Presiden Terjebak Sosial Distancing dan Physical distancing

0
Persiapan RS Darurat Wisma Atlet
Persiapan RS Darurat Wisma Atlet

Kebijakan yang dibuat pemerintah seolah-olah belum membantu mengurangi penyebaran virus corona atau Covid-19. Terkesan bertele-tele. Tidak banyak mengurangi jumlah terjangkitnya virus ini di tanah air.

Hari ini Presiden Jokowi memberlakukan pembatasan sosial skala besar (PSSB) demi memerangi penyebaran virus asal Wuhan, Cina tersebut. Kebijakan darurat sipil pun diberlakukan.

Dengan harapan diberlakukannya Physical distancing jumlah yang terjangkit tidak bertambah. Sebelumnya sosial distancing sudah dilakukan, nyatanya jumlah yang terjangkit masih saja bertambah.

Apa efektif jika PSSB diberlakukan untuk saat ini? Ditelisik dari Undang-undang Nomor 6 tahun 2018, Istilah PSSB diatur dalam pasal 15 beleid tentang Kekarantinaan Kesehatan. PSSB merupakan salah satu tindakan kekerantinaan kesehatan yang dilakukan terhadap alat angkut, orang, barang, dan lingkungan.

Sedangkan pasal 59 PSSB bertujuan mencegah meluaskan penyebarn penyakit yang terjadi antarorang di sebuah wilayah. Kebijakan PSSB sedikitnya meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

Jika pemberlakukan PSSB ini didampingi dengan status daruruat sipil sendiri tentu tidak singkron. Di mana diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) nomor 23 tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya. Dalam pasal 3 beleid tersebut disebutkan bahwa keadaan darurat sipil tetap ditangani oleh pejabat sipil yang ditetapkan presiden, dengan dibantu oleh TNI/Polri.

Dengan demikian, pemberlakuan lockdown lebih efektif dibanding pemberlakuan darurat sipil. Toh sudah terlihat dari sejak diberlakukannya sosial descanting tidak mengurangi jumlah terjangkit virus.

Persoalannya bukanlah terletak kepada kebijakan seperti apa, tapi apa kebijakan tersebut bisa memutuskan serta melenyapkan virus epidemic global tersebut dalam waktu dekat? Tentu tidak bisa bukan! Rakyat hingga hari ini dibiarkan dalam kecemasan dan ketidakpastian selama empat pekan terakhir.

Baca juga  Baru Tahu Jenderal Soedirman Meninggal karena TBC, Netizen Singgung Kebiasaan Jokowi Baca Komik

Oleh karenanya, kecepatan pengambilan keputusan yang tanggap darurat sangat dibutuhkan saat ini. Sudah benar apa yang dikatakan oleh ahli virus dan pengamat yang menyatakan lockdown total merupakan satu-satunya cara memutus rantai penyebaran. Bukan sosial descanting.

Hal ini dikarenakan masyarakat masih awam dengan penerapan ini tanpa ketegasan dari pihak pemerintah. Logika gampangnya, masyarakat hanya ingin Negara harus mengumumkan secara gamblang, aksesibel, dan akuntabel mengenai seluruh rencana penanggulangan Covid-19. Sampai kapan tanah air akan terus diteror oleh virus mematikan ini.

 

Oleh,  Putri Andam Dewi

Pegiat Masyarakat Madani Demokrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here