Sakiti Hati Netizen Mantan Pendukung Prabowo, Surya Prabowo Jadi Oportunis Tidak Ketulungan?

0
SuryoPrabowo-PrabowoSubianto-GatotNurmantyo-

Kaget saya membaca cuitan akun Twittet @BertemanM. Akun Twitter ini milik Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo; seorang tokoh militer yang gigih memperjuangkan kemenangan  Prabowo Subianto  sebagai Presiden RI pada Pilpres 2019 lalu. Namun realitas politik mendudukan Jokowi dan Mahruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

Lewat Twitter, Suryo Prabowo menulis : “Dalam pelaksanaan tugasnya Menhan RI BERTANGGUNGJAWAB kepada Presiden RI. Bukan kepada netizen yang gak bisa move on dan baper.” Tak lupa ia melampirkan video pembelaan Presiden Jokowi atas kerapnya Menhan Prabowo melawat ke luar negeri.

Kita tahu Suryo Prabowo baru saja diangkat sebagai “penasihat” Menhan Prabowo—apakah ini terbilang bagi-bagi jabatan, silakan pikir saja sendiri. Jadi wajar kalau Suryo Prabowo membela Prabowo. Yang keliru adalah demi membela Prabowo, Suryo Prabowo menyakiti hati mantan pendukung Prabowo di Pilpres silam. Menurut saya, ini terang laku politikus oportunis, politikus yang suka main: habis manis, sepah dibuang.

Sebagai mantan pendukung Prabowo-Sandi, saya terang kecewa dengan bergabungnya Prabowo dalam kabinet JokowiMa’ruf Amin. Pasalnya Pilpres lalu merupakan manisfetasi dari tubrukan dua visi-misi yang bertolakbelakang. Model pengelolaan pemerintah versi Prabowo dan Jokowi begitu berbeda sehingga publik tidak bisa membayangkan Prabowo mau jadi “anak buah” Jokowi. Namun, realitas politik tidak begitu. Kita bisa apa lagi selain kecewa dan terus bergerak supaya Indonesia bisa lebih baik.

Meskipun begitu, saya masih lihat ikhtikad Prabowo. Betapapun kuatnya serangan, Prabowo tidak reaktif. Dia tidak gebrak-gebrak meja. Dia tidak menyalahkan pendukungnya yang kecewa. Prabowo lebih memilih untuk mengajak mantan pendukung supaya mau menerima realitas politik hari ini.

Baca juga  Moeldoko Punya 13 Penasihat, Jokowi Enggan Ikut Campur

Argumentasi Prabowo menurut saya: omong kosong! Namun setidaknya sikap Prabowo bisa dibaca sebagai apresiasi atas jasa-jasa mantan pendukungnya. Dia terkesan paham totalitas relawan Prabowo-Sandi. Mereka yang berjuang siang-malam, habis waktu, tenaga bahkan uang. Ada yang turun ke jalan, bahkan digelandang ke kantor polisi. Termasuk para relawan medsos, para netizen itu.

Ini yang tidak ada pada Surya Prabowo. Alih-alih mengerem dan coba menenangkan situasi, Surya Prabowo malah balik menyerang netizen. “Gak bisa move on dan baper!” tudingnya. Lewat cuitan terbukalah “belang” Surya Prabowo.  Lewat tudingan itu saya membaca bahwa Surya Prabowo menilai Pilpres cuma permainan elit. Kurang asin banget!

Padahal dahulu Surya Prabowo adalah sosok terdepan dalam mengkampanyekan narasi kegagalan pemerintah. Relawan-relawan Prabowo-Sandi menggemakan narasi ini. Tidak bisa ditafik bahwa narasi-narasi Surya Prabowo turut membangun persepsi publik bahwa Pilpres bak baratayudha, perang antara kebaikan versus kejahatan.

Pasca perhitungan Pilpres, Surya Prabowo pula yang paling depan menghujat Zulkifli Hasan (PAN) dan Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat). Padahal dua tokoh ini tengah mengupayakan rekonsiliasi bangsa pasca Pilpres. Hari ini kita saksikan bahwa mereka masih tegak berada di kalangan oposisi. Sebaliknya, Prabowo Subianto dan Surya Prabowo yang bergabung ke pemerintahan. Apesnya, ini kenyataan, bukan drama korea!

Pendek kata, kecaman Surya Prabowo bukan hanya tidak elok. Menurut saya, itu sudah masuk kategori “tidak tahu diuntung”. Oportunis tidak ketulungan.

Ada baiknya Prabowo mengevaluasi keberadaan Surya Prabowo di sampingnya. Kalau tidak hati-hati, Prabowo bisa makin menuai serangan mantan pendukungnya gara-gara oportunisme Surya Prabowo. Padahal konon kabarnya Prabowo masih berminat untuk maju Pilpres 2024.

Oleh Rahmat Thayib, mantan pendukung Prabowo-Sandi

Baca juga  Wasekjen Demokrat: SBY Dilobi Habis-habisan Deklarasi Usung Jokowi di Rapimnas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here