Buzzer “Laknat” Sebabkan Masyarakat Tidak Acuh Covid-19

0
BUZZER

Murid jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) waktu di SMA, tentunya belajar tentang perilaku menyimpang pada mata pelajaran sosiologi. Mungkin diantara sekian banyak  materi yang disampaikan sang guru, meteri perilaku menyimpang bisa dikatakan materi yang paling “ngetop.” Perilaku menyimpang terbagi dua, ada perilaku yang menyimpang positif dan ada pula perilaku menyimpang yang negative. Perilaku menyimpang positif misalnya seorang pelukis, bisanya pelukis itu memakai kuas dan pensil. Nah, jika ada pelukis yang mengunakan rambutnya sebagai alat lukis maka perilaku itu bisa dikatakan perilaku menyimpang positif karena menunjukan kreatifitas. Sedangkan perlaku menyimpang negative, itu seperti tawuran atau merokok di lingkungan sekolah yang jelas-jelas dilarang.

Hanya sekedar mengingat masa-masa ketika duduk dibangku sekolah.

Lalu, bagaimana kalau meteri perilaku menyimpang tersebut diaplikasikan kedalam kehidupan hari ini?

Mari kita soroti perilaku menyimpang para buzzer yang berkecimpung di dunia perpolitikan dimedia sosial. Ternyata, para buzzer ini terbagi dua golongan, yaitu golongan pragmatis yang doyan “duit” dan ada juga golongan buzzer yang sukarelawan.

Perlu dipahami juga sebelumnya, tidak semua buzzer itu “nakal.” Terdapat juga Buzzer baik. Ciri-ciri Buzzer baik itu memiliki akun yang jelas dan latar belakang yang jelas. Buzzer baik ini di istilahkan dengan influencer. Para influencer ini memiliki follower yang banyak. Selain itu influencer juga punya sikap atau preferensi untuk mendukung sesuatu atau tidak mendukung sesuatu. Dengan arti kata, influencer memiliki analisis yang terukur sebelum mengeluarkan opini maupun pendapat pribadi. Contoh influencer itu seperti Said Didu, Rocky Gerung, atau Rizal Ramli. Para influencer ini didalam dunia politik biasanya memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Tentunya pandangan itu berdasarkan dengan pengalamannya dan ilmu pengetahuan yang dia pelajari. Sehingga ketika para influencer ini membuat status  di media sosial, masyarakat tidak kebingungungan. Malahan masyarakat menjadi terbuka wawasannya.

Baca juga  Dukung Said Didu, Deretan Tokoh ini Desak Jokowi ‘Copot’ Luhut

Memang, terkadang influencer berbicara dengan nada kasar atau agak sedikit membentak. Tetapi hal tersebut dalam dunia perpolitikan telah menjadi sesuatu yang biasa. Selain itu, kebanyakan para influencer juga memahami ilmu dan konsep dialektika perpolitikan. Jadi semua yang disampaikan para influencer itu dipastikan memiliki referensi yang jelas.

Sementara itu, “buzzer laknat” hanya membuat masyarakat kebingungan. Apalagi ketika situasi politik sedang genting. Karena hanya berpandangan kepada factor uang, maka para buzzer tidak akan mempertimbangkan dampak buruk terhadap masyarakat.

Kekinian, dikala Covid-19 melanda negara, banyak tokoh-tokoh politik yang tidak berkopeten berbicara dan berargumen tentang Covid-19. Rata-rata dari mereka itu tidak berpengalaman tentang Covid-19 ini atau virus yang sebelumnya pernah melanda negeri ini. Bahkan para tokoh politik ini mengatakan dengan meminum jamu atau memakan taoge maka Covid-19 dapat diatasi. Atau ada juga tokoh politik yang mengatakan jika memperbanyak berdo’a maka akan terhindar dari Covid-19. Buzzer memang tidak pandang bulu, bahkan agama sekalipun akan dia benturkan dengan wabah covid-19 ini.

Agama memang akan mengajarkan manusia untuk menjawab persoalan diluar nalar manusia, tatapi agama juga mengajarkan agar manusia mengunakan akal-pikiran dan semua daya-upaya untuk menjawab setiap permasalahan.

Demikian juga dengan buzzer ikut-ikutan menyuarakan hal yang sama tanpa adanya pertimbangan, adanya analisis, dan adanya referensi yang menguatkan argumentasi tersebut.

Selain itu buzzer sepertinya masih membawa suasana pemilihan umum tempo hari dan menjadikan wabah Covid-19 ini sebagai lahan untuk mencari untung. “Sebelas-dua belas” dengan para tokoh politik, yang juga memanfaatkan kemampuan buzzer untuk penokohannya di depan masyarakat.

Selain itu, para buzzer juga membenturkan antara wabah Covid-19 ini dengan persoalan ekonomi. Memang terdapat juga hubungan antara bencana atau wabah Covid-19 dengan ekonomi. Tetapi, persoalan wabah Covid-19 mesti dilihat secara holistic(banyak sudut pandang). Para ahli ekonomi tentunya juga akan berfikir, bahwa wabah Covid-19 bukanlah satu-satunya faktor penghambat pertumbuhan ekonomi. Pasti ada factor lain yang dapat dilakukan untuk mensiasati pertumbhan ekonomi tersebut. Dala persoalan ekonomi ini, buzzer malah mengarahkan opini masyarakat bahwa Covid-19 adalah satu-satunya penyebab merosotnya ekonomi negara.

Baca juga  Virus Corona, Wajarkah Perusahaan PHK Pekerja?

Keberadaan buzzer ini bahkan mengakibatkan masyarakat menjadi tidak acuh terhadap Covid-19.  Masyarakat menjadi tidak percaya kalau Covid-19 ini benar-benar berbahaya. Karena terlalu seringnya para buzzer mengada-ada dimedia masa.

 

Dajon Gunawan: Pejuang Demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here