KPK Tak Bertaji Harun Masiku Masih Sembunyi, Kok Ganti Nilai Religiusitas Dengan Sinergi

0
harun-masiku
Harun Masiku di Bandara Soekarno Hatta, kembali dari Singapura mengamankan diri.

KPK yang dibentuk sebagai lembaga pemberantasan korupsi di era reformasi. Kini tidak lagi bertaji. Alih alih mampu membongkar korupsi saat ini. Karena Harun Masiku, KPK seperti kehilangan nyali. Apalagi yang dihadapi rezim suka umbar janji, tanpa bukti.

Selain kinerja OTT tidak menjadi andalan kini. KPK malah mendapat sanjung dan puji. Tidak tanggung, bahwa KPK sukses mengurangi korupsi. Dan itu muncul dari beberapa politisi. Tidak akademisi, apalagi praktisi anti korupsi.

Apalagi wakil ulama, dari MUI. Menyatakan kecewa digantikan nilai religiusitas dengan sinergi. Ini berdasakan keputusan Dewan Pengawas (Dewas) Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan ini menjadi kode etik pimpinan KPK kini.

Seharusnya KPK saat ini, meningkatkan kinerja membabat korupsi disegala lini. Menangkap Harun Masiku, baru mengadili. Bukan gelar sidang demi bela diri. Kasus telah dilimpahkan tanpa tersangka diadili.

Apalagi, kasus Jiwasraya kejahatan besar korporasi. KPK tidak ikut menyelidiki. Karena menyangkut rezim yang ubah KPK menjadi kurang gizi. Dari awal memiliki spirit religi, memberantas korupsi. Kini malah sinergi, menjadi identitas baru, katanya hasil diskusi dari para ahli.

Tapi belum menjadi bukti. Sinergi Dewas KPK dan Pimpinan KPK bisa membuka tempat sembunyi, Harun Masiku tetap jadi misteri. Berbagai dalih hadir membela diri. Mulai mencari 10 tempat indikasi tempat bersembunyi. Sampai ikut libatkan Polri. Tapi masih belum bertaji.

Nilai religiusitas itu dianggap mati. Tidak diperkuat lagi, demi sikat korupsi di rezim beribu janji, tanpa kuat menunjukkan bukti.

Sinergi menjadi mantra bersembunyi. Disaat masyarakat sudah mulai mawas diri. Menolak Jokowi, tanpa prestasi. Hanya kaget dengan gagal penuh janji, seperti tol laut dan udara yang tidak disigi.

KPK pun kini sibuk berbenah diri, merombak organisasi. Memasukkan sinergi, demi arahan Dewas yang melupakan Pancasila sebagai falsafah negeri. Terutama pasal 29 ayat 1 UUD 1945 yang sisusun oleh pendiri negeri.

Baca juga  Orator "Solidaritas untuk Muslim India" : Jokowi Diam Ketika Muslim Uighur, India, Rohingya Dibantai

Maknanya, para pihak mesti kuliti kembali, KPK bukan demi negeri. Tapi demi bela politisi, dilindungi, dari penguasa partai yang bertaji, mengangkat Jokowi menjadi Presiden senang janji.

KPK kini, dipersepsi melindungi Harun Masiku sampai kini, tetap bersembunyi, tanpa tahu mesti mencari disudut negeri bersembunyi. Dan kini sibuk membahas sinergi sebagai nilai baru tanpa mesti menunjukkan bukti.

Bahwa KPK kembali bertaji.

Oleh: Nizam Hasanuddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here