Ketum IGI: Jumlah Guru Honorer Membengkak, Bukan Salah Pemda

0
Ketua Ikatan Guru Indonesia

PolitikToday – Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyayangkan sikap Mendikbud Nadiem Makarim, dan seluruh jajarannya dengan menyalahkan pemerintah daerah, terkait banyaknya jumlah guru honorer. Apa lagi menyalahkan kepala sekolah dalam hal kekurangan guru di seluruh Indonesia.

“Sebaiknya Kemendikbud lebih fokus mendesak KemenPAN-RB dan Kementerian Keuangan serta kementerian terkait lainnya untuk sesegera mungkin melakukan rekrutmen guru. Baik dengan pola rekrutmen CPNS maupun PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja),” ujar Ramli, Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Kekurangan guru saat ini telah lama terjadi di seluruh tanah air Indonesia. Bisa dipastikan disetiap kabupaten kota di Indonesia ini yang jumlah gurunya belum tercukupi. Sehingga sangat tidak logis jika pemerintah, terutama Kemendikbud menyalahkan pemerintah daerah terkait dengan rekrutmen guru tenaga honorer.

“Honorer itu tak perlu ada jika pemerintah pusat mencukupkan guru PNS atau PPPK, justru daerah menyelematkan pendidikan kita dengan “terpaksa” menggunakan tenaga honorer guru, jadi selama ini Kemendikbud menjadi penikmat upah murah,” serunya.

Menurut Ramli, Mendikbud Nadiem semestinya ngotot dengan kebutuhan guru. Bukan sebaliknya menyalahkan pemda. Menyalahkan pemda adalah bentuk lepas tangannya Kemendikbud terhadap kebutuhan guru.

“Jadi ini jelas “sesat berpikir” yang mesti diluruskan dan sudah puluhan tahun sesat pikir ini dilestarikan, karena itu Nadiem Makarim sebaik tidak ikut-ikutan dalam kesesatan ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ramli menuturkan, dapat dibayangkan apa jadinya pendidikan kita saat ini, jika Pemda terutama kepala sekolah tidak menyelamatkan pendidikan kita dengan merekrut tenaga honorer untuk mengisi ruang-ruang kelas kosong yang ditinggalkan pensiunan PNS.

Termasuk guru-guru yang diangkat menjadi kepala sekolah dan tidak diberi kewajiban mengajar lagi. Guru-guru yang diangkat menjadi pengawas sekolah dan pejabat daerah dalam struktural pemerintahan.

Baca juga  Aktivis Buruh Kritisi Kebijakan Upah & Gaji Guru Honorer

“Pemerintah pusat tidak layak menyalahkan pemerintah daerah dan justru seharusnya pemerintah pusat memberikan penghargaan kepada daerah-daerah yang sukses mengajak guru-guru yang mau secara ikhlas mengajar di sekolah-sekolah meskipun hanya diberikan honor Rp100.000 per bulan,” tegasnya.

(hz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here