Oligarki Politik Sang Presiden

0
jokowi-22

Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) 2020 bakal diramaikan dengan nama-nama orang terdekat sekaligus merupakan bagian dari keluarga Presiden Joko Widodo. Ke empat nama tersebut sudah bertengger nama-nama seperti Gibran Rakabuming Raka, Bobby Nasution,  Doli Sinomba Siregar dan Wahyu Purwanto di empat daerah berbeda tempat diselenggarakannya pilkada serentak mendatang.

Pada pemilu serentak tersebut terdiri dari 270 daerah, terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota. Hal ini lah yang membuat anak serta menantu Joko Widodo berpeluang rebut tumpuk kekuasaan jelang pemilu Presiden 2024 mendatang.

Ibarat kata orang tua saya adanya istilah aji mumpung dan Jokowi effect benar-benar dimaksimalkan. Mengingat, jatah Jokowi untuk berkuasa di tanah air hanya sampai Oktober 2024 saja. Karena Jokowi masa periodenya hanya dua kali menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pertama, terdapat anak sulung mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta tersebut Gibran Rakabuming Raka. Gibran maju ke Pilkada Solo secara resmi sudah mendaftarkan diri ke kantor DPD PDIP Jawa Tengah. Nama Gibran pun sudah sah terdaftar sebagai kader berlambang moncong putih itu.

Kemudian sang menanatu, Bobby Nasution ikut maju di Pilkada Medan. Suami Kahiyang Ayu itu mengaku sudah memiliki modal dan tengah mempersiapkan kendaraan politik yang akan digunakan.

Selain modal uang, modal gagasan membangun Kota Medan lebih baik untuk 5 tahun ke depan untuk kesejahteraan rakyat diumbar sudah dimiliki Bobby.

Secara intens sang menantu begitu santai dan gamblang melakukan komunikasi politiknya bersama partai politik yang akan digunakan sebagai kendaraan saat bertarung di Pilwalkot Medan. Hanya saja, sang menantu belum menentukan sikap, partai politik mana yang hendak diambil sebagai kendaraan nya menuju orang nomor satu di Kota Medan tersebut.

Baca juga  Benarkah Luhut "Perdana" Menteri Indonesia?

Setelah itu terdapat nama sang Paman dari Bobby Nasution, Doli Sinomba Siregar. Keluarga dari menantu Jokowi tersebut mengaku serius maju di Pilkada Tapanuli Selatan (Tapsel). Dia mendaftar melalui sejumlah partai politik.

Katanya sih, dirinya maju ke Pilkada Tapanuli atas dorongan dari orang-orang terdekat. Apa salah satunya juga datang dari Presiden Jokowi? Entahlah, hanya dia dan tuhan saja kebenarannya.

Tak tertinggal sang adik ipar. Wahyu Purwanto akan meramaikan bursa calon bupati dalam Pilkada Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia maju melalui Partai NasDem.

Wahyu Purwanto kemungkinan akan maju bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid sebagai bakal calon wakil bupati.

Wahyu Purwanto sudah berkomitmen untuk membangun Gunungkidul sejak menjadi rektor Universitas Gunungkidul. Selain itu, Wahyu sudah melakukan pendampingan terhadap petani, dan warga lainnya.

Tak salah toh, jika rakyat seperti saya bersama jutaan orang lainya menganggap majunya keluarga berarti Jokowi memulai membangun oligarki dan dinasti politik. Selama Indonesia merdeka, belum pernah tuh Presiden atau kepala negara aktif yang masih menjabat secara bersamaan kerabat mereka ikut kontes demokrasi lima tahunan. Salah satu alasannya etika politik. Tidak etis rasanya, di saat salah satu orang tua mereka menjabat, anak dan menantu mereka ikut mendaftar untuk bertarung di pemilu daerah.

Terlebih belum lama ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) notabene kereta politik Presiden berusaha menghianati suara rakyat dengan melakukan penyuapan kepada salah satu Komisioner KPU, Wahyu Setiawan.

Melalui staff khusus Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menyuap WS agar langkah kader gagal di daerah pemilihan Sumatera Selatan Harun Masiku melalui Pergantian Antar Waktu yang ditandatangani sang Ketua Umum Megawati Soekarno Putri bersama Hasto.

Baca juga  Presiden Jokowi, Tolong Manusiakan Rakyat

Dengan kasus seperti ini tentu kepercayaan rakyat terhadap lembaga penyelenggara pemilu tersebut jadi terkikir. Sehingga menimbulkan rasa tak empati terhadap KPU.

Pasti orang akan berfikir, jika salah satu dari kontestan kerabat mereka menang di pemilu tersebut rakyat akan terluka hatinya. Sehingga muncul kembali istilah Nepotisme selain Korupsi di tanah air tercinta kita. Tak terbayangkan, jika anak serta menantu dan kerabat terdekat mereka memimpin daerah-daerah tersebut. Akan lebih mudah bagi Jokowi untuk membangun dinasti atau kerajaan kecil di negara kita. Efeknya, dengan sendirinya Jokowi akan semakin otoriter terhadap kepemimpinannya.

Oleh, Buyung Fernandes, Mahasiswa Master Politik Tingkat Akhir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here