Cedera Keadilan Bagi Luthfi

0

Amarah dan kecaman publik nitizen menggema terhadap kasus menimpa Luthfi kadalam lini masa WAG dan Twiitter dengan tagar #BebaskanLuthfi. Pelajar yang menjadi tersangka dalam aksi protes akhir September 2019. Lutfhi adalah pelajar STM yang ikut dalam rombongan aksi protes RUU KPK. Menjadi viral ketika ia memegang bendera merah putih mengusap mata yang terkena gas air mata.

Spontanitas pelajar STM yang direkam baik oleh media, bahwa mereka ikut serta mencari keadilan. Dimana sebelumnya mereka senang tawuran antar sesama pelajar. Melakukan kejahilan khas anak muda. Menjadikan jalanan sebagai tempat ekpresi dan kejengkelan.

Namun, panggilan nurani keadilan mereka tersentuh, ketika mereka melek melihat persoalan bangsa. Terutama tentang bagaimana koruptor menjadi lebih berwibawa. Sedangkan pencuri kecil dihukum dengan ganas di jalanan. Hal ini menyentak kesadaran kemanusiaan generasi muda.

Seruan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lewat UNICEF yang disampaikan oleh Debora Comini. Bahwa semestinya semua pihak yang terkait di Indonesia untuk melindungi anak-nak dari tindak kekerasan dan menghormati hak untuk menyatakan pendapat dalam lingkungan yang aman.

Secara undang-undang tentang keadilan bagi anak-anak Indonesia menyatakan bahwa penahanan dan pemenjaraan anak-anak adalah usaha terakhir yang bisa dilakukan pemerintah. Penahanan seorang anak yang berusia di bawah 18 tahun hanya boleh dilakukan kurang dari 24 jam.

Beberapa kasus pelecehan simbol negara akan berbeda terhadap etnis tertentu. Beberapa nitezen membandingkan dengan penghinaan terhadap presiden sekaligus kepala pemerintahan Republik Indonesia. Semua selesai dalam ranah permintaan maaf dan tidak masuk dalam wilayah hukum pidana dan menikmati dinginnya hotel prodeo kepolisian.

Publik mengakumulasi persepsi bahwa ada yang janggal dan menciderai rasa keadilan dalam penerapan hukum. Sebab apa yang dilakukan oleh Luthfi dan teman teman adalah bentuk protes wajar di alam demokrasi. Sedangkan disatu sisi pemberian grasi kepada pelaku korupsi dengan alasan kemanusiaan menambah bonus kejengkelan publik.

Apakah menjadikan Luthfi menjadi tersangka dengan pasal berlapis, menjadikan persoalan ini selesai. Ternyata tidak, malah menambah kekecewaan publik dan menggalang solidaritas yang bergema kemana-mana. Semestinya ini menjadi alarm peringatan ada yang salah dalam perlakuan hukum. Kebijakan yang tidak merangkul berbasis keadilan, namun malah menampah tamparan keras di hati publik.

Dan publik telah belajar banyak, bagaimana amarah tidak menyelesaikan masalah, namun semakin runyam dan kusut. Dan saat ini, semestinya Pemerintahan tampil sebagai seorang Ayah bagi anak muda, yang memahami pemberontakan kecil anak mencari jati diri.

Sebab, anak muda adalah asset dan generasi yang kelak mewarisi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab anak muda masih belajar tentang sejarah Panjang perlawanan atas ketidakadilan dengan pengorbanan jiwa, harta dan ego kelompok dan golongan para pahlawan pendiri NKRI.

Oleh: Badiuz Zamani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here