Parodi Istana: Kritik Vitamin Dan Energi Bagi Jokowi Untuk Kawal Omnibus Law

0
Pramono Anung
Menteri Sekretaris Negara Pramono Anung

Sekretaris Kabinet Pramono Anung tiba tiba bersuara atas kehilangan banyak sosok kritikus kebijakan Istana. Kritik tajam menghunjam. Kritik bersih mematikan parasit. Ocehan yang menyadarkan kebijan salah dan salah kelola kebijakan. Demonstrasi yang membelokkan kebijakan lebih berpihak ke pada rakyat dari pada investor dan koruptor.

Pernyataan ini muncul dari punggawa lingkaran dalam Istana. Cuap kritik menjadi vitamin. Presiden Jokowi adalah presiden tidak baperan kalau dikritik. Malah kalau dikritik itu menjadi energinya Presiden.

Apakah ini benar? Beberapa fakta malah berbicara lain. Kritik malah menjadi racun. Ocehan berubah menjadi senjata. Demonstrasi menjadi awal pegekangan aspirasi mahasiswa dan penangkapan. Dan dalih tetap sama berbeda masa, konteks dan korban saja.

Rombongan kritikus Istana sebelumnya, seperti Fadli Zon dari Gerindra sudah tak kuat. Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mulai kurang bergema. Dan beberapa lainnya memilih untuk merubah cara. Sebab, telah terbukti kritikan tidak menjadi vitamin bagi keberpihakan kebijakan istana bagi rakyat.

Seperti kritik dan penolakan terhadap kenaikan iuran BPJS. Bukan menjadi vitamin untuk rakyat, tapi menjadi energi bagi punggawa istana. Memberlakukan kenaikan dengan sepenuh hati.

Termasuk demonstrasi besar dan penolakan massif diberlakukan UU KPK baru. Sebab, nyata perlakuan UU KPK ini lembek terhadap garong uang rakyat. Dan malah mengorbankan generasi pelajar lutfi sebagai pelaku dan korban oleh aparat kepolisian.

Istana dan pendukung rezim yang terdiri dari kalangan berduit besar, telah menang secara politik. Memiliki kekuatan politik berupa dukungan sebesar 74 persen dari partai koalisi di DPR RI. Mampu melakukan akselerasi kebijakan yang menguntungkan koalisi, membuntungkan rakyat.

Inilah yang menjadi vitamin dan energi bagi Jokowi dan lingkaran Istana. Vitamin yang menguatkan RUU Omnibus Law dan memberi waktu seratus hari. Menjadi kisah sukses kedua untuk tidak baper.

Baca juga  Pihak Istana Bocorkan Alasan Jokowi Pilih PSBB Dibanding Lockdown

Sedangkan organisasi buruh berbagai elemen, koalisi masyarakat sipil terdiri dari NGO dan LSM, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia tetap menyuarakan kritik dan penolakan dibahasnya RUU Cilaka.

Tentu ini tidak menjadi vitamin dan energi bagi Jokowi. Malah berubah menjadi virus pemakzulan. Seperti yang diramalkan oleh beberapa pengamat politik. Untuk mengingatkan bahwa kekuasaan itu tidak abadi dan bisa ambruk dengan sendirinya.

Punggawa Istana, berhentilah untuk membuat parodi. Apakah tidak cukup bahwa asupan kritik dan vitamin penolakan RUU Omnibus Law sebagai energi bagi Jokowi untuk membatalkan menarik RUU Cilaka yang menyengsarakan pembayar pajak dan rakyat.

Sebab, nyata pemerintah saat ini, melalui kebijakan beberapa kementerian lebih mensejahterakan investor dan pengusaha. Melalui kementerian perindustrian akan menolkan bea masuk barang industri. Memberikan diskon tarif listrik bagi industry. Sedangkan kementerian perdagangan akan membuka lebar pintu impor berupa garam, gula, bawang putih.

Dan ini lah parodi istana sesungguhnya. Kritikan menjadi vitamin dan energi untuk mentasbihkan NKRI menjadi Negara Kesatuan Ramah Investor ala rezim Jokowi.

Oleh: Edwardy Yahmud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here