Maju-Mundur Bamsoet Menuju Beringin 1

0
bamsoet airlangga golkar

PolitikToday – Konon Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) bakal terus maju dalam Munas Golkar Desember 2019 mendatang. Isu ini mendapat reaksi keras dari loyalis Airlangga Hartarto, saingan terberat Bamsoet. Mereka menyebut-nyebut perihal kursi Ketua MPR sebagai kompensasi dari Airlangga Hartarto agar Bamsoet tidak turun ke gelanggang perebutan kursi Beringin 1.

“Jika tidak diperintah Ketua Umum, saya dan teman-teman tidak akan siap begadang memuluskan jalan Pak Bamsoet dalam pemilihan Ketua MPR,” tegas Wasekjen Partai Golkar Christina Aryani, Kamis (31/10/2019).

Namun pandangan itu dibantah loyalis Bamsoet, Darul Siska. “Mas Bambang Soesatyo jadi Ketua MPR karena dukungan Partai,” lugasnya. Maksudnya, keberhasilan Bamsoet menduduki kursi Ketua MPR adalah berkat dukungan institusi Partai Golkar, bukan Airlangga secara personal.

Hal senada juga disampaikan Tim Pemenangan Bamsoet, Nofel Saleh Hilabi. Tidak ada perjanjian bahwa jabatan ketua MPR yang dipegang Bamsoet saat ini sebagai bentuk kesepakatan tak boleh lagi maju di Munas Golkar. “Enggak ada hal-hal kaya gitu, enggak ada,…Kalau Ketua MPR, kan tidak cuma didukung Golkar, tapi parpol lain,” kata Nofel.

Buramnya Kesepakatan

Kesepakatan antara Bamsoet dan Airlangga Hartarto memang buram. Sebelumnya Bamsoet mendaku tidak akan bersaing dengan Airlangga. Dalam konferensi pers di ruang Fraksi Partai Golkar, Senayan, Jakarta, Kamis (3/10/2019) malam, Bamsoet menegaskan dirinya cooling down dalam kontestasi Ketua Umum Partai Golkar 2019-2024.

Bamsoet juga memberi sinyal tidak ingin membahas soal perebutan kursi ketua umum Golkar setelah menduduki kursi Ketua MPR. “Ketika melihat tensi politik yang semakin memanas, kami kesampingkan konotasi dan menurunkan konsolidasi. Lain-lain biar lah saya, ketua umum, dan Tuhan yang tahu apa yang sudah kami membuat komitmen,” kata Bamsoet.

Baca juga  Prasetyo Hadirkan Mimpi Buruk dalam Penegakan Hukum

Secara terbuka, mantan Ketua DPR RI itu menyatakan dirinya tidak lagi bersaing dengan dengan Airlangga Hartarto. “Saya ingin mengatakan bahwa tidak ada lagi persaingan, kami sudah selesai,” kata Bamsoet.

Airlangga mengamini pernyataan koleganya itu. Dia menyebut kemenangan Bamsoet sebagai sinyal kebersamaan Golkar. Ia bahkan mengklaim sikap Bamsoet sebagai tanda kader Golkar mengutamakan kepentingan nasional. “Hari ini sudah jelas Golkar membuktikan soliditas. Dengan soliditas kebersamaan, Partai Golkar mengutamakan kepentingan nasional di atas segala-galanya,” kata Airlangga usai Bamsoet dilantik sebagai ketua MPR.

Aksi dukung-mendukung loyalis Bamsoet dan Airlangga memang berujung konflik panas. Bukan cuma saling serang di aras media, tetapi terjadi pula penonaktifan kader-kader pendukung Bamsoet dalam struktur kepengurusan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Namun, loyalis Airlangga menyebut pergantian itu sebagai sesuatu yang wajar, untuk penyegaran dan pendisiplinan organisasi.

Lantas kenapa isu ini muncul lagi?

Menurut para loyalis, Bamsoet sebenarnya tidak berniat maju dalam Munas Golkar mendatang. Namun, dia didesak oleh kader-kader Golkar di akar rumput. “Kalau mas Bamsoet tidak maju itu melukai seluruh pendukung dan pengusung kalau dia tidak maju, karena mas Bamsoet maju bukan keinginan dia sendiri, mas Bamsoet maju dapat dorongan dari teman-teman di daerah dan teman-teman pengurus pleno yang tergabung dalam tim pemenangan Bamsoet,” jelas Nofel, lagi.

Darul Siska juga menyebut hal senada. “Mas Bambang Soesatyo tak mengelak dari tanggung jawab karena didesak oleh pimpinan DPD dan kader-kader untuk memimpin dan membesarkan partai,” katanya.

Alasan selanjutnya adalah sebab secara tradisi kursi Ketua Umum Partai Golkar memang dijabat satu periode. Ketika tradisi ini dilanggar, muncul konflik kuat. Misalnya, pada 2014, konflik perebutan ketua umum kembali terjadi dengan munculnya dualisme kepemimpinan Golkar, yaitu ARB dan Agung Laksono. Akhirnya, Golkar kembali bersatu dan memilih Setya Novanto sebagai pimpinan.

Baca juga  Golkar, Nasdem dan Hanura Ditelikung PDI P di Jakarta?

Peta Pertarungan Berubah

Keharmonisan Bamsoet dan Airlangga disinyalir tidak bertahan lama. Dari awal sudah terprediksi bahwa Airlangga sedang membagi kue kekuasaan kepada Bamsoet yang merupakan kandidat terkuat dalam perebutan kursi ketua umum Golkar. Namun, bukan berarti jalan Airlangga akan mulus. “Faksi di dalam Golkar banyak. Saya pikir akan ada kejutan lain lagi sampai Desember atau munas nanti,” kata pengamat politik Kedaikopi, Kunto. A Wibowo.

Misalnya, kader yang juga mengincar kursi Ketua Umum Golkar Indra Bambang Utoyo mengaku mundurnya Bambang menjadi keuntungan bagi dirinya dalam perebutan kursi ketua umum. Indra menegaskan akan maju dalam bursa ketua umum Golkar walau penuh tantangan dalam menghadapi Airlangga sebagai petahana.

“Kasat mata ya bukan kelasnya untuk melawan beliau (Airlangga, red). Namun saya sudah siap untuk maju di munas yang akan datang. Saya jual konsep untuk membesarkan Golkar, pada waktunya nanti saya akan deklarasi,” kata Indra, Jumat (4/10/2019).

Indra mengatakan, dirinya tetap optimistis berhadapan dengan Airlangga. Ia bahkan mengaku sudah membentuk tim sukses dan mencari kader yang bersedia maju berhadapan dengan Airlangga.

“Jadi ada kader lama dan yang muda bergabung, cuma boleh disebut kader yang jati diri Golkarnya tidak diragukan,” kata Indra.

Yang jelas, apabila Bamsoet kembali masuk gelanggang, perebutan kursi ketum Partai Golkar akan semakin menarik.

(rt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here