Jangan Sampai Petani Menjerit Kehilangan Pupuk Subsidi

0
Petani di Jambi membuang hasil panen
Petani akan menjadi korban jika pabrik pupuk subsidi berhenti produksi karena ketiadaan pasokan gas.

Pupuk subsidi bagi petani adalah bagian nyawa untuk menghasilkan produk pertanian. Hasil pertanian petani sebagai penyambung kehidupan. Pendapatan dari penjualan panen untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar biaya pendidikan anak, dan melanjutkan usaha pertanian.

Kebijakan subsidi pupuk masih dipertahankan oleh rezim Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Ma’ruf. Manfaat mempertahankan pupuk subsidi untuk menjaga keekonomian harga komoditi yang dihasilkan oleh petani. Terbukti bahwa pupuk subsidi dapat meringankan ongkos produksi bagi petani.

Saat ini kondisi PT. Pupuk Indonesia Holding tidak sedang baik. Selaku penanggungjawab produksi pupuk subsidi bagi petani. Malah terancam tidak dapat berproduksi penuh diakhir tahun 2020. Akibat ketidakpastian pasokan gas untuk menjalankan produksi lewat tahun 2021.

Asikin Indat selaku Direktur PT. Pupuk Indonesia Holding memaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI, yang dihadiri oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), BPH Migas dan Kementerian ESDM bahwa kontrak gas banyak yang berakhir dalam dua kedepan. Dan sampai saat ini belum ada kepastian perpanjangan kontrak bagi keberlangsungan produksi pupuk subsidi. Hal ini adanya persoalan dalam tata kelola gas dan stakeholder yang bertanggungjawab.

Karena persoalan kontrak gas menjadi ancaman kegagalan sistematis produksi pupuk subsidi bagi perusahaan dan petani. Sebab, salah satu pabrik dari PT. Pupuk Indonesia Holding, yakni dua pabrik pupuk Iskandar Muda mengalami kesulitan pasokan gas. Kebutuhan gas untuk berproduksi sejumlah 110 MMSCFD, tetapi baru punya alokasi kepastian gas 30 MMSCFD. Dan masih kurang 80 MMSCFC. Saat ini hanya 1 pabrik bisa memproduksi pupuk. Jika kekurangan ini tidak terpenuhi, maka kedua pabrik Pupuk Iskandar Muda berhenti memproduksi pupuk subsidi.

Baca juga  Utang Luar Negeri Membengkak, Bamsoet Ingatkan Pemerintah

Tentu ini menjadi bom waktu bagi sektor pertanian keseluruhan. Terutama petani marginal yang bergantung terhadap ketersediaan pupuk subsidi. Petani mesti berhadapan dengan kelangkaan pupuk subsidi. Termasuk tidak mendapatkan pupuk subsidi dari penyalur pupuk yang ditunjuk oleh kementerian pertanian.

Otomatis kelangkaan pupuk subsidi berdampak langsung terhadap produktifitas petani menghasilkan komoditi pertanian. Dan ancaman yang paling berat adalah gagal panen. Dan tentu ini menjadi beban amat berat bagi petani, yang tergantung dengan ketersediaan pupuk subsidi oleh pemerintah.

Sebab telah menjadi hukum pasar, jika pupuk subsidi langka dan pasokan sedikit, maka harga akan molanjak tinggi. Ketika harga tinggi dan sulit mendapatkan, maka tiada pilihan lain, kecuali petani mengganti pupuk non subsidi untuk tanaman mereka. Atau tidak bertani sampai pupuk subsidi tersedia kembali.

Dan Indonesia menjadi darurat pangan di tanah yang subur gemah ripah lo Jinawi.

Oleh: Andito Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here