Tak Banyak Memberikan Input Penanganan Corona, Stafsus Milenial Jokowi ‘Unfaedah’

0
stafsus

Di tengah wabah corona baru atau Covid-19, publik mempertanyakan peran dari Staf Khusus (Stafsus) ‘Milenial’ Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertanyaan sederhana ini muncul karena publik tidak ingin stafsus yang digaji dengan uang rakyat itu hanya memakan gaji buta. Diketahui, tujuh muda-mudi yang diangkat menjadi stafsus Jokowi ini ‘disawer’ per bulannya sebesar Rp 51 Juta.

Sebelumnya, Jokowi menggadang-gadang stafsus milenial ini mempunyai latar belakang pendidikan dan kiprah seperti entrepreneur, sociopreneur, dan edupreneur. Diharapkan, tujuh stafsus milenial ini bisa membantu Jokowi lima tahun mendatang dengan mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang, sehingga bisa mencari cara-cara baru, cara-cara out-of-the-box.

Tapi apa yang ditangkap publik di saat wabah corona merebak tidak seperti apa yang digadang-gadang dan diharapkan Jokowi. Alih-alih menunjukkan keahliannya di bidang social entrepreneur untuk membantu menenangkan masyarakat dengan cara yang out-of-the-box, stafsus Jokowi ini justru terlihat ‘social stutter’ alias gagap sosial. Ketimbang memberikan sumbangsih konten edukatif penanganan corona untuk masyarakat atau kelompok milenial agar tidak ikut-ikutan melakukan panic buying, stafsus milenial ini justru menambah beban Jokowi atas kontroversi yang dimunculkannya.

Contohnya seperti yang ditunjukkan salah satu Stafsus Presiden, Angkie Yudistia yang menyampaikan cara mendeteksi corona dalam waktu 10 detik dengan cara menarik napas di akun Instagramnya @angkie.yudistia. Publik pun mengecam aksi Angkie yang tidak mempunyai landasan atau dasar penelitian dan dianggap hoax oleh masyarakat.

Sebenarnya, dengan keberadaan anak-anak milenial di lingkaran Jokowi yang identik dengan kreatifitasnya, hal ini bisa menjadi cara baru dan tak kaku bagi pemerintah untuk meredam kepanikan publik. Seperti kita ketahui, jumlah pengguna media sosial mobile (gadget) di Indonesia mencapai 130 Juta. Dan audience dengan rentang umur 18-34 tahun adalah pengguna paling banyak dibandingkan rentang umur lainnya. Data ini harusnya menjadi bahan pertimbangan stafsus milenial untuk meneruskan informasi edukatif kepada para milenial. Sayang hal ini tidak terlaksana dengan baik.

Baca juga  Jokowi Buka Peluang Gandeng JK, Prabowo, Hingga AHY

Kegagalan ‘seven hero’ Jokowi dalam membuktikan kapasitasnya, kembali membangkitkan memoar publik dimasa-masa awal petugas partai PDIP ini mengumumkan para pembantu khususnya. Publik menganggap, penunjukan 7 orang stafsus milenial ini tak lebih dan tak kurang hanya sebatas cara Jokowi untuk menyamarkan lingkaran oligarkinya. Karena baik di kabinet maupun lingkaran lainnya, Jokowi mengingkari janjinya untuk melakukan efesiensi di pemerintahan keduanya.

Di tengah semakin bertambahnya korban suspect corona, bertambah luasnya area terdampak dan semakin bertambahnya pagu anggaran yang dibutuhkan untuk penanganan corona, ada baiknya Jokowi mempertimbangkan langkah efesiensi yang salah satunya ‘memulangkan’ para stafsus milenial tersebut. Ini bukan hanya sebatas seberapa besar nilai pengurangan anggaran dari pemulangan 7 stafsus milenial tersebut, tapi lebih kepada moral hazard yang mesti ditunjukkan oleh pemerintah di tengah sebuah wabah dan di sisi lain tidak efektif serta efesiennya para pembantunya.

Syintia Mariska, Pegiat Konten Kreatif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here