Pandemi Corona dan Sekjen PDIP yang Kebanyakan Bacot

0
hasto kristiyanto

PDIP turut menanggapi surat World Health Organization (WHO) yang dikirim untuk Presiden Jokowi. Surat itu berisi desakan agar Pemerintah Indonesia serius menangani pandemi virus corona.

WHO juga meminta Jokowi segera menetapkan status darurat nasional terkait wabah virus corona di Indonesia. Di samping itu, sudah banyak desakan agar pemerintah melakukan kebijakan lockdown atau upaya isolasi terhadap wilayah yang diwaspadai sebagai lokasi penyebaran virus corona.

Alih-alih mengindahkan, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto malah menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara berdaulat yang tidak bisa ditekan dan didikte pihak manapun. Kita ini negara berdaulat. Kita negara yang tidak bisa disetir-setir. Kita yang tahu di dalam negeri kita. Begitu kira-kira katanya.

Hasto bahkan menyatakan bahwa bangsa dan rakyat Indonesia hidup berada di garis khatulistiwa. Indonesia punya tradisi hidup yang bagus, dan bahan-bahan obat-obatan tradisional. Karena itu, rakyat Indonesia sebenarnya punya sistem imunitas tubuh yang kuat.

Menurut saya narasi Hasto ini lebay dan tidak menjawab persoalan. Apa pula kaitan antara rekomendasi WHO dengan soal kedaulatan bangsa? Sebagai badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional merupakan kewajiban WHO untuk mengingatkan pemerintah negara-negara di dunia terkait penyebaran wabah corona.

Hasto seakan-akan buta dengan situasi dan kondisi pademik virus corona yang melanda dunia. Hingga Senin (16/3/2020) siang, jumlah kasus infeksi virus corona Covid-19 di dunia telah mencapai 169.387. Dari jumlah tersebut, 6.513 di antaranya meninggal dunia.

Banyak negara yang kini menetapkan darurat nasional corona. Beberapa negara yang sudah menetapkan di antaranya adalah Victoria, Serbia, Spanyol, Kazakhstan, Hungaria, dan Italia. Bahkan Presiden AS Donald Trump juga mendeklarasikan status darurat nasional atas virus corona ini.

Baca juga  WHO “Bantah” Pernyataan Luhut Kalau Corona Tak Kuat Panas-Lembap

Pertanyaannya: apakah manajemen penanganan wabah corona di Indonesia lebih baik dari Amerika Serikat? Saya pikir jawabannya tidak! Bahkan pemerintah terkesan tidak becus.

Silakan runut ke belakang. Mula-mula pemerintah jumawa, mengklaim bahwa Indonesia bebas corona. Lantas tiba-tiba, ditemukan dua kasus di Depok pada tanggal 6 Maret 2020. Dalam jangka waktu 10 hari, jumlahnya melonjak menjadi 134 orang. Lima orang diantaranya tewas. Bahkan setingkat Menteri Perhubungan Budi Karya pun terjangkit virus corona.

Belum lagi soal informasi penanganan wabah corona yang kabur, silang-menyilang, hingga berbagai hoaks yang membikin publik panik dan stres. Sementara itu, 135 pintu masuk ke Indonesia belum dilockdown. Bahkan TKA dari Cina masih bisa masuk ke Indonesia seperti kejadian di Bandara Haluoleo, Sulawesi Tenggara kemarin.

Soal jamu itu juga mengesankan Hasto Kristiyanto telah menggampangkan soal virus corona. Benar, Indonesia punya banyak jamu-jamuan, tetapi tidak lantas ini membuat daya tahan Indonesia mangkus melawan virus corona.

Tanpa bermaksud merendahkan Indonesia, izinkan saya bertanya: negara mana yang paling paten pengobatan herbalnya? Jawabannya pasti Cina dan Korea Selatan. Tapi, kita sama-sama paham pula kalau di negara inilah virus corona paling banyak menjangkiti orang.

Saya tidak ingin menyebut Hasto Kristiyanto sebagai sosok yang gede bacot. Saya berpikir bacot Hasto itu ditujukan untuk mendukung Presiden Jokowi yang kini menjadi bulan-bulanan publik. Hasto berperan sebagai “anjing penjaga” Jokowi.  makanya dia ngotor memainkan narasi bahwa ada pihak-pihak yang mencoba membesar-besarkan isu virus corona. Pendek kata, Hasto memandang isu corona dalam sudut pandang politis.

Masalahnya, ini bukan soal politik. Ini soal keselamatan warga negara. dan demi keselamatan warga negara, pemerintahan Indoensia harus berprinsip

Baca juga  Politisi PAN Nilai Jokowi Bisa Dikalahkan

Mestinya Hasto bisa lebih cerdas dari itu. Sebagai sekjen dari partai penguasa mestinya Hasto mendorong para anggota DPR dari Fraksi PDIP untuk mengawasi, mengusulkan dan memastikan penanganan virus corona oleh pemerintah bisa berlansung lebih tepat dan benar. Bahwa segala yang bisa dilakukan, telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyikapi pandemic corona. Bukan malah buang-buang bacot di media massa. Bukan malah meminta kader-kader PDUP untuk bagi-bagi jamu.

Alhasil, yang publik lihat cuma drama pertarungan antara Jokowi dengan Anies Baswedan; satu drama yang membuat publik muak. Seharusnya pemerintah bisa memadukan seluruh elemen bangsa untuk melawan virus corona, bukan malah bersikap sombong dan seolah-olah bisa bekerja sendiri. Sialnya, pemerintah gagap, ketinggalan dan bahkan gagal.

Oleh: Martha Hasibuan, penggiat media sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here