Tanpa Perpres Virus Corona, Rezim ‘Sah’ Ciptakan Kepanikan Dan Mis Management Crisis

0
Pasar Pramuka
Masyarakat Menyerbu pasar pramuka untuk membeli masker dan anti septik.

Gagap dan tidak siap memitigasi dampak virus corona. Itulah kesan publik membaca rentetan ucapan, kebijakan dan contoh yang diperlihatkan oleh lingkaran istana negara.

Rakyat diminta untuk tidak panik. Tetap melakukan akativitas sebagai mana biasanya. Tanpa ada penjelesan utuh, rinci untuk mencegah tidak terpapar virus corona. Tahapan memitigasi diri dan keluarga. Dan informasi RS rujukan jika terindikasi terkena setelah berinteraksi dari warga yang berasal dari daerah positif corona.

Namun, pihak istana tidak melakukan tahapan management crisis dan mempersiapkan infrastruktur pendukung. Malah dengan terang benderang mengungkap pihak istana lebih panik dan kehilangan kendali kebijakan. Contoh terbuka saat ini dengan menggunakan sensor panas tubuh bila ingin memasuki Istana Negara.

Sebelumnya, bila dirunut kebelakang, semenjak Wuhan menjadi kota mati akibat wabah corona. Secara bersama-sama rezim, tidak mempersiapkan diri. Mulai dari komunikasi publik sebagai bagian dari edukasi. Penyebaran informasi dan mempersiapkan manajemen krisis jika ada warga Indonesia terpapar virus corona.

Malah, yang dilakukan mengekpos kisah sukses secara besar-besaran tindakan karantina di Natuna. Tanpa mempersiapkan tahapan memantau dan pengawasan lalu lintas masuk wisatawan melalui pintu bandara berbagai bandara, pelabuhan dengan peralatan cukup dan memadai.

Perkembangan kasus demi kasus terus bergerak lintas negara. Sampai dengan Perdana Menteri Australia menyentil dengan keraguan bahwa Indonesia nol virus corona. Dan dijawab dengan enteng oleh Menteri Kesehatan tidak ikut pusing dengan keraguan orang lain.

Selanjutnya, Menkopolhukam Mahfud MD ikut serta dalam peyangkalan Indonesia aman dari suspek virus corona. Disampaikan sehari menjelang Jokowi menyatakan dua orang warga depok positif suspect covid-19.

Rakyat mengambil kesimpulan penyangkalan demi penyangkalan, bagian dari awal drama ketidakmampuan rezim menghadapi kejadian luar bisa (KLB). Namun, secara fakta dan data rakyat memiliki kemampuan untuk mencari bagaimana negara tetangga lebih siap dan sigap memitigasi dampak virus corona.

Baca juga  Skenario Membidik Sandi, Pengulangan Strategi Pengembosan Sylvi

Akhirnya rakyat memiliki cara sendiri dan riuh rendah dengan segala keterbatasan. Melahirkan banyak asumsi dan banjir informasi dari berbagai otoritas tidak relevan. Apalagi disinyalir ada beberapa hal coba untuk disembunyikan dari keingintahuan publik.

Belajar dengan kasus era Pemerintahan SBY, tentang mitigasi virus SARS dan wabah flu burung. Ada kesigapan dan solusi terukur. Bagaimana mempersiapkan kebijakan penanganan dan persiapan mengurangi dampak resiko. Mengimbau dan menginformasikan langkah terukur, solusi dan informasi yang cukup.

Semestinya, Presiden Jokowi dan jajaran menteri terkait bekerja lebih cermat dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Prespres) terkait penanganan KLB virus corona (Covid-19). Sebab negara tetangga, seperti Vietnam, Singapura, Jepang, Iran dan lainya lebih dahulu menerapkan kebijakan yang melindungi rakyatnya dan mempersiapkan infrastruktur.

Jika rezim saat ini, lebih sibuk dengan komunikasi serampangan dan tidak menerapkan manajemen krisis. Sudah pasti, rakyat kehilangan rasa aman dan melakukan aksi kepanikan, seperti memborong masker, sanitizer, bahan-bahan pokok. Akibatnya muncul kepanikan baru dan aksi jahat ambil untung bagi pengusaha nakal.

Dan nyata sudah pemerintah tidak hanya gagap, tapi gagal dari kebijakan manajemen krisis dan komunikasi publik. Dan memilih sikap abai, mis management crisis, dengan tidak menerbitkan Peraturan Presiden sebagai solusi utuh dan terukur.

Dan itu menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia tidak serius dalam menghadapi virus corona, melindungi rakyat Indonesia. Dan malah sibuk melindungi uang masuk dan takut mengeluarkan uang APBN dari pajak rakyat dan kekayaan Indonesia.

Jangan sampai, nasi telah menjadi bubur, hangus lagi.

Oleh: Prama Sutisno, Mahasiswa Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here