Rakyat Menjerit, Negara Beli-Buang Beras Dengan Uang Rakyat

0

Semakin hari, beban hidup rakyat bawah semakin berat. Ekonomi selama lima tahun belakang hanya sebatas baris berbaris. Sesekali improvisasi lancang depan, kanan, kiri, dan istirahat di tempat. Meskipun fakta ekonomi seperti itu, rakyat hanya menurut ketika aba-aba hormat kepada pembina upacara, meskipun sesekali menguap karena perut yang kosong tanpa sarapan pagi.

Dengan keadaan seperti itu, tidak akan tertutup kemungkinan banyak peserta yang akan tumbang. Apalagi singgasana pembina upacara yang teduh membuatnya mampu berlama-lama menyampaikan pidato kenaikan BPJS Kesehatan, tarif dasar listrik (TDL), dan kenaikan tarif lainnya di tahun depan. Pembina upacara hanya berpikir bahwa pidatonya harus berbobot dan penuh wibawa agar ia tetap dihormati.

Namun, di balik pengorbanan itu, perut yang keroncongan, harus ditambah pula dengan air ludah yang terasa berat untuk ditelan karena  melihat hidangan disinggasana pembina upacara yang serba berkecukupan. Para tamu undangan yang duduk bersebelahan dengan pembina upacara dengan santai meneguk air mineral dingin dan hidangan yang tersedia di meja. Jarak yang terpaut cukup jauh memang membuat pembina upacara dan tamu undangan disinggasana tidak terlalu memperdulikan peserta upacara yang mulai berkunang-kunang.

Parahnya, selepas acara selesai, semua bubar begitu saja. Pembina dan tamu undangan meninggalkan remah sisa makanan. Satu dua, masih ada makanan yang sebenarnya layak untuk dibagikan. Tapi karena aturan protokoler, semua sisa makanan itu diangkut oleh petugas kebersihan dan dibuang begitu saja. Para peserta yang menahan diri agar upacara berjalan dengan baik, hanya diberi selembar amplop.

Pada Juli 2019, data BPS menunjukkan angka kemiskinan menurun ke angka single digit. Meskipun demikian, data dari Investor Daily menunjukkan jumlah penduduk miskin dan rentan miskin masih cukup besar. Jumlahnya mencapai 78,44 juta atau 29,36 persen dari total penduduk Indonesia. Salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan disebabkan minimnya akses penduduk miskin terhadap faktor produksi.

Baca juga  Menteri Kesehatan Anggap Cacing Dalam Makarel Mengandung Protein Tinggi

Minimnya lapangan kerja dan beratnya tanggungan hidup di tahun depan tidak menutup kemungkinan akan membuat kesenjangan semakin melebar. Penduduk rentan miskin bisa terjerambab ke dalam kemiskinan, sedangkan penduduk miskin bisa jatuh lebih dalam kepada kemiskinan ekstrem. Sementara itu, segelintir orang yang menguasai faktor produksi tenang-tenang saja menikmati kekayaannya sambil sesekali ‘melepehkan’ recehan untuk si miskin sebagai bentuk kepedulian.

Sementara itu, anggaran yang dimiliki pemerintah, yang harusnya dipergunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak malah dihamburkan begitu saja. Pemerintah yang bertekad swasembada pangan malah justru membuka kran impor beras besar-besaran. Triliunan rupiah dikeluarkan untuk membeli beras impor dan membunuh petani lokal.

Ada rumor yang mengatakan, itu hanya permainan mafia impor yang menguntungkan beberapa pihak. Tapi apa peduli, beras impor bak seputih salju itu disetujui pemerintah. Dan kini, beras itu membusuk. Tertumpuk di dalam gudang dan hendak dimusnahkan. Lagi, uang rakyat juga yang harus dikeluarkan untuk memusnahkannya. Beli-Buang beras dengan uang rakyat.

Jika pemerintah hanya melayani keinginan sekelompok orang yang bersenang-senang dengan impor, kapan pemerintah berpikir mensejahterakan rakyatnya, mewujudkan swasembada pangan, membuka lapangan kerja, dan menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Inilah ironi yang terjadi hari ini. Menjalankan pemerintahan tanpa peduli apa yang dirasakan rakyatnya. Ingin terlihat wibawa tanpa melihat kondisi (ekonomi) rakyatnya yang sempoyongan. Ingin terlihat gagah dan disegani dengan mencukupi hidangan para tamu undangan (kesenjangan sosial). Sementara itu, rakyatnya untuk menelan air liur saja terasa berat (kemiskinan dan beban ekonomi).

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here