Tanda Ketidakbecusan Presiden Menangani Virus Corona

0
jokowi dan moeldoko
Presiden Jokowi meminta Kepala Daerah Konsultasi ke BNPB untuk menentukan status daerah terkait Virus Corona

Penyebaran virus corona terus merambah ke beberapa wilayah Indonesia belakangan ini. Korbanya terus bertambah dari hari ke hari. Tercatat hampir 172 orang terjangkit wabah ini. Sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 5 orang. Pemerintah dianggap lambat dan menyepelakan wabah virus mematikan ini.

Buktinya, pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi baru sebatas memberikan informasi mengenai puncak penyebaran virus corona ke publik.

Tentu kita masih ingat, di saat Presiden Jokowi memberikan tugas kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan. BIN ditugaskan menyelidiki penyebaran virus corona paska diumumkannya virus ini sudah menjangkit di tanah air pada awal Maret lalu. Tentu bertujuan agar virus mematikan ini tidak meluas ke tengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan pantauan BIN virus ini terus berkembang dan BIN memprediksi puncak penyebaran terjadi pada bulan Mei 2020 atau bertepatan dengan bulan Ramadan.

Namun prediksi ini diragukan oleh masyarakat. Terlebih Lembaga Biologi Molekuler Eijkman karena beberapa alasan.

BIN dianggap tidak bekerja berdasar kepada teknologi pengenalan (recognation). Tetapi hanya sebatas penggalian informasi serta pantauan di lapangan saja. Karena memang bukan tupoksinya lembaga Budi Gunawan cs dalam menangani permasalahan ini.

Eijkman meragukan prediksi BIN tentu sangat beralasan. Di mana penyebaran virus bisa dilihat dari beberapa faktor. Bisa melalui pengalaman migrasi virus serta data penyebaran virus di masyarakat.

BIN dalam hal ini dirasa tidak berkompeten dalam menyelidiki penyebaran virus mematikan tersebut. Pasalnya, instansi yang dikomandoi Budi Gunawan ini tidak didasari dari prediksi pendukung. Selain itu BIN bertugas hanya berdasar pantauan dilapangan tanpa memperhatikan teknologi yang ada.

Seketika publikpun bereaksi. Banyak anggapan pemerintah tidak serius dalam menyelesaikan permasalahan memutus penyebaran virus corona. Dianggap sepele dan tidak berbahaya.

Baca juga  Pemerintah Terapkan PSBB Tapi Tetap Perbolehkan Mudik, Pengamat: Kebijakan Jangan Plintat-Plintut

Jika kita lihat atas peristiwa yang ada pada Negara-negara yang terjangkit, pemerintahnya sangat siap melakukan kebijakan-kebijakan memutus penyebaran virus tersebut dengan metode lockdown. Tidak demikian dengan Presiden Jokowi. Presiden selaku pemimpin Negara masih mendebatkan hal-hal kecil atau masalah teknis dengan bawahannya.

Jika berkaca dari Negara yang terjangkit virus ini tentu masyarakat membutuhkan kebijakan professional dari sang Presiden. Bisa dengan cara metode statiscal dan mathematical guna mendapatkan prediksi penyebaran virus corona di tanah air.

Selain itu, persiapan pemerintah ikut dipertanyakan publik. Dari infrastruktur hingga anggaran kesehatan di saat masyarakat menderita virus ini apa yang akan dilakukan oleh Negara dalam arti di sini yaitu pemerintah?

Bisa dengan menyiapkan sebanyak-banyaknya rumah sakit rujukan untuk menangani pasien positif atau suspect korona. Atau membuat kebijakan langkah- langkah untuk memperlambat penyebaran virus korona dengan menerapkan metode Lockdown yang dilakukan oleh Italia, Spanyol dan Filipina.

 

Oleh, Jhon  Travolta

Pemerhati Sosial Politik Dalam Negeri 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here