Asabri dalam Pusaran Kasus Korupsi dan Nasib Purnawirawan

0
asabri
Kantor PT. ASABRI

Politik Today – Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) diduga mengalami kerugian akibat portofolio investasi pada saham-saham. Asabri adalah badan asuransi yang bergerak dibidang sosial dan pembayaran pensiun khusus untuk prajurit TNI, Polisi, hingga PNS Kementerian Pertahanan. Perusahaan “plat merah” ini juga merupakan benteng terakhir para prajurit dibidang finansial dikemudian hari.

Sementara itu, apabila dilihat dari fakta dan kondisi terkini, para pensiunan TNI (Purnawirawan) banyak yang mengalami kendala finansial. Seperti halnya Purnawirawan Hubri (78 Tahun) yang rumahnya terletak dikawasan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dari pernyatan Hubri, uang pensiun pertama yang diterima Hubri sebagai Tamtama berpangkat prajurit hanya sebesar Rp100 ribu per bulan.

Hubri sangat mengharapkan perhatian pemerintah, untung saja hari ini Hubri menerima uang pensiun sedikit meningkat yaitu sebesar Rp 1,3 juta perbulan. Meskipun demikian ia tetap bersukur dengan penerimaan uang pensiun itu. Hubri juga menyatakan bahwa satu-satunya pemasukan Hubri hanya dari uang pensiun tersebut. Usia memang tidak dapat dibohongi dan stamina pun juga semakin berkurang.

Beranjak dari fenomena yang dialami Purnawirawan Hubri, semestinya Asabri hadir dengan bermacam program asuransinya untuk terus berada dibelakan pada pensiunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dari rakyatpun semestinya harus turut serta dalam mengawal kasus Asabri ini. Mengingat jasa-jasa prajurit yang telah memberikan keamanan dan kenyamanan untuk rakyat Indonesia.

Beberapa hari belakang ini, polemik Asuransi “plat merah” terus bergulir dimedia masa. Hal ini tentunya menimbulkan kecemasan bagi prajurit yang telah pensiun atau prajurit yang akan memasukki masa pensiun. Para prajurit juga mengaharapkan semua pihak yang terkait agar dapat berdedikasi sepenuhnya dalam mengelola badan asuransi ini. Seperti, memastikan dana prajurit agar tetap aman dan tidak terganggu. Alasan tersebut dianggap penting karena saat ini total asset Asabri bernilai Rp 35,188 triliun yang berasal dari iuran pensiun prajurit, Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI\Polri dan pensiunan Kemenhan. Tidak main-main uang iuran pensiun tersebut merupakan pemotongan 4,75% dari gaji pokok. Sedangkan gaji pokok prajurit dan PNS di TNI\Polri dipotong 3,25% untuk tunjangan hari tua.

Baca juga  Zona Merah Portofolio Asabri

Dikabarkan juga bahwa kasus Asabri kali ini lebih rumit dari PT Asuransi Jiwasraya. Kasus ini mesti dicermati secara hati-hati, karena ratusan ribu prajurit dari segi finansial berada pada golongan menengah kebawah. Kasus ini menjadi sangat jauh berbeda dengan kasus Jiwasraya yang notaben nasabahnya tergolong menengah keatas.

Tidak dapat dipungkiri lagi, Asabri memang menempatkan portofolio investasi pada saham yang harganya anjlok. Asabri memiliki 5,04% saham di PT Trada Alam Mineral (TRAM), yang harganya turun 65,75% sejak awal dibeli pada 18 Desember 2017 hingga 8 Januari 2020. Dan jika dibandingkan, kasus Asabri dengan kasus Jiwasraya, kasus Asabri tidak kalah fantastis mengalami kerugian puluhan triliun.

Untuk penyelesaian masalah ini, tidak tertutup kemungkinan KPK,BPK dan OJK untuk memanggil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Pemanggilan tersebut bertujuan agar terjalinnya koordinasi untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Bentuk koodinasinya pun sudah jelas, yaitu antar lembaga hukum negara dengan Kementerian yang tergabung didalam Kabinet Presiden Joko Widodo.

Dari sudut pandang hukum, persoalan ini tentunya dapat diselesaikan dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelesaian masalah ini pun dinilai tidak rumit apabila semua pihak yang bersangkutan kooperatif dan terbuka kepada public.

Sedangkan dari sudut pandang ekonomi, Asabri tidak mungkin gagal bayar klaim seperti Jiwasraya. Perihal tersebut terlihat pada likuiditas Asabri masih terjaga meski investasi sahamnya kini tengah anjlok. Hal ini juga disebabkan lantaran perusahaan asuransi Asabri tetap mendapat premi rutin dari peserta asuransi.

Selain mendapatkan premi dari program asuransinya, Asabri juga mendapatkan iuran pensiunan dari anggota TNI dan Polri. Berdasarkan laporan keuangan periode 2017, iuaran pensiunan tersebut mencapai Rp 1,21 triliun. Namun angka tersebut menurun 38% persen dibandingkan 2016 yang mencapai Rp 1,67 triliun.

Baca juga  Kasus PT Asuransi Jiwasraya, Jampidsus: Kami Buru Kami Tangkap

Oleh sebab itu, sebetulnya Asabri masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya. Jangan sampai Asabri menjadi gambaran buruk dari pengelolaan Asuransi di tanah air. Apalagi Asabri merupakan naungan dari Badan Usaha Milik Negara. Dari pemerintah pun juga perlu dikritisi, karena pemerintah selalu memakai jurus kuratif dan audit. Dan ujung-ujungnya kasus seperti ini hilang ditengah jalan.

Dajon Gunawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here