Pak Jokowi, Sosial Distancing Tidak Efektif Jika Pelindung Diri Terbatas

0

Pemerintah Indonesia belum memutuskan untuk mengambil langkah menutup wilayah (lockdown) hingga hari ini. Sementara Negara yang terdampak virus corona lebih dulu seperti Malaysia, Singapura telah menerapkan kebijakan lockdown guna memutus penyebaran wabah mematikan ini.

Ada dua alasan Presiden Jokowi belum melakukan lockdown. Pertama pemerintah tidak siap dengan anjloknya perekonomian tanah air. Kedua, memang masyarakat Indonesia tidak terbiasa untuk dispilin dengan penerapan lockdown. Hingga, pemerintah menganggap jalan menutup wilayah belum bisa diterapkan di Indonesia. Apa memang demikian?

Ditelisik lebih dalam, Indonesia sebenarnya hanya mencatatkan jumlah korban yang bisa dibilang sangat rendah dibanding total populasi. Dari 69 kasus positif, tiga meninggal dunia sesuai catatan Kementerian Kesehatan pada Jumat (13/3).

Dibandingkan dengan Inggris misalnya, yang populasinya hampir 65 juta, kasus positifnya sudah 609, hampir 10 kali jumlah kasus positif Indonesia. Bahkan Belgia yang warganya hanya 11,4 juta, jumlah kasus positifnya sudah tercatat 556 kasus. Pemerintah baru sebatas bekerja dalam arti sangat dangkal.

Takutnya, dengan belum memilih langkah menutup wilayah sebarannya semakin meluas. Dengan cara sosial distancing hanya sebatas pemutus sementara wabah ini. Tapi tidak bersifat permanen. Bisa jadi setelah dicabutnya jarak sosial selama 14 hari ini, wabah ini kembali menyerang manusia. Berbeda dengan lockdown. Di mana rantai penyebarannya benar-benar lenyap. Karena tidak adanya manusia yang terjangkit dibiarkan berkeliaran di luar sana.

Negara asalnya wabah ini muncul, Wuhan Cina bisa benar-benar lepas dari virus corona karena pemerintahnya cepat dan begitu tanggap menerapkan pembatasan wilayah. Pendatang atau penduduk dilarang berkeliaran di luar rumah. Toko hingga kantor benar-benar diliburkan. Sampai-sampai kota Wuhan diibaratkan sebagai kota mati alias tidak berpenduduk untuk beberapa bulan. Alhasil, Cina benar-benar bebas dari wabah ini.

Baca juga  Pesawat Kepresidenan, Dulu SBY Dikritik Dan Jokowi Kini Malah Tambah ‘Koleksi’

Demikian dengan Italia, Denmark, Norwegia dan Filipina. Melakukan kebijakan lockdown hingga hari ini. Hasilnya sudah tampak. Perlahan wabah ini meninggalkan Negara ini meski beberapa orang yang terdampak positive masih dikarantina.

Kelemahan lainya dari pemerintah Indonesia karena belum mampu menyediakan alat medis mumpuni khusus menangani wabah seperti ini. Kinerja dari tim medis seperti Dokter dan perawat dibuat kewalahan karena keterbatasan alat dalam memulihkan pasien yang terjangkit. Hal ini tidak lain disebabkan sejak Presiden menyampaikan wabah ini masuk ke Indonesia pada awal Maret lalu, kesiapan Menteri Kesehatan dianggap lambat. Malah virus ini dianggap sepele atau tidak berbahaya. Malah beberapa Menteri sempat berguyon akan virus ini.

Baru sebatas deteksi. Ya, karena deteksi satu-satunya cara mengetahui seseorang terinfeksi corona atau tidak. Baru sebatas itu. Hingga angka yang didapat dari total penyebarannya terbatas. Lama-kelamaan angka tersebut berubah dengan cepat. Melonjak hingga pemerintah pusat melempar permasalah ini ke daerah-daerah. Jumlah kematian bertambah atas kasus ini. Terakhir yang jadi korban seorang dokter yang menangani pasien terjangkit positive. Seorang guru besar di UGM pun harus menghadap sang pencipta karena keganasan virus ini. Apa harus menunggu jumlah orang meninggal terus bertambah baru akan dilaksanakan lockdown?

 

Oleh Putri Andam Dewi

Masyarakat Demokrasi Madani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here