Hasil Pemilu Ambyar, Satu Persatu KPU Provinsi Terseret Suap Wahyu Setiawan

0
wahyu setiawan

Hasil Pemilu ambyar. Kasus suap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan ternyata lebih pelik dari yang kita bayangkan. Tadinya, publik berpikir ini cuma persekongkolan jahat antara komisioner KPU, mantan caleg PDIP Harun Masiku, dan sekelompok makelar politik di lingkaran PDIP. Nyatanya, makin lama makin kuat aroma persekongkolan busuk di internal KPU.

Tempo hari KPK sudah memanggil Komisioner KPU Sumatera Selatan Kelly Mariana. Kelly diperiksa untuk tersangka SAE (Saeful) yakni satu dari empat tersangka kasus suap PAW dari unsur swasta yang memberi suap. Lho, kok bisa Kelly bertalian dengan Saeful? Yang satu “nongkrong” di KPU Sumsel, dan yang lain konon wira-wiri di DPP PDIP—maklum, Saeful diduga “orang dekat” Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Jembatan antara mereka adalah kasus suap PAW Harun Masiku. Pertanyaannya: apakah interaksi antara Saeful dan Kelly benar secara hukum? Jangan-jangan Kelly juga kecipratan duit Harun Masiku?

Tempo hari, KPK juga memeriksa Sekretaris KPU Papua Barat, RM Thamrin Payapo. Ini soal pengembangan kasus suap yang menjerat Wahyu Setiawan. Karena dalam operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Wahyu Setiawan pada 8 Januari, KPK menyita sebuah buku rekening berisi Rp 600 juta. Buku rekening itu disita dari tangan eks caleg PDIP sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina. Buku rekening disita bersama uang sekitar Rp 400 juta dalam bentuk dolar Singapura.

KPK tentu tidak bicara banyak sebab ini masalah penyelidikan. Tapi publik sudah bisa menduga. Thamrin terkait dengan urusan uang  Rp 600 juta. Dan menimbang posisi mereka, kuat dugaan ini adalah persekongkolan antara orang KPU Pusat dengan KPU Provinsi Papua Barat.  Sesuatu yang bisa dibilang terjadi pula di Sumatera Selatan.

Baca juga  Setelah Ali Fahmi Kini Harun Masiku Buron, KPK Ambyar di Depan Kader PDIP?

Kalau soal ini cuma selesai di dua propinsi itu, okelah. Tapi bagaimana bila lebih? Kita tahu gonjang-ganjing proses pergantian caleg pemenang juga terjadi di Partai Gerindra. Pertama, kasus Mulan Jameela untuk DPR RI dari Dapil Jabar XI. Kedua, kasus Adam Muhammad untuk

DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Dua politikus ini punya suara lebih sedikit ketimbang kompetitor separtainya pada Pileg lalu, tetapi justru mereka yang kemudian dilantik sebagai wakil rakyat. Kejadian ini tidak lumrah. Dan memancing pikiran liar publik: jangan-jangan ada duit yang bermain di sini?

Demi menimbang kasus KPU Sumsel dan KPU Papua Barat, jangan-jangan soal Mulan dan Adam Muhammad ini juga berhilir di Wahyu Setiawan? Jangan-jangan ada orang kuat di KPU Jabar, KPU Sulawesi Selatan dan KPU RI bersekongkol untuk melakukan korupsi politik?

Jika benar, betapa mengerikannya. Alih-alih membaik, panggung politik tanah air justru melahirkan modus korupsi baru. Parahnya, pelakunya adalah penyelenggara pemilu. Dan kita sedang menghadapi kekhawatiran bahwa kasus suap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan bersifat sistemik, yakni persekongkolan antara penyelenggara pemilu pusat dan daerah. Berapa banyak penyelenggara pemilu pusat dan daerah yang terlibat mesti dicari tahu.

Temuan-temuan ini jangan diabaikan KPK. Karena yang dirampok di sini adalah kepercayaan rakyat kepada wakilnya. Bagaimana anggota legislative bisa benar-benar memperjuangkan rakyat jika kemenangannya semerbak aroma manipulative dan koruptif.

Sudah selayaknya KPK merunut kembali kejanggalan-kejanggalan dalam proses paw dan penetapan wakil rakyat tersebut. Sidiklah proses PAW anggota legislatif yang aneh. Kaji balik penetapan wakil rakyat terpilih oleh KPU. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan marwah KPU yang terus tergerus di mata publik.

Baca juga  Gagal Membangun Komitmen Pemberantasan Korupsi, ICW Desak Firli Bahuri Mundur

Oleh: Rahmat Thayib, penggiat Gerakan Demokrasi Berkeadaban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here