Salam Siku dan Saling Sikut Terkait Penanganan Corona

0
corona

Setelah sebelumnya jajaran menteri Jokowi-Amin mengkampanyekan ‘Jangan Takut Corona’ melalui TikTok, kini pemerintah kembali mengangkat tren salam siku (elbow bump greeting). Menteri Kabinet Jokowi dalam beberapa kesempatan telah menerapkan salam ini. Beberapa diantaranya seperti yang ditunjukkan Menteri BUMN Erick Thohir saat bertemu Kepala BNPB Doni Monardo di Stasiun Gambir, Menkeu Sri Mulyani saat berjumpa Jusuf Kalla yang hendak menemui Wakil Presiden Ma’ruf Amin, hingga pengakuan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang telah menerapkan salam siku tersebut.

Diketahui, tren ini muncul setelah sejumlah pejabat tinggi dunia menyoroti potensi penularan virus corona (Covid-19) yang kini telah ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai pandemi dan bisa menular melalui jabat tangan. Akan tetapi, salam yang tengah tren ini justru tidak direkomendasikan WHO. Ketimbang salam siku, Direktur Jenderal WHO justru menilai salam hand on a heart atau salam ‘tangan di hati’ lebih baik.

Di balik ‘gimmick’ pemerintah dalam menenangkan rakyat terkait corona, saling sikut antar jajaran pemerintah justru membuat rakyat menjadi resah. Misalnya, seperti saat Gubernur DKI mengeluarkan Instruksi Gubernur terkait virus corona. Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto saat itu langsung membantah pernyataan Anies Baswedan soal corona.

Kejamnya lagi, protokoler Pemprov DKI dalam mengantisipasi penyebaran corona justru dianggap beberapa pihak yang bersebrangan sebagai bentuk ‘cari panggung’. Lucunya, sehari setelah Menkes berbeda pendapat dengan Ingub tersebut, Presiden Jokowi justru mengumumkan dua orang warga negara Indonesia teridentifikasi positif corona.

Dampaknya, trust publik terhadap pemerintah pusat akhirnya luntur. Hal itu dibuktikan dengan panic buying yang dilakukan masyarakat, sekalipun, pemerintah saat itu menghimbau masyarakat untuk tidak panik.

Baca juga  Anies Kandidat Cawapres Prabowo, Rizieq Tersingkir

Kini, kebijakan menunda perhelatan Formula E pun dianggap lagu ‘basi’. Menko Polhukam menduga penundaan itu karena takut merugi. Padahal substansi penundaan itu sendiri adalah untuk melindungi warga negara. Lagi-lagi, upaya melindungi marwah pemerintah pusat yang kalah cepat daripada pemerintah daerah mendapat cibiran publik.

Kontestasi politik 2024 masih jauh. Sementara itu, ancaman wabah virus corona yang telah menjadi pandemi global sudah di depan mata. Jadi, usahlah ribut siapa dapat apa dari penanganan wabah corona. Jangan gadaikan kesehatan bahkan nyawa rakyat Indonesia demi ambisi dukung atau menjungkalkan siapa di 2024. Mari untuk tidak saling sikut untuk sementara waktu. Minimal menjelang kita bisa memastikan kesehatan rakyat Indonesia terbebas dari pandemi corona.

Jika seandainya pemerintah pusat merasa buntu dalam menangani penyakit menular ini, tak ada salahnya mengadopsi langkah-langkah yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi yang aktif. Atau, pemerintah juga bisa belajar dari pengalaman presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam mengatasi wabah flu burung. Tak usah malu dan tak usah gengsi.

Kini saatnya adalah pemerintah hadir di tengah keresahan publik. Rasa malu dan gengsi justru akan membuat pemerintah semakin lamban mengayomi rakyatnya. Apalagi jika terus-terusan saling sikut karena melindungi syahwat politik kelompok tertentu.

Santi Marie Adriani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here