Indonesia Tanah Tumpah Darah, Polemik Agnez Vs Luthfi

0

Dalam dua hari ini, jagad media sosial dihebohkan dengan dua peristiwa yang berhubungan dengan semangat nasionalisme. Pertama terkait potongan video artis yang merasa besar dan telah go internasional, Agnez Mo. Kedua tentang seorang remaja bernama Lutfi yang tengah bersiap menghadapi persidangan bulan Desember mendatang.

Agnez Mo

“Ya, ehmmm, karena saya sebenarnya tidak memiliki darah Indonesia sama sekali. Jadi saya sebenarnya (berdarah) campuran Jerman, Jepang, China. Saya hanya lahir di Indonesia,” ucap Agnez.

Potongan wawancara Agnez Monica atau Agnez Mo yang mengatakan tidak berdarah Indonesia di YouTube BUILD Series menuai reaksi. Di jagad media sosial muncul reaksi yang membandingkan bintang panas Maria Ozawa atau Miyabi yang mendukung Timnas Indonesia dengan Agnez yang dianggap tidak nasionalis. Pelaku seni tanah air juga ikut berkomentar tentang ‘darah’ Indonesia tersebut.

Seperti seniman kawakan Sudjiwo Tedjo, dalam cuitan di akun Twitter pribadinya, ia menertawakan dan meledek dengan satir netizen yang membully artis yang dianggap tidak nasionalis. Menurut seniman yang mempopulerkan kata “Jancuk” ini, harusnya bully-an itu dialamatkan kepada seniman, bukan artis. Karena menurutnya, seniman dan artis di Indonesia memiliki konotasi yang berbeda. Seniman mempunyai ke dalaman pemahaman dan berkarya dengan hati, sedangkan artis lebih cenderung lebih glamor dan mengikuti selera pasar.

Sementara itu, pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), Dian Sastrowardoyo juga ikut berkomentar terkait ‘darah’ Indonesia (nasionalisme) di akun Twitter pribadinya. Terlihat seolah akademik, Dian menambahkan kurva untuk menerangkan teorinya tentang nasionalisme. Intinya, wanita kelahiran Jakarta 1982 ini menegaskan, rasa bangga sebagai bangsa Indonesia berbanding lurus dengan luasnya wawasan dan pengetahuan terhadap sejarah dan kebudayaan bangsa.

Luthfi

Tidak begitu banyak yang kenal dengan nama anak muda satu ini. Meskipun demikian, kepedulian masyarakat atau setidaknya warganet begitu besar kepadanya. Terbukti, hari ini Rabu (27/11), tagar bebaskan Lutfi melambung menjadi trending Twitter Indonesia di urutan satu.

Disinyalir, foto seorang siswa yang mengenakan hoddie dan memegang bendera merah putih berjalan menjauhi bentrok dan asap molotov yang sempat viral beberapa waktu lalu adalah dirinya. Luthfi merupakan salah seorang anak STM yang ikut menyuarakan pendapatnya dalam demo “Reformasi Dikorupsi” pada September 2019 lalu berbarengan dengan demo Mahasiswa memprotes diputuskannya RUU KUHP. Viralnya  foto Luthfi membuat kepolisian mencari keberadaan anak STM malang ini.

Akhirnya, Luthfi ditangkap dan ditahan pada 30 September 2019. 1 Oktober dirinya resmi ditahan Polres Jakarta Barat atas dugaan melawan aparat kepolisian saat demontrasi “Reformasi Dikorupsi” berlangsung. Tidak tanggung-tanggung, pelajar ‘bau kencur’ yang terpanggil nuraninya untuk memperjuangkan masa depan demokrasi Indonesia ini harus dihajar dengan pasal berlapis, yakni pasal 170, 212, 214, dan 128 KUHP.

Indonesia Tanah Tumpah Darahku

Cerita Agnez dan Luthfi adalah ironi negeri tumpah darah Indonesia. Agnez yang mengaku tidak berdarah Indonesia dibela sejumlah pejabat Istana. Sementara, Luthfi yang berjuang dengan keringat bahkan darah rekan-rekan pelajar dan mahasiswa lainnya, menuntut reformasi untuk tidak dikorupsi, malah dibiarkan begitu saja.

Hal ini menimbulkan pertanyaan. Apakah Istana yang terkesan membela Agnez lantaran dara pemain sinetron ‘pernikahan dini’ tersebut mendukung paslon 01 dan Luthfi adalah sebaliknya?

Indonesia tanah tumpah darah merupakan poin pertama dalam Sumpah Pemuda 1928. Saat itu, Kongres Pemuda II diikuti oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan lainnya. Hadir juga beberapa orang perwakilan dari pemuda peranakan kaum Tionghoa seperti Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Gedung yang digunakan menjadi tempat dibacakannya Sumpah Pemuda juga merupakan pondokan/asrama pelajar/mahasiswa milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat.

Sejarah mengajarkan, Indonesia bukanlah tanah milik bangsa atau ras tertentu. Indonesia adalah tanah yang diperjuangkan. Indonesia adalah tanah tumpah darah perjuangan leluhur dan pendiri bangsa. Tanpa perjuangan dan tumpah darah melawan penjajahan, belum tentu ada kesatuan tekad menjadi satu dalam bingkai persatuan yang dinaungi dengan nama Indonesia.

Indonesia akan terus ada selama masyarakatnya terus berjuang dengan segenap tumpah darah menegakkan nilai-nilai kebenaran dan persatuan. Sebaliknya, negeri ini akan porak-poranda bahkan kembali terjajah apabila setiap orang telah kehilangan darah dan semangat perjuangannya membela kebenaran dan keadilan.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here