Pemerintah Harus “Ngaku” Termakan Horror Kebijakan Lockdown

0
lockdown KPK

Terkait kebijakan pemerintah, sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo “Kebijakan ini tidak boleh diambil oleh pemerintah daerah dan sampai saat ini tidak ada kita berpikiran kearah kebijakan Lockdown, Bogor, 16 Maret 2020.”

Kemudian, pemerintah memutuskan untuk menerapkan system Social Distancing, yaitu dengan mengurangi mobilitas masyarakat dari satu tempat ketempat lain, menjaga jarak, dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko besar kepada penyebaran Covid-19.

Kebijakan Social Distancing itu disampaikan Presiden dengan kalimat “yang penting bisa mengurangi tingkat kerumunan, mengurangi antrian, dan mengurangi tingkat kepadatan orang di dalam moda transfortasi tersebut sehingga kita bisa menjaga jarak satu dan yang lainnya.”

Sebelumnya kebijakan Sosial Distancing yang serupa juga pernah dilakukan oleh beberpa negara. Seperti di negara Korea Selatan. Namun, negara ini memiliki kekuatan ekonomi dan teknologi yang kuat. Selain itu budaya warga negaranya juga sudah mendukung agar warga bisa menerima kebijakan Social Distanting.

Korea Selatan, hampir 20.000 orang menjalani tes Covid-19 setiap harinya. Proses dan hasil tes pun tidak terlalu lama, karena pemerintah Korea Selatan juga menerapkan system Drive-Through. Warga bisa lebih tenang menghadapi Covid-19 karena mengetahui apakah hasilnya positif atau negative dengan segera. Selain itu para staf laboratorium juga bekerja bergiliran selama 24 jam. Jadi, jika ada warga yang ingin mengetahui apakah sudah terkena atau belum Covid-19 maka para staf bisa melayani warga tersebut.

Hal yang juga perlu dicontoh dari “Negeri Ginseng” ini yaitu, masyarakatnya sudah terbiasa hidup disiplin dan taat dengan aturan, jadi system Social Distancing memang cocok di terapkan disana. Selain itu, para pemimpin Korea Selatan juga tidak membiarkan warganya dalam keadaan tertekan dan stress dalam menghadapi Covid-19.

Baca juga  Walikota Sorong Tetap Menerapkan Lockdown

Sayangnya, sejak diterapkan sistem Social Distancing ini di Indonesia, ternyata masyarakat tidak menyerap pemahaman Social Distancing dengan cepat.

Selain itu, Social Distancing di Indonesia tidak begitu efektif karena warga negaranya masih tergolong santai menghadapi Covid-19 yang sangat mematikan ini. Orang Indonesia itu bersifat dinamis dan tidak bisa hidup secara “terstruktur” seperti di Korea Selatan. Misalnya saja, ketika berada di dalam angkutan umum, terkadang orang-orang saling berinteraksi dan berdesak-desakan karena situasi dan kondusi keramaian. Kenal atau tidak kenal sebelumnya, jika sudah terdesak, tetap saja orang tersebut “berkerumunan.” Meskipun dari pemerintah sudah berkali-kali memberikan pemberitahuan agar menghindari keramaian.

Sebab itu, didalam situasi yang sangat genting ini, maka seorang pemimpin yang tegaslah yang sangat dibutuhkan. Kebijakan Social Distancing sudah harus ditingkatkan menjadi Lockdown. Hari ini saja, negara sudah kehilangan “nyawa” 369 orang (pukul 8:57 WIB, 21 Maret 2020 (https://www.covid19.go.id/)) akibat Covid-19.

Perlu dipahami juga, kebijakan Lockdown memang sedikit keras. Karena dari istilah Lockdown itu sendiri mengandung makna, mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu derah maupun negara. Dampaknya jika kebijakan Lockdown dilakukan, maka semua fasiltas public juga harus ditutup dan proses perekonomi akan menurun. Meskipun keras, tetapi tujuannya juga sangat mulya sekali, yaitu agar Covid-19 tidak menyebar lebih jauh.

Selain itu, pemerintah juga bisa mensiasati kebijakan Lockdown dengan anjuran saling bergotong-royong, saling membantu atau membuat aturan subsidi silang bagi masyarakat. Dimana masyarakat yang kelebihan logistic atau kebutuhan lainnya agar membantu masyarakat yang kebetulan kekurangan. Selain itu pemerintah juga bisa memberikan bantuan langsung kebutuhan rumah tangga seperti, beras, minyak goreng dan gas LPG. Tidak usah banyak-banyak, cukup kebutuhan yang mendasar saja.

Baca juga  Covid-19, Wali Kota Tegal: Terapkan Lockdown Lokal dan Harap Masyarakat Memahami

Dengan system seperti itu, kekhawatiran ekonomi terhadap system Lockdown pun bisa diatasi. Dan penyelesaian-penanganan Covid-19 juga akan segera diselesaikan.

 

Dajon Gunawan: Pejuang Demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here