Entropi Budaya, Indonesia Milik Siapa?

0

Toxic Culture atau Enrtopi Budaya merupakan sebuah istilah yang belum cukup populer di Indonesia. Entropi budaya adalah mengukur energi yang terbuang percuma di suatu perusahaan/ organisasi/ pemerintahan/ sosial masyarakat. Dalam pengertian lainnya entropi budaya merupakan energi kelompok yang digunakan untuk pekerjaan yang tidak bermanfaat. Istilah entropi sendiri dalam komunitas fisika berarti derajat ketidak teraturan.

Dalam sebuah survei pada 2006 oleh Leicester University, Inggris, menyimpulkan kebahagiaan rakyat Bhutan secara global berada pada peringkat delapan tertinggi. Padahal secara pendapan per kapita masyarakat Bhutan hanya sebesar USD 1.400. Jika dibandingkan dengan AS yang memiliki pendapatan per kapita USD 41.800, tingkat kebahagiaan masyarakat di Bhutan jauh lebih tinggi 9 level daripada di AS.

Lembaga riset Barrett Values Centre yang membuat peta nilai-nilai individu, organisasi, dan negara mengukur entropi (derajat ketidakteraturan) budaya Bhutan. Ternyata, angkanya sangat kecil, yaitu kurang dari 4 persen. Bhutan menjadi salah satu negara yang memiliki entropi terkecil di dunia.

Di sisi lain, Barrett juga melakukan penelitian di beberapa negara lain. Di Islandia, penelitian dilakukan pada Agustus 2008. Hasilnya, entropi budaya di Islandia sangat tinggi, lebih dari 54 persen. Ternyata, sebulan kemudian, Islandia mengalami kebangkrutan ekonomi. Agustus 2007, dilakukan penelitian terhadap rakyat Latvia, entropi budayanya juga mencapai 54 persen. Dua bulan kemudian, terjadi huru-hara dan pemerintahan Latvia pun jatuh.

Dalam penelitiannya Barret juga menemukan korelasi antara entropi dengan revenue (pendapatan) dan engagement (keterikatan). Entropi yang tinggi senantiasa akan membuat pendapatan yang menurun dan keterikatan yang rendah. Sebaliknya, entropi yang rendah akan membuat pendapatan meningkat dan keterikatan yang semakin erat.

Entropi budaya terdiri atas tiga unsur. Pertama, faktor-faktor yang memperlambat organisasi dan mencegah pengambilan keputusan yang cepat: birokrasi, hierarki, ketidakjelasan, pertengkaran, dan kekakuan. Kedua, faktor-faktor yang mengakibatkan gesekan antaranggota: persaingan internal, menyalahkan intimidasi, dan manipulasi. Ketiga, faktor-faktor yang mencegah anggota dari kerja secara efektif: kontrol berlebihan, terlalu berhati-hatian, mikro-manajemen berlebih, fokus jangka pendek, dan teritorialisme.

Baca juga  Kritik AHY Terbukti, PT 20 Persen Picu Konflik dan Polarisasi

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dari proses dan perjalanan politik lima tahun kebelakang, tidak dapat dipungkiri entropi di Indonesia sangat tinggi. Hal itu bisa dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan dan banyaknya konflik horizontal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, laporan World Happines Report 2015-2018 yang menunjukkan kebahagian masyarakat Indonesia yang terus menurun (peringkat 74 pada tahun 2015-peringkat 96 pada tahun 2018) juga menjadi petunjuk bahwa entropi sedang melanda Indonesia.

Sebelum Indonesia menjadi Islandia atau Latvia berikutnya, penting kesadaran bersama bahwa siapa pemilik daulat Indonesia sebenarnya dan kepada siapa negeri ini akan diwariskan. Terkhusus bagi elite-elite politik, sangat penting untuk menjaga segala tindak tanduk agar tidak menuai pertikaian atau kesalahpahaman di tengah masyarakat yang memancing entropi itu terjadi. Peristiwa penikaman kepada Menkopolhukam Wiranto setidaknya cukup menjadi pelajaran bahwa entropi itu berkembang dalam sosial masyarakat kita. Tinggal kita memilih apakah kita akan memperbaiki keadaan ini bersama-sama, atau kita mengambil jalan sendiri-sendiri dengan pemikiran yang belum tentu benar dan membuat bangsa ini porak poranda.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here