Dulu Gahar Berbicara Ekonomi dan Pertahanan, Kini Nyatanya Prabowo Bak ‘Macan Ompong’

0
Jokowi dan Prabowo

Jika hari ini ditanyakan kepada para konstituen atau pemilih Prabowo Subianto di Pilpres 2019, terkait apa kampanye mantan Danjen Kopassus tersebut yang paling kamu ingat? Jawabannya tidak kurang dan tidak lebih ada dua, yaitu terkait ekonomi dan pertahanan. Bagi sebagian pemlih yang berbesar hati memendam kekecewaannya ketika mengetahui Prabowo masuk ke dalam pemerintahan Jokowi, tentu harapan yang ditumpangkan juga terkait perbaikan ekonomi ke depan dan ketahanan negara.

Seperti diketahui, saat Pilpres 2019 lalu, Prabowo berjanji menumbuhkan ekonomi Indonesia rata-rata 8 persen per tahun kurun 2020-2024. Ketika itu, Prabowo menyebut akan melakukan berbagai cara dan terobosan yang inovatif. Selain itu, dalam berbagai kesempatan, Prabowo juga kerap mengkritisi langkah, kebijakan dan paket ekonomi pemerintahan Jokowi Jilid I.

Dalam konteks pertahanan negara, saat debat Pilpres 2019 Prabowo juga menunjukkan ‘kemarahannya’ di bidang pertahanan. Setidaknya ada beberapa poin yang menjadi kritikan Prabowo kepada pemerintahan Jokowi senelumnya, yaitu budaya ABS (asal bapak senang), lemahnya kemampuang perang RI, dan nasionalisme dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Tapi setelah masuk dalam kabinet Jokowi, apa yang bisa dilakukan Prabowo dengan ‘kegelisahannya’ terkait ekonomi dan pertahanan? Jawabannya ‘nol besar’.

Lima bulan berjalan, Prabowo masuk dalam pemerintahan Jokowi, nyatanya ekonomi Indonesia tambah jeblok. Bahkan saat ini, rupiah hampir menyentuh angka Rp 16.000. Reaksi Prabowo terhadap kondisi ini hampir sama sekali tidak terlihat. Tetap cool dengan singgasananya di Kemenhan, se-cool ketika ia menanggapi kapal asing mengobrak abrik kedaulatan perairan Indonesia di Kepulauan Natuna. Terobosan nan inovatif yang dijanjikan dulu tidak tampak disumbangsihkan kepada pemerintahan hari ini.

Terkait pertahanan, setelah wajah NKRI diacak asing di perairan Natuna, kini di saat pandemi corona mendera Indonesia, WNA terbukti bebas keluar masuk. Sikap ‘diam’ Prabowo seolah mengamini kekeliruan Luhut Binsar Pandjaitan yang dianggap publik membela kepentingan China di Indonesia. Prabowo yang dulu gahar membela kedaulatan rakyat, ternyata takluk dan tak betaji ketika berhadapan dengan ‘kepentingan’ asing.

Baca juga  Prabowo Maju Capres, PBB Bentuk Poros Ketiga

Masuknya 49 TKA ilegal yang dikonfirmasi oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) adalah bukti tertindasnya kedaulatan rakyat. Tidak hanya secara ekonomi, tapi juga tertindas akibat keresahan penularan pandemi corona yang dibawa oleh para TKA asal negeri tirai bambu di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pemerintahan hari ini sebagai sebuah produk demokrasi perlu mendapat evaluasi. Sejatinya sebuah produk demokrasi tidak hanya berasal dari adu keras suara dan janji semata. Perlu diukur visi dan rasionalitas misi dalam penerapannya. Semoga kedepan tidak ada lagi pemimpin bak ‘macan ompong’ dalam kehidupan demokrasi kita, keras ketika di luar pemerintahan, tapi mengkerut ketika berada di dalam.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here