Rakyat Semaput Tatkala Garuda Dikorup Burung Perkutut

0
harley garuda Indonesia

Kasus mantan Dirut Garuda Indonesia, Ari Askhara memang keterlaluan. Dia menyelundupkan onderdil moge Harley Davidson dan sepeda mewah Brompton di dalam pesawat Airbus A330-900 milik maskapai Garuda Indonesia.

Artinya Askhara mencurangi negara dua kali. Pertama, dia melakukan penyelewengan kekuasaan untuk mengangkut moge dan sepeda selundupan itu. Kedua, dia coba mengakali pajak barang mewah.

Tragisnya kecurangan ini terjadi ketika Askhara digaji Rp3,7 miliar perbulan. Ini setara dengan 865 kali lipat dari gaji buruh terendah di DKI Jakarta. Tragisnya, toh garuda tahun lalu rugi Rp2,45 triliun.

Dengan gaji sekitar Rp30 milyar setahun sebenarnya cuma masalah seupil bagi Askhara untuk bayar pajak mode dan sepeda mewah itu. Jadi, ini bukan semacam kasus gelandangan yang menjambret untuk beli makanan. Atau rakyat miskin yang menolak kenaikan iuran BPJS, tarif dasar listrik atau BBM karena memang tidak punya duit. Ini soal keserakahan. Karena serakah, Askhara jadi pribadi yang korup.

Celakanya, Askhara tidak sendirian. Kolega-koleganya juga terindikasi korup. Kita bisa lihat dari prestasi Rini Sumarno semasa menjabat Meneg BUMM dalam Kabinet Kerja tempo lalu. Tujuh BUMN menjadi pusaran korupsi. Tiga di antaranya kelas top seperti garuda: Krakatau Steel, PLN dan Angkasa Pura II. Sisanya kelas menengah: PT PAL, PT Jasindo, Perum Perindo dan PT Inti.

Tentu saja BUMN-BUMN ini tidak mau dicap sebagai sarang koruptor. Karena itu dibangun opini kalau korupsi di BUMN itu ada dua: korupsi untuk perkaya diri sendiri atau demi pelicin proyek perusahaan. Ini jelas kilah!

Yang pertama sudah jelas sehingga tidak perlu dibahas. Yang kedua, apa direksi-direksi itu tidak bisa lapor KPK? Negara sudah punya tongkat pemukul korupsi jika mereka mau buka mulut ketika menemukan tindakan korup di internal atau eksternal perusahaan.

Baca juga  Sanksi Lempar Tinja Bagi Para Koruptor

Bagaimana BUMN bisa berperan sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat apabila direksi-direksinya tersangkut korupsi? Tidak ada diskresi di sini jika kita ingin membangun Indonesia yang bebas korupsi.

Last but not least, kesalahan terbesar Askhara adalah melakukan penyelundupan di masa perekonomian Indonesia sedang morat-marit. Kas negara defisit sehingga anggaran subsidi rakyat dipotong sana-sini. Sehingga beban hidup rakyat semakin mencekik. Rakyat menjerit. Rakyat semaput.

Dalam situasi negara yang sedang benar-benar butuh duit ini, Askhara yang bergaji Rp3,7 miliar perbulan itu malah berbuat curang. Menyelewengkan kekuasaannya sebagai direksi BUMN supaya tidak perlu membayar pajak barang mewah.

Pendek kata, Askhara dan kolega BUMN-BUMN itu ibarat burung perkutut. Mereka dikasih pakan nomor satu supaya bisa bernyanyi merdu. Alih-alih, malah kicauan sember yang keluar. Bahkan, bila ada kesempatan perkutut-perkutut itu rakus mengembat pisang si empunya rumah.

Bagi rakyat miskin kejahatan Askhara cs benar-benar menggugah rasa keadilan. Rasanya hampir-hampir tidak termaafkan.

Oleh: Ridwan Sugianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here