Majlis Taklim Emak Emak Kok Diawasi?

0
Majlis Taklim Emak Emak membaca surah Yasin.

Belum selesai persoalan isu radikalisme, tentang kriteria dan aktor pelaku radikalisme, yang berhembus dalam wacana publik. Kemudian menyusul persoalan tentang pelatihan khusus bagi calon penganten. Kemudian muncul ke publik tentang Peraturan Menteri Agama soal Majlis Taklim dan iming bantuan oleh Kementerian Agama.

Majlis Taklim pada dasarnya adalah majlis ilmu. Banyak membahas persoalan realitas keseharian emak emak yang ingin mengamalkan Islam lebih baik. Beberapa majlis taklim malah perkumpulan ibu ibu melaksanakan baca Yasinan bersama. Dan melakukan zikir bersama. Kemudian makan bersama dengan membawa makanan masing masing.

Sedangkan pada sisi lain, Isu radikalisme tanpa kajian dengan menyasar pemakai celana cingkrang dan cadar, menjadikan pemerintah terutama Menteri Agama berhadap hadapan dengan ummat Islam yang mencoba mengamalkan sunnah yang mereka yakini sepenuh hati.

Majlis taklim adalah upaya kesadaran ummat Islam untuk mempelajari ilmu dan mengamalkan sesuai dengan kemampuan. Peraturan Menteri Agama untuk melaporkan pengurus, Jemaah dan juga Ustadnya dengan dalih bantuan adalah wilayah intervensi umpan yang melampaui batas.

Bacaan publik, bahwa Menteri Agama bertugas untuk menjadikan kegiatan ummat Islam dalam radar Kementerian agama dan melakukan serangkaian intervensi dengan berbagai kebijakan. Hal ini menjadi pertanyaan, apakah ummat Islam telah menjadi musuh yang membahayakan?

Bila ditelisik secara jernih dan proporsional, ummat Islam bukanlah pemilik dan menjadi pemantik radikalisme. Berdasarkan Survey Parameter Indonesia menyimpulkan bahwa Indonesia ini tidak sedang dalam keadaan darurat radikalisme dan gerakan Islam politik yang menegakkan khalifah.

Menghajar pengguna cadar dan celana cingkrang dengan radikalisme. Menugaskan polisi mengawasi masjid dengan polisi masjid terkait apa kegiatan dan juga aktifitas masjid. Selanjutnya mendata majlis taklim dengan iming bantuan. Maka jelas ini adalah skrenario kebijakan turunan dari islamophobia yang akut dan sistematis.

Baca juga  Belum Tepat Permen Radikalisme dan Teroris Hadir Dikalangan Anak

Beberapa penelitian menyatakan bahwa radikalisme lahir dari tersumbatnya persoalan keadilan dan juga akibat Panjang kebijakan ekonomi yang menguntungkan segelintir orang dan golongan. Sedangkan masyarakat mengalami kemelaratan ekonomi.

Hal ini semestinya tidak menjadi bantalan dan stimulus percakapan public. Sebab banyak hal mendasar yang lebih perlu perhatian. Terutama persoalan yang menyangkut darurat korupsi dengan masih tertahannya Perpu KPK, Perlambatan ekonomi dan juga persolan perlakuan tidak adil dalam bidang hukum.

Dan tidak semestinya Majlis Taklim diumpan dengan bantuan, dan disatu sisi melempar radikalisme berstandarkan simbol berpakaian dan apa yang dibicarakan khatib dan penceramah menjadi alat yang siap dipergunakan kapanpun.

Oleh: Anjelita Munawarah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here