prabowo menemui Jokowi jelang pengumuman menteri Kabinet Indonesia Maju

Dukungan publik kepada capres Prabowo di 2014 dan 2019 tidak mudah untuk dilupakan begitu saja. Apalagi di Pilpres 2019, dukungan rakyat kepada Prabowo tidak hanya diberikan melalui suara, tapi juga darah dan nyawa. Tapi yasudahlah, apa pentingnya nyawa seseorang di negeri ini. Toh tragedi reformasi 1998 sampai hari ini masih misteri. Lagian, kini Prabowo sudah menjadi bagian dari kekuasaan walaupun dalam posisi sebagai pembantu presiden.

Di awal sebelum menjadi pembantu, masih dalam posisi capres kalah, Prabowo ketika diundang ke istana mengaku siap membantu pemerintah khususnya dalam bidang perekonomian. Bahkan dengan gagahnya Prabowo memberikan harapan agar mendapat restu dari pemilih militannya dengan keyakinan mendorong ekonomi Indonesia tumbuh menjadi dua digit.

Akan tetapi, belum jalan dua bulan pemerintahan yang baru ini, agaknya Prabowo lupa dengan harapan yang ditebarnya guna pembenaran di depan publik agar dia direstui turun level dari capres menjadi pembantu presiden. Alih-alih Prabowo mendorong atau menyodorkan konsep pertumbuhan ekonomi double digit, mantan Danjen Kopassus ini bungkam dengan gebrakan pertama pemerintah di awal pemerintahan dengan menaikkan iuran BPJS dua kali lipat.

Sah. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomr 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, iuran BPJS per 1 Januari 2020 resmi naik 100 persen. Kenaikan ini berlaku bagi Peserta Bukan Penerima Uaph (PBPU) dan peserta bukan pekerja.

Jadi, per 1 Januari 2020 nanti, peserta mandiri kelas III yang biasanya membayar iuran sebesar Rp 25.000 akan naik menjadi Rp 42.000. Sedangkan peserta kelas II dan III yang biasanya mebayar iuran Rp 51.000 dan Rp. 80.000 naik menjadi Rp 110.000 dan Rp 160.000. Belum cukup sampai disitu, tahun depan juga diperkirakan kenaikan sejumlah tarif lain seperti, tarif listrik, TOL, dan moda transportasi online.

Baca juga  Pagi Ini KPU Gelar Sidang Penetapan Parpol Peserta Pemilu

Tak sampai hati rasanya melihat nasib pemilih Prabowo di 2019 lalu. Bayangkan daerah yang menjadi lumbung suara Prabowo seperti Jawa Barat yang hanya memiliki UMP sebesar Rp 1,6 jutaan. Dengan semua kenaikan-kenaikan itu apakah mereka masih sanggup untuk bertahan dan berjuang bersama Prabowo yag kini menjadi pembantu presiden mewujudkan ekonomi dua digit? Berharap ada kenaikan upah juga sulit, perusahaan atau pelaku industri juga tengah berpikir keras untuk keluar dari kondisi ekonomi yang semakin mencekik.

Prabowo sepertinya sibuk dengan seremonial-seremonial kemiliteran di lingkungan Kementerian Pertahanan. Acara hormat-hormatan seperti hal yang sangat dinantikan, hal itu seolah mengingatkan kita pada lucu-lucuan ‘siap pak presiden’ pasca Pilpres 2019 lalu. Bahkan hits pula berita Prabowo tak ambil gaji menteri, terkesan seperti pencitraan yang akan dimanfaatkan untuk pemilu-pemilu berikutnya.

Tapi yasudahlah, elite kita sepertinya sudah putus urat malunya. Hari ini bicara ekonomi dikuasai asing dan dikapitalisasi, lusa bicara rekonsiliasi dan jatah menteri. Hari ini bicara solusi ekonomi dua digit tapi diam ketika BPJS melejit dan menjepit rakyat.

Sudah saatnya masyarakat sadar dan menghindari fanatisme berlebihan yang berpotensi melahirkan luka dan kekecewaan yang besar. Kedepan, politik Indonesia harus benar-benar diisi oleh orang-orang yang mempunyai visi, tidak untuk mereka yang berkoar-koar tanpa isi. Kalau yang telah terjadi, biarlah sejarah yang mencatat dan waktu yang akan menjawab dan menghukumnya.

Aryanda Bramantyo Pratama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here